Yamaha Aerox

Masalah Sampah Tasik, LH Minta Kerja Sama Tiap Pihak

  Rabu, 17 Juli 2019   Irpan Wahab
Tumpukan sampah terlihat di bilangan Jalan Raya Singaparna, Tasikmalaya, Rabu (17/7/2019). (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Kabid Pengelolaan Persampahan Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (LH) Aam Rahmat Selamet menuturkan, dalam penanganan dan pengeloaan sampah di Kabupaten Tasikmalaya membutuhkan kerjasama antar dinas, lembaga dan masyarakat secara luas.

Penanganan dan pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup (LH) karena dalam persoalan sampah ada tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan yakni pertambahan penduduk yang berakibat pada bertambahnya volume sampah, sarana prasarna yang memadai serta kesadaran masyarakat.

Berbicara soal jumlah sampah di Kabupaten Tasikmalaya, kata Aam, pihaknya mencatat dari total jumlah masyarakat Kabupaten Tasikmalaya yang berjumlah 1,8 juta penduduk, rata-rata menghasilkan 0.525 kilogram per orang. Dalam sehari, rata-rata jumlah volume sampah mencapai 945 ton per hari. Dari total jumlah itu, Dinas LH baru bisa mengangkut 89,5 kubik sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Jumlah sampah yang diangkut itu berasal dari 15 Kecamatan atau berada di tiga zona, yakni Zona Ciawi, sebagian Manonjaya dan Singaparna. Jumlah Armada yang diterjunkan hanya lima unit dum truck dan satu cadangan.

"Satu armada itu satu hari melakukan pengangutan tiga kali pada siang hari dibantu dengan motor yang berkeliling ditambah malm hari dilakukan pengangkutan juga. Ini faktaya dilapangan, kita terbatas soal sarana prasarana, " papar Aam yang ditemui Ayotasik.com diruangannya, Rabu (17/72019).

AYO BACA : Jelang Hari Jadi, Pekerjaan Rumah Tasik Numpuk

Komponen lainnya, yakni sarana prasarana. Saat ini armada yang dimiliki sangat terbatas yakni lima dum truk dan satu cadangan. Selain itu, lanjut Aam, petugas pengangkut sampah pun sangat kurang hanya berjumlah 45 orang.

Jika berbicara ideal, jumlah TPA dan armada pun sesuai dengan jumlah Kecamatan yang ada yakni 39 buah. Aam menginginkan, pihaknya membuka TPA di 39 Kecamatan agar sampah di lima zona dapat tertangani denngan baik.

"Tahun 2019 kita rencana membuka di Zona Karangnunggal dan Cikatomas. Baru sebatas FS saja. Kalau menambahan armada tahun ini ada tiga dum truk, satu kontainer dan beberapa motor sampah" kata Aam.

Namun dalam penanganan dan pengelolaan sampah, lanjut Aam, yang menjadi persoalan sulit yakni kesadaran masyarakat. Dimaran kesadaran masyarakat ini sangat penting dan berhubungan juga dengan lembaga, dinas dan element masyarakat.

Kesadaraan masyarakat tentang penanganan dan pengeloaan sampah sangat rendah. Masyarakat masih menilai, membuang sampah sembarangan dan tidak memilah sampah merupakan hal yang wajar dan lumrah dilakukan.

AYO BACA : Sampah Menumpuk, Tasikmalaya Tidak Lagi Resik

"Ini berkaitan dengan bagaimana Dinas lain ikut membantu dalam penanganan sampah, contohnya dari Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdataan Masyatakat, MUI serta ulama dimana saat berceramah terus menerus mengingatkan tentang pengeloaan sampah dan kebersihan, " papar Aam.

Dalam merubah pola fikir dan meningkatkan kesadaran masyarakat itu, Dinas LH menginginkan juga peran pemerintahan Desa. Bagaimana pengeloaan Dana Desa dimanfaatkan untuk pengolahan sampah. Seperti membentuk bank sampah dan TPS berbasis Reduce, Reuse dan Recycle (TPS3R).

" Yang paling sulit itu peningkatan kesadaran. Stateginya kita mendorong bagaimana desa adan dana desa pemanfaatannya untuk pengolahan sampah, tapi tidak sebatas bisnis tapi penyadaran masyarakat," tambah Aam.

Sementara upaya yang sudah dilakukan LH yakni mengadakan kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kementrian Agama membentuk sekolah berbudaya lingkungan. Cara ini akan membentuk karakter anak didik dalam pengeloaan sampah.

"Bagaimana cara ia mengelola lingkungan, mengurangi persampahan. Diharapkan kebiasaan yang di sekolah dibawa dan diterapkan di rumah, " ungkap Aam.

Aam mengharapkan, di tengah masyarakat juga menggalakkan kembali nilai gotong royong yang hilang di masyarakat. Seperti kembali menghidupkan Jumat Bersih (Jumsih) dilingkungan masing-masing. Selain itu, perusahan-perusahaan juga harus mempunyai atau menyediakan kontainer.

"Jadi kesadaran tentang pengeloaan sampah itu muncul di setiap lapisan masyarakat, " pungkas Aam.

AYO BACA : Dinas LH Dorong Kesadaran Masyarakat Mengelola Sampah

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar