Yamaha Mio S

PPDB Dinilai Menyulitkan, Orang Tua Pilih Daftarkan Anak ke Pesantren

  Rabu, 19 Juni 2019   Irpan Wahab Muslim
Salah satu pesantren di Tasik.(Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SUKARAME, AYOTASIK.COM--Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi yang banyak dikeluhkan baik dari sistem maupun teknis penerimaan, membuat sebagian masyarakat lebih memilih memasukan anak mereka ke lembaga pendidikan pesantren. 

Hal ini dilihat dari membludaknya penerimaan santri baru di sejumlah pesantren, salah satunya di Pesantren Nurul Wafa Gunung Hideung Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya. Mereka datang dari berbagai daerah di Tasikmalaya dan Jawa Barat.

Salah satu pengasuh pontren Nurul Wafa Zamzam Zulfikri Nur mengatakan, setiap tahun rata-rata peserta santri baru yang mendaftar berjumlah 800 hingga 900 orang. Kebanyakan, mereka memilih fokus mondok di pesantren. 

"Ada juga yang sekolah, kita juga disini ada Sekolah tingkat SMA. Tapi kebanyakan ada juga yang mondok saja," papar Zamzam, Rabu (19/6/2019).

Zamzam menambahkan, setiap tahun ajaran baru, peserta didik yang mendaftar ke Pesantren Nurul Wafa terus bertambah. Bukan hanya dari wilayah Tasikmalaya, pendaftar juga ada dari luar daerah seperti Garut, Ciamis, dan Bandung.

"Kalau yang jauh, kebanyakan itu mondok di pesantren sambil sekolah. Kalau secara jumlah tiap tahun terus bertambah," ungkap Zamzam.

Salah stu orang tua yang memilih mendaftarkan anak mereka ke Pesantren yakni Komusudin (48) warga Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya. Komusudin mengatakan, dengan PPDB sistem zonasi membuat ia kesulitan. Terlebih dengan adanya sistem pendaftaran online.

Komusudin menambahkan, dengan pendaftaran ke pesantren, tidak diperlukan adanya zonasi atau pendaftaran online lainnya dan pendaftaran lebih mudah.

"Selain PPDB yang menyulitkan, saya ingin anak bisa tahu ajaran agama dan umum. Jadi seimbang, ini juga kemauan anak karena inginnya masuk ke SMA Negeri 1 Singaparna tapi tidak bisa karena zonasi tadi," ungkap Komusudin.

Selain Komusudin, hal yang sama dilakukan oleh Teten Zaenal Mutakin (38) warga Kabupaten Garut. Ia memilih memasukan anaknya ke Pesantren agar pembelajaran antara agama dan umum seimbang.

"Sengaja saya tawarkan masuk pesantren, apalagi disini juga kan ada SMA nya. Jadi mondok sekalian sekolah," pungkas Teten.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar