Nyiru, Kerajinan Warga Salawu Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

  Kamis, 15 Juli 2021   Handy Dannu Wijaya
Nyiru, Kerajinan Warga Salawu Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SALAWU, AYOTASIK.COM -- Bagi warga Jawa Barat, Nyiru biasanya digunakan untuk menjemur makanan. Nyiru terbuat dari bambu yang dianyam berbentuk bulat. Di Desa Jahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi sentra pembuatan nyiru (alat untuk menapi/menjemur). Konon, keterampilan warga menganyam bambu menjadi nyiru sudah turun temurun sejak zaman kolonial.

Redaksi Ayotasik.com mencoba menelusuri lokasi pembuatan nyiru di desa Jahiang, Salawu pada 14 Juli 2021. Dalam penelusuran itu, Ayotasik.com menemui Maesaroh (57). Perempuan setengah baya ini menuturkan, sudah membuat nyiru sejak usia 15 tahun. Keahlian pembuatan nyiru ia dapatkan dari orang tuanya. Disela aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, ia membuat nyiru.

"Pami dulu mah satu hari biasa ngadamel 15 siki. Tapi ayeuna tos sepuh kieu mah paling kiat oge dugika 5 siki (Kalau dulu sehari bisa membuat 15 buah, sekarang sudah tua paling lima buah)" papar Maesaroh kepada tim redaksi.

Maesaroh menambahkan, kerajinan anyaman bambu merupakan mata pencaharian ke dua setelah pertanian. Di sela bertani, warga membuat nyiru. Biasanya, pembuat nyiru didominasi oleh ibu-ibu, sedangkan bapak-bapak mencari bambu swbagai bahan baku.

" (Ibu yang buat, bapak yang nyari bambunya. Itung-itung sambil duduk nambah penghasilan)" papar Maesaroh.

AYO BACA : Rekomendasi Fashion Muslimah Yang Cocok Kamu Gunakan Sehari-Hari

Ibu we anu ngadamel mah, si bapakna Pami tos di sawah milarian awi na. Ieu mah tambih teuing calik we nambih penghasilanDesa Jahiang merupakan sentra pembuatan nyiru di Tasikmalaya.

Hal ini diakui oleh tokoh masyarakat Desa Jahiang, Rohidin (70). Rohidin menuturkan, kreatifitas warga membuat nyiru sudah ada sejak zaman kolonial. Hampir di seluruh desa, masyarakat mengisi waktu luang setelah selesai bertani.

"Dari dulu ti zaman penjajahan Belanda. Sainget (seingat) saya mah, bapak saya juga dulu suka bikin nyiru. Tapi sekarang mah sudah sedikit karena kebanyakan fokusnya tani dan usaha," papar Rohidin.

Nyiru yang sudah selesai di buat, selanjutnya dijual kepada pengepul. Uniknya, warga menyimpan berbagai anyaman seperti boboko dan nyiru berbagai ukuran di pinggir jalan desa. Setiap pagi, pengepul membawa nyiru tersebut dan dijual ke beberapa pasar. Harga satu kodi (isi 20 buah) nyiru dijual kepada seorang pengepul dengan harga Rp200.000 ribu.

"Jadi disimpen we di sisi jalan, engke aya anu sok nyandakan. Tara dijual langsung ka warga, ka Pasar, tapi ka pengepul. Dibawana sakodi bukan satuan (Disimpan aja di pinggir jalan, nanti ada yang ngambil. Gak pernah dijual langsung ke warga, ke pasar, tapi ke pengepul. Dibawanya sekodi bukan satuan)" tambah Rohidin.

Namun sejak pandemi melanda banyak komoditas nyiru yang sulit terjual. Ini harusnya menjadi perhatian tokoh daerah setempat untuk membantu penjualan serta promosi. 

AYO BACA : Galeri Menong Purwakarta, Surga Oleh-Oleh Para Wisatawan

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar