A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: recent

    Filename: metamorph/header-mainmenu.php

    Line Number: 241

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: metamorph/header-mainmenu.php

    Line Number: 241

  
Yamaha NMax

Halitosis yang Merepotkan

  Rabu, 15 Mei 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi Halitosis

JAKARTA, AYOTASIK.COM--Masyarakat Amerika menghabiskan dana sebesar 1-3 miliar dolar AS setiap tahun untuk konsumsi permen karet, permen mint, dan penyegar napas karena problematika halitosis.

Halitosis berasal dari istilah Latin halitus (napas) dan akhiran Yunani kuno osis (proses atau perubahan patologis), yang berarti napas bau. Masyarakat awam menyebut halitosis sebagai bau mulut atau mulut berbau.

Di dunia kedokteran, halitosis memiliki banyak sinonim. Misalnya bad breath, bad mouth odor, fetor ex-ore, fetor oris, foetor oris, mouth odor, oral malodor.

Halitosis memengaruhi sekitar 50-65 persen populasi di seluruh dunia. Sedikit berbeda, Xinyu Wu, dkk (2018) mengungkap bahwa sekitar 15 persen hingga 93 persen populasi penduduk dunia pernah mengalami halitosis.

Pada populasi umum, prevalensi halitosis memang beragam. Di Amerika Serikat sekitar 50 persen, di China sekitar 6-23 persen, di India berkisar dari 21,7 persen pada pria hingga 35,3 persen pada perempuan.

Di Swedia, hasil penelitian dari 840 pria, halitosis hanya dijumpai di sekitar 2 persen populasi. Studi di China yang melibatkan lebih dari 2500 partisipan berhasil menemukan prevalensi halitosis di atas 27,5 persen. Di Belanda, halitosis merupakan salah satu dari seratus penyebab stres manusia.

Pada anak-anak, prevalensi halitosis dilaporkan 5-75 persen. Insiden halitosis meningkat seiring bertambahnya usia. Meskipun demikian, halitosis dapat dialami siapapun dan usia berapapun.

Penyebab Halitosis

Halitosis dibentuk oleh pelbagai molekul yang mudah menguap (volatil) dikarenakan alasan patologis atau nonpatologis. Hal itu berasal dari sumber mulut (oral) atau di luar mulut (non-oral).

Persenyawaan volatil tersebut berupa persenyawaan sulfur volatil (misalnya hidrogen sulfide, metil merkaptan, dimetil sulfida), amin dan persenyawaan aromatik volatil (berupa: indol, skatol, piridin, pikolin, urea, amonia, metilamin, dimetilamin, trimetilamin, putrescine, kadaverin), asam lemak rantai pendek/medium atau asam organik (contohnya: asam propionat, asam butirat, asam asetat, asam valerat, asam isovalerat, asam esanoat), alkohol (seperti: metanol, etanol, propanol), persenyawaan alifatik volatil (misal: siklopropan, siklobutan, pentan), aldehid dan keton (berupa: asetaldehid, aseton, benzofenon, asetofenon).

Persenyawaan belerang yang mudah menguap (VSC) bertanggung jawab atas terjadinya halitosis intra-oral (di dalam rongga mulut). Jenis VSC lain, yakni dimetil sulfida bertanggung jawab atas kejadian halitosis ekstra-oral atau halitosis yang diperantarai melalui aliran pembuluh darah, namun dapat sebagai penyebab bau mulut.

Halitosis dapat disebabkan oleh beragam faktor oral, yakni kondisi dari dalam rongga mulut.

Misalnya, kebersihan rongga mulut yang kurang terjaga, pengaruh makanan tertentu, kantung periodontal, gingivitis ulseratif nekrotisasi akut, periodontitis agresif pada dewasa, perikoronitis (radang jaringan lunak di sekitar mahkota gigi yang erupsi), penyakit Vincent, nyeri gigi pascapencabutan gigi dewasa (dry socket), bibir atau mulut kering (xerostomia), sariawan atau luka di membran mukosa dari rongga mulut (oral ulceration), keganasan di mulut (berupa kanker atau tumor), restorasi defektif, gigi palsu atau gigi tiruan yang tidak terawat.

Beberapa penyebab esktraoral halitosis telah teridentifikasi. Patologi gastrointestinal merupakan penyebab ekstraoral tersering. Strain Helicobacter pylori bertanggung jawab atas produksi VSC. Arjan Pol dkk (2017) berhasil menemukan mutasi pada Selenium-binding protein 1 (SELENBP1) sebagai penyebab halitosis ekstraoral.

Gangguan metabolisme atau sistem organ juga menyebabkan halitosis. Penyebab sistemik halitosis, misalnya: demam akut, infeksi Helicobacter pylori, infeksi saluran pernapasan bagian atas, kegagalan organ (gagal ginjal, gagal hati), haid atau menstruasi, leukemia, penyakit refluks gastroesofagus (GERD), divertikulum faringoesofagus, stenosis pilorik atau obstruksi duodenum, diabetik ketoasidosis, trimetilaminuria, hipermetioninaemia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar