A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: recent

    Filename: metamorph/header-mainmenu.php

    Line Number: 241

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: metamorph/header-mainmenu.php

    Line Number: 241

  
Yamaha NMax

Catatan Perjalanan Cintawana, Salah Satu Pesantren Tertua di Tasikmalaya

  Kamis, 09 Mei 2019   Irpan Wahab Muslim
Pesantren Cintawana. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM–Tasikmalaya terkenal dengan kota seribu pesantren. Hampir di tiap desa atau kelurahan terdapat pesantren, baik pesantren salafiah atau pesantren modern. Salah satu pesantren paling tua di Tasikmalaya yakni pesantren Cintawana berada di desa Cikunten, Kecamatan Singaparna. Pesantren yang berada persis di pinggir jalan provinsi ini berdiri sejak 12 April 1917.

Adalah KH Muhammad Toha pendiri pondok pesantren Cintawana. Berdasarkan penuturun dari keluarga Pesantren Cintawana, Toha merupakan keturunan IX Syekh Abdul Muhyi yang merupakan wali penyebar agama Islam di Tasikmalaya.

Sebelum mendirikan pesantren Cintawana, Toha yang lahir tahun 1812 mendirikan pesantren Cipansor di Desa Buniasih, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.

Namun, akibat desakan pemerintah Belanda, Toha hijrah ke wilayah Singaparna dan mendirikan Pesantren Cintawana atas bantuan Lurah Desa Cikunten pada saat itu.

“Beliau itu wafat tahun 1945, kemudian diteruskan oleh putra sulungnya yakni KH Ali sampai beliau wafat juga tahun 1948,“ papar Pengasuh Pesantren Cintawana KH Asep Sujai Farid, Kamis (9/5/2019).

Pesantren Cintawana Masa Orde Lama

Setelah Toha wafat, sejak 1948 hingga 1958 sistem pesantren menitikberatkan pada kegiatan majelis taklim. Hal itu lantaran santri dan pengasuhnya ikut terjun dalam kancah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka tergabung dalam barisan sabilillah dan hizbulloh.

Bahkan, pada masa mempertahankan kemerdekaan, Pesantren Cintawana dijadikan markas perjuangan TNI menghadapi kekuatan Belanda.

Setelah masa penjajahan berakhir atau sekitar tahun 1958, tampuk kepemimpinan pesantren Cintawana diteruskan oleh putra ketiga Toha yaitu KH Ishak Farid yang merupakan lulusan pesantren Gunung Puyuh.

Di masa kepemimpinan Ishak, Pesantren Cintawana banyak mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, kemasyarakatan, dan sarana prasarana pesantren.

Pesantren Cintawana Masa Orde Baru

Perkembangan Pesantren Cintawana semakin pesat. Pihak pesantren medirikan pendidikan formal yakni tingkat SMP pada tahun 1965 sedangkan pada 1970 didirikan sekolah formal tingkat SLTA.

“Pada waktu itu keduanya menggunakan kurikulum dari pemerintah. Dan pertama kali ada pesantren kilat itu di sini pada tahun 1968 pada bulan Ramadan,“ papar Asep Sujai.

Selain aktif dalam bidang pengembangan pendidikan Islam, lanjut Asep Sujai, Ishak Farid juga tercatat sebagai anggota DPRD Jawa Barat selama 8 tahun.

Ishak Farid wafat pada 1987 di usia 63 tahun. Setelah itu, kepemimpinan Pesantren Cintawana dipegang oleh adik kandungnya, KH Onang Zaenal Muttaqin, dibantu oleh keluarga di antaranya KH Adang Sofyan, KH Aep Saepulloh, KH A. Rosidin, dan KH Asep Sujai.

“Pada masa KH Onang berdiri taman kanak-kanak, TKA, TPA, TQA, SMK, dan pengembangan fisik serta sarana prasarana pesantren seperti asrama putra dan putri. Alhamdulilah saat ini saja murid atau santri di kami mencapai 2000-an lebih,“ papar Asep Sujai.

Dalam perjalananya, Pesantren Cintawana mempunyai ciri khas keilmuan. Pesantren ini memprioritaskan pengajaran tafsir Alquran. Berbeda dengan pesantren lainnya yang lebih kepada ilmu alat atau nahu.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar