Yamaha Aerox

Menelusuri Jejak Kerajaan Galunggung dari Prasasti Geger Hanjuang

  Jumat, 19 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Prasasti Geger Hanjuang

LEUWISARI, AYOTASIK COM--Prasasti Geger Hanjuang di Desa Linggamulya Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya dianggap sebagai bukti otentik dari adanya Kerajaan Galunggung. Prasasti berupa batu hitam bertuliskan Sunda itu ditemukan K.F Holle pada tahun 1877 dan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Dari berbagai literatur, Prasasti Geger Hanjuang erat kaitannya dengan keberadaa Kerajaan Galunggung pada zaman dulu. Namun sejarah keterkaitan itu tidak diketahui oleh warga sekitar Prasasti Geger Hanjuang.  "Upami saur cerita sepuh mah, eta batu ayana teh dina balong warga (kalau menurut cerita, batu itu ada di kolam warga). Tah balong eta teh aya di luhureun prasasti anu disimpen ayeuna (kolam itu ada di atas prasasti yang disimpan sekarang)," papar Hamid yang rumahnya berjarak kurang dari  100 meter dari Prasasti Geger Hanjuang, Jumat (19/4/2019). Hal itu berbeda dengan hasil riset dan penelitian Sejarawan Tasikmalaya Muhajir Salam. Muhajir menganggap, Prasasti Geger Hanjuang merupakan bukti otentik Kerajaan Galunggung. Sebelum berubah menjadi kerajaan, Galunggung merupakan kebataraan yakni zaman Batari Hyang. "Jadi pada zaman Batari Hyang itu ada perubahan bentuk, dari kebataraan menjadi kerajaan terjadj pada 1013 Saka atau 1111 Masehi," paparnya. Prasasti Geger Hanjung yang mempunyai ukuran tinggi 80 centimeter dan lebar 60 meter itu berisi bahasa Sunda Kuno yang berbunyi "Tra ba i guna apuy na sta gomati sakakala ru mata k disusu(k) ku batari hyang pun." Artinya pada tahun1033 (Saka) (ibukota) Ruma tak diperkuat (pertahanannya) oleh Batari Hyang. Muhajir menilai, Batari Hyang memperkuat benteng pertahanan di ibu kota Kerajaan Galunggung, yaitu Rumantak, yang dilakukan pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi. Memperkuat pertahanan tersebut dengan cara membuat parit (nyusuk atau marigi). Pembuatan parit, lanjut Muhajir, lazim dilakukan oleh penguasa kerajaan di tatar Sunda dengan tujuan memperkuat pertahanan. Terlepas ada atau tidaknya ancaman pada kerajaan. Pembuatan parit atau parigi itu juga sebagai tanda adanya pemerintahan baru setelah penobatan raja dilakukan. Pembuatan parit itu, sama seperti yang dilakukan Sri Baduga pada tahun 1482. Pembuatan parit dilakukan kembali setelah sebelumnya dilakukan oleh Rakesan Banga pada tahun 739 Masehi. Hal itu karena luas wilayah Pakuan sudah lebih luas dari parit sebelumnya. Sebelum berbentuk kerajaan, Galunggung berbentuk apa? Muhajir menambahkan, sebelum perubahan menjadi kerajaan pada zaman Batari Hyang, Galunggung merupakan kabuyutan yang dipimpin oleh yang dipimpin resiguru atau batara. Kabuyutan merupakan tempat kegiatan keagamaan pada masa pengaruh kebudayaan Hindu. Tempat para pendeta memberikan pelajaran agama kepada murid-murid mereka, mendoakan keselamatan dan kesejahteraan raja dan negara, serta menulis ajaran agama dan pengetahuan lainnya. Keberadaan kabuyutan memiliki kehidupan penting dalam kehidupan bernegara sehingga raja yang berhasil melindunginya dipandang terhormat. Sedangkan bila kabuyutan direbut musuh, rajanya dipandang rendah martabatnya, lebih rendah nilainya daripada kulit musang. Hal itu, kata Muhajir, dibuktikan dengan petikan dari amanat Galunggung, "Asing iya nu meunangkeun kabuyutan na Galunggung, iya sakti tapa, iya jaya prang, iya heubeul nyéwana, iya bagya na drabya sakatiwatiwana, iya ta supagi katinggalan rama-resi. Lamun miprangkeuna kabuyutan na Galunggung, a(n)tuk na kabuyutan, awak urang na kabuyutan, nu leuwih diparaspadé, pahi deung na Galunggung, jaga beunangna kabuyutan ku Jawa, ku Baluk, ku Cina, ku Lampung, ku sakalian, muliyana kulit lasun di jaryan, madan na rajaputra, antukna boning ku sakalaih." Artinya siapa pun yang dapat menguasai Kabuyutan di Galunggung, ia akan memperoleh kesaktian dalam tapanya, ia akan unggul perang, ia akan lama berjaya, ia akan mendapat kebahagiaan dari kekayaan secara turun-temurun, yaitu bila sewaktu-waktu kelak ditinggalkan oleh para rama dan para resi. Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung, pergilah ke kabuyutan, bertahanlah kita di kabuyutan. Apa-apa yang lebih dirapikan, semua dengan yang di Galunggung. Cegahlah terkuasainya kabuyutan oleh Jawa, oleh Baluk, oleh Cina, oleh Lampung, oleh yang lainnya. Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain.” "Dari kutipan amanat Galunggung itu, terlihat bagaimana Galunggung berposisi sebagai kabuyutan tempat keramat atau tempat suci pada masa itu," pungkas Muhajir.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar