Yamaha Aerox

KPU Tekan Pragmatisme Pemilu di Masyarakat

  Jumat, 22 Maret 2019   Irpan Wahab Muslim
Ilustrasi pemilu. (Satrio/Ayo Media Network)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Ketua KPU Kabupaten Tasikmalaya Zamzam Jamaludin mengakui pihaknya tidak menutup mata dengan adanya pragmatisme dalam masyarakat menjelang berlangsungnya pesta demokrasi. Sebagian masyarakat ada yang berfikir pendek dengan menerima sesuatu dari peserta pemilu tanpa berfikir panjang untuk 5 tahun kedepan.

Menurutnya, menghapus sikap pragmatis bukan hanya tanggung jawab penyelenggara pemilu, tetapi juga membutuhkan peran aktif dari partai politik (parpol) dalam memberikan pembelajaran politik yang baik.

Zamzam menambahkan, KPU sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan sikap pragmatis di masyarakat. Salah satunya dengan membentuk Relawan Demokrasi (Relasi) dan seringnya sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat.

"Tugas Relasi itu di dalamnya menyadarkan dan mengajak masyarakat untuk datang ke TPS untuk menyalurkan hak pilih tanpa adanya tekanan atau dorongan karena sudah mendapatkan sesuatu misalnya. Tapi datang atas kesadaran diri dan nuraninya memilih pemimpin dan wakilnya, " papar Zamzam, Kamis (2173/2019).

Peran parpol menurut Zamzam juga sangat penting untuk menekan tingkat pragmatisme ini. Dalam sosialisasi, parpol harus menyadarkan masyarakat tentang berpolitik yang baik. Ia menegaskan, parpol jangan hanya mengajak masyarakat untuk memilih partainya saja, tetapi juga mengingatkan masyarakat untuk berani menolak politik uang.

"Jadi parpol juga di sini berperan besar, dengan memberikan pembelajaran politik yang baik dengan tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan, " tambah Zamzam.

Sementara itu, Komisoner Panwaslu Bidang Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga, Ahmad Aziz  Firdaus mengatakan penting untuk melakukan ikhtiar demi perubahan kesadaran perilaku pemilih. Ikhtiar dilakukan imulai dengan responsif atas kebutuhan masyarakat dengan kebijakan keberpihakan pembangunan yang progresif, tidak hanya sekedar ukuran kuantitas tetapi juga kualitas.

"Caleg atau pemimpin hasil dari pemilu itu harus respon terhadap keinginan dan kebutuhan masyarakat, harus hadir di masyarakat. Nantinya pragmatisme itu hilang setelah kepuasan terhadap kinerja wakil dan pemimpin itu muncul dari masyarakat, " kata Aziz.

Dari kesadaran partisipatif perilaku pemilih itu, lanjut Aziz, di antara harapannya adalah melahirkan keterlibatan pemilih pada semua tahapan proses pemilu menjadi sebuah budaya. Selain tumbuhnya budaya menolak politik uang, budaya mencegah pelanggaran pemilu, budaya melaporkan atas kecurangan pemilu yang terjadi, budaya mengecek DPS/DPT, juga ada budaya hadir ke TPS sebagai kebutuhan pribadi tiap pemilih.

"Goal-nya adalah tingkat partisipasi akan terus meningkat, baik secara kuantitas dan kualitas serta kehadiran pemilih di TPS menjadi budaya, " jelasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar