Yamaha Aerox

Lipkhas Hari Jadi Tasikmalaya ke-387: Tasikmalaya Dalam Bingkai Sejarah

  Jumat, 26 Juli 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Suasana Sidang Paripurna Hari Jadi Tasikmalaya ke-387 di Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Pada abad ke-7 sampai abad ke-12 di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, terdapat suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung. Pemerintahan Kebataraan diisi oleh raja-raja yang berasal dari Kerajaan Galuh atau dengan kata lain raja baru dianggap sah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung.

Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa itu yakni Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan Galunggung diketahui berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang. Hal itu didasarkan pada penemuan Prasasti Geger Hanjuang di Des Linggawangi Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.

Prasasti Geger Hanjuang yang berada di Desa Linggamulya Kecamatan Leuwisari dianggap sebagai bukti otentik dari adanya Kerajaan Galunggung. Prasasti berupa batu hitam bertuliskan Sunda itu ditemukan K.F Holle pada tahun 1877. Prasasti Geger Hanjuang yang mempunyai ukuran tinggi 80 centimeter dan lebar 60 meter itu berisi bahasa Sunda kuno yang berbunyi "tra ba i guna apuy na sta gomati sakakala ru mata k disusu(k) ku batari hyang pun." Artinya pada tahun1033 (Saka) (ibukota) Ruma(n) tak diperkuat (pertahanannya) oleh Batari Hyang.

Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakandang Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada zaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Sejarah Tasikmalaya pada Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan ibu kota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa) yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran.

AYO BACA : Ini Pekerjaan Besar Pemkab Tasik di Hari Jadi ke-387 Tahun

Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sezaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sezaman dengan Prabu Surawisesa 1521-1535 M Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Dalam perkembangannya, pembentukan Kabupaten Tasikmalaya tidak terlepas dari piagam Sultan Agung Mataram. Piagam itu, terbit akibat dari penahanan Wedana Priangan Pengeran Dipati Rangga Gede oleh Mataram. Jabatan itu diberikan oleh Sultan Agung Mataram kepada Dipati ukur, namun dengan syarat harus merebut wilayah Batavia dari pasukan VOC.

"Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur membantu pasukan mataram untuk merebut Batavia. Tapi sekarang itu gagal, " papar peneliti sejarah Kabupaten Tasikmalaya Muhajir Salam, Jumat (26/7/2019).

Sadar atas kegagalan akan berbuah pada hukuman, Dipati Ukur dan pasukannya membangkang terhadap Mataram. Akhirnya, Sultan Agung Mataram meminta kepada beberapa penguasa priangan untuk mencari dan menangkap Dipati Ukur.

Atas prestasinya menangkap Dipati Ukur, Ki Wirawangsa yang merupakan penguasa Umbur Sukakerta sebagai bagian dari Kerajaan Mataram diangkat menjadi Bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha.

"Pengukuhan ki Wirawangsa juga dimaknai sebagai awal pembebasan Sukapura dari pengaruh Mataram karena dejak itu Bupati Sukapura dibebaskan dari kewajiban upeti, " tambah Muhajir.

AYO BACA : Soal Dugaan Oknum Tiket, Bupati: Tasik Motekar Gratis

Setelah pengangkatan Ki Wirawangsa sebagai Bupati, Ibukota Sukapura yang awalnya di Dayeuh Tengah yang sekarang masuk Kecamatan Salopa berpindah ke Leuwi loa atau Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja.

"Setelah Ki Wirawangsa atau Wiradadaha I yang berjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat, diganti oleh putranya Raden Jaya Manggala, " tambah Muhajir.

Periode Perpindahan Ibukota dari Sukaraja Ke Manonjaya

Perpindahan ibu kota dari Sukapura ke Manonjaya terjadi karena kekuasaan Sukapura cukup luas membentang dari sebagaian wilayah Kabupaten Garut hingga Kabupaten Pangandaran saat ini. Perpindahan itu terjadi pada kekuasaan Wiradadaha VIII. Setelah wafat, beliau digantikan oleh adiknya R.T Danuningrat dengan gelar Wiradadaha XI dan berhasil membangun Kota Manonjaya.

Ibu Kota Manonjaya itu berlangsung tiga periode kepemimpinan yakni Raden Rangga Wiradimanggala atau Bupati Sukapura X, Raden Wiraadegdaha atau Bupati Sukapura XI, dan R.T Wirahadiningrat atau Bupati Sukapura XII.

Pada periode pemerintahan Raden Rangga Wiratanuwangsa atau R.T Prawiraadiningrat atau Bupati Sukapura XII yang memerintah tahun 1901-1908, perpindahan ibu kota dari Manonjaya ke Tasikmalaya terjadi pada tanggal 1 Oktober 1901.

"Nama Kabupatenya tetap Sukapura, belum Tasikmalaya," ungkap Muhajir.

Sementara perubahan nama dari Kabupaten Sukapura menjadi Tasikmalaya saat pemerintahan di bawah pimpinan R.T Wiratanuningrat yakni tanggal 1 Januari 1913. Ia diangkat oleh Pemerintah Belanda menjadi Bupati Tasikmalaya pertama sesuai perubahan nama. Ia memimpin hingga tahun 1937.

AYO BACA : Pendopo Lama Kabupaten Rencana Dijadikan Museum Sejarah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar