Yamaha Aerox

Kisah Ma Eroh, Perempuan Pejuang Lingkungan Hidup

  Rabu, 24 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Maesaroh, Anak ketiga Ma Eroh menunjukan foto Ma Eroh. (Irpan Wahab Muslim/Ayotasik.com)

CISAYONG, AYOTASIK.COM--Tahun 1988, Tasikmalaya dibuat bangga oleh sosok yang sering dipanggil Ma Eroh, warga Pasir Kadu Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong. Ma Eroh dipanggil ke Istana Negara bertemu Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan di bidang Lingkungan Hidup yakni Kalpataru.

Penghargaan Kalpataru diberikan kepada ibu tiga orang anak itu lantaran kegigihannya membelah bukit curam di lereng Gunung Galunggung untuk menyalurkan air ke persawahan di kampungnya. Meski awalnya mendapatkan cibiran dari warga, namun perjuangannya membuahkan hasil manis.

Ayotasik.com pun mencoba menelusuri jejak perjuangan Ma Eroh dengan menyambangi rumah bercat biru di Kampung Pasir Kadu Desa Santanamekar. Rumah yang dulu dihuni oleh Ma Eroh dan suaminya Encu serta ketiga anaknya ini tampak sederhana. Kedatangan Ayotasik.com disambut hangat penghuni rumah yakni Maesaroh (40) yang merupakan anak ke tiga Ma Eroh.

Kepada Ayotasik.com, Maesaroh menceritakan perjuangan Ma Eroh membuka saluran air untuk mengairi area persawahan di kampung Pasir Kadu. Ma Eroh saat itu menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya Encu sering sakit sakitan. Guna memenuhi kebutuhan keluarga, Ma Eroh sering masuk dan keluar hutan di lereng Gunung Galunggung mencari Supa atau Jamur.

\"Supa itu dijual ke Tetangga untuk biaya hidup sehari hari. Ma Eroh juga berkebun karena waktu harita sawah kering saatosna Galunggung meletus,\" papar Maesaroh, Rabu (24/4/2019).

Dalam perjalannya mencari Supa atau Jamur di hutan lereng Galunggung, Ma Eroh menemukan sumber air Pasir Lutung. Adanya sumber air itu membuat Ma Eroh berfikir membuat saluran air menuju kampung Pasir Kadu sejauh 5 Km agar area persawahan bisa ditanami Padi. 

\"Biasanya keluar pagi tara bawa linggis sareng pacul, pas ditaros ku pun raka Ma Eroh nyaurkeun bade ngadamel saluran cai. Saemut abi mah mulaina teh saatosna Galunggung bitu, tahun 1983 pami teu lepat mah,\" tambah Maesaroh. 

Berbekal linggis, cangkul serta perkakas tradisonal lainnya, Ma Eroh memulai membelah tebing curam lereng Galunggung. Aksi nekat Ma Eroh awalnya mendapatkan cibiran warga. Ma Eroh yang seorang perempuan berusia 45 tahun itu bahkan dianggap gila karena membuat saluran air di Lereng Galunggung yang curam.

AYO BACA : Dinas LH Dorong Kesadaran Masyarakat Mengelola Sampah

\"Pernah ada yang nyebut anu gelo. Tapi Ma Eroh mah tara dijawab, tetap we kitu dilakonan naon anu dicita citakeun,\" ungkap Maesaroh.

Penilaian masyarakat berubah sekitika saat saluran air yang dibuat Ma Eroh sudah mendakati pemukiman warga. Sejak saat itu, warga akhirnya bergotong royong membantu Ma Eroh membuat saluran air hingga akhirnya dalam waktu dua bulan air sudah masuk area persawahan warga. 

Air yang disalurkan Ma Eroh dari sumber air Pasir Lutung itu, lanjut Maesaroh, bahkan mengairi area persawahan di Desa Santanamekar, Desa Indrajaya Kecamatan Cisayong dan sebagian Desa Sinagar Kecamatan Sukaratu. 

Kerja keras dan jerih payang Ma Eroh membuka Saluran air sejauh 5 Km itu pun diganjar penghargaan bidang Lingkungan Hidup dari Presiden Soeharto tahun 1988.

Saluran Air Ma Eroh Terbengkalai Tidak Terawat

Dengan dibantu Maesaroh, anak ketiga Ma Eroh Ayotasik.com mencoba menelusuri saluran air yang dibuat Ma Eroh. Perjalanan dimulai dari saluran air berukuran kurang dari satu meter yang berada di pemukiman warga. Sejauh kaki melangkah, diperjalanan hanya disuguhkan keheningan dan curamnya medan. 

Jalan setapak tanah merah pun terasa lengket karena pada Rabu (24/4/2019) pagi, Desa Santanamekar diguyur hujan cukup lebat. Perjuangan menyusuri saluran air yang dibuat Ma Eroh pun semakin berat dengan adanya kabut. Setelah cukup jauh masuk ke bukit lereng Galunggung, Ayotasik.com diingatkan untuk kembali lagi oleh Maesaroh karena kondisi medan yang cukup sulit dan hujan gerimis sudah mulai turun.

\"Jang langkung sae urng uih deui, bahaya ieu tos gerimis jaba laleueur. Bilih janten bahaya,\" kata Maesaroh di tengah perjalanan.

AYO BACA : DLH Kabupaten Tasik Masih Pelajari Ekosistem Karts Bukit Lenang

Namun dari penelusuran singkat itu, ditemukan beberapa longsoran tanah yang menggerus saluran air. Sehingga air tidak sampai ke Pemukiman warga. Hal itu pula diakui Maesaroh. Air yang mengalir dari Pasir Lutung tidak sampai ke Pasir Kadu. Karena banyaknya saluran air yang tertimbun tanah longsor maupun saluran air yang terbawa longsor.

\"Tos teu aya we ayeuna mah, dina ayana oge cai na kur saalit,\" tambah Maesaroh.

Perawatan saluran air yang dibuat oleh Ma Eros, kata Maesaroh justru terbengkalai sepeninggal Ma Eroh pada tahun 2004 lalu. Pada waktu Ma Eros masih ada, ada gerakan pembersihan saluran air setiap satu bulan dua kali.

\"Saatosna teu aya Ma Eroh mah kitu we diarantep. Warga oge kantos ngusulkan masang pipa paralon tapi teu kantos aya bantosan di Desa,\" papar Maesaroh.

Selain peninggalan Ma Eros berupa saluran air yang tidak terawat, keluarga Ma Eros yang sudah mengharumkan nama Tasikmalaya juga luput dari perhatian pemerintah. Setelah Ma Eros meninggal, keluarga tidak pernah ada lagi undangan maupun bantuan dari pemerintah. 

\"Alhamdulilah teu aya bantosan nanaon kanggo abi sareng keluarga mah, batur mah kabagean kartu sehat, abi mah henteu. Aya bantuan PKH tapi kamari we nembe satahun panginten,\" keluh Maesaroh.

Pemdes Sudah Upayakan Perbaikan Saluran Ma Eroh

Atas kondisi saluran Ma Eroh yang tidak terawat dengan baik, Kepala Desa Santanamekar Kecamatan Cisayong Ade Saefudin mengatakan pihaknya dari tahun ke tahun tidak tinggal diam melihat kondisi rusaknya saluran air peninggalan Ma Eroh. 

Pihaknya sudah meminta bantuan kepada Pemerintah daerag untuk melakukan perbaikan dan pipanisasi. Dari informasi yang diterima, perbaikan akan dilakukan pada tahun 2020 mendatang.

\"Kalau dari anggaran Desa tidak mungkin, karena biayanya besar. Medan juga sangat sulit. Jadi kita upayakan ke Pemerintah daerah. Alhamdulilah katanya tahun 2020 nanti diperbaiki,\" pungkas Ade.

Ade menambahkan, salayaknya pemerintah daerah cepat turun tangan dengan kondisi saluran air yang dibuat oleh Ma Eroh. Bukan hanya menghargai jerih payah Ma Eroh, perbaikan juga dibutuhkan karena salura air itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

AYO BACA : Penanganan Sampah di Kab Tasik Belum Maksimal

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar