Yamaha Mio S

Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya Dilema Terapkan Perda Trantibum

  Rabu, 06 Februari 2019   Irpan Wahab Muslim
Sejumlah sepeda motor parkir di atas trotoar kawasan Pasar Singaparna, Rabu (6/2/2019). (Irpan Wahab Muslim/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM--Kabid Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP–Damkar) Dindin menuturkan, pihaknya kebingungan menerapkan Peraturan Daerah nomor 3 tahun 2014 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum. Penerapan Perda dinilai sulit dilaksanakan di wilayah Ibukota Kabupaten Tasikamlaya yakni Kecamatan Singaparna.

Hasilnya, kata Didin, fasilitas public yang seharusnya digunakan untuk kenyamanan banyak orang beralih fungsi menjadi lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Parkir liat kendaraan. Hal ini diakui Dindin terjadi di Taman Singaparna dan Trotoar di depan Pasar Singaparna. Kondisi ini membuat wilayah Singaparna terkesan kurang tertata rapi.

AYO BACA : Minimnya Lahan Parkir Picu Parkir Liar di Singaparna

“Kami juga beberapa kali melakukan penertiban PKL di taman Singparna, bahkan kami juga kunci gerbang taman tetapi ya kembali ke kebutuhan hidup akhirnya PKL masuk dan berjualan disitu. Kami disatu harus menegakan aturan, tetapi disisi lain juga berbenturan dengan urusan nafkah orang,” kata Dindin melalui sambungan telepon, Rabu (6/2/2019) siang.

Saat ini, lanjut Dindin, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk menyikapi permasalahan di wilayah Singaparna terutama terkait Parkir liar dan PKL. Tetapi hasil kordinasi belum menemukan solusi terbaik yang tidak merugikan salah satu pihak.

AYO BACA : Ibu Kota Kabupaten Tasik Kurang Penataan

“Kordinasi sudah kita lakukan, tetapi tadi, kita tidak ingin menerapkan aturan tetapi justru merugikan orang lain. Kita masih mencari solusi terbaik. Dan memang solusi itu hanya pemindahan Pasar dan terminal, dan itu pun jangka panjang,” tambah Dindin.

Sementara itu, Supriatna (33) salah satu PKL yang berjualan di taman Singaparna menuturkan, ia bukan tidak tahu aturan tentang larangan berjualan di taman. Tetapi karena desakan ekonomi serta tidak adanya lahan yang refresentatif memaksa dirinya dan PKL lainnya berjualan di taman Singaparna.

“Sekarang kami harus dimana berjualan, pernah ditempatan di area terminal tapi kami sepi pembeli. Paling ramai ya disini, kami juga lakukan ini untuk makan anak istri dirumah,” kata Supriatna.

AYO BACA : Kabupaten Tasik Minim Traffic Light

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar