Yamaha Aerox

Cigadog Jadi Sentra Kerajinan Bambu Sejak Zaman Kolonial

  Selasa, 13 Agustus 2019   Irpan Wahab
Sejumlah kerajinan bambu hasil olahan warga Desa Cigadok, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. (Irpan Wahab/ayotasik.com)

LEUWISARI, AYOTASIK.COM -- Desa Cigadog di Kecamatan Leuwisari, merupakan sentra kerajinan bambu di Tasikmalaya. Dari desa yang berada di lereng Galunggung itu, setidaknya muncul beberapa hasil kerajinan berbahan bambu seperti pipiti, sangkar burung, tampir, aseupan, boks hantaran, lampu hias, dan keranjang bunga.

Salah satu pegawai Kantor Desa Cigadog Dadang Taryana (46) menuturkan, Desa Cigadog merupakan desa penghasil kerajinan bambu paling banyak di Tasikmalaya. Hampir 65% warga menjadikan kerajinan bambu sebagai penghasilan tambahan disamping pertanian.

"Jadi warga itu mengerjakannya diparuh waktu saja, mata pencaharian utamanya itu pertanian. Tapi justru hasil kerajinannya yang muncul ke khalayak ramai, " papar Dadang saat ditemui ayotasik.com, Selasa (13/8/2019).

AYO BACA : Mengintip Perajin Sapu Ijuk di Gajah Barang, Barang Sudah Teruji Ekspor

Kerajinan bambu yang dihasilkan masyarakat Cigadog, lanjut Dadang, sudah ada sejak tahun 1940. Saat itu, banyak warga yang sudah mengirim hasil kerajinan bambu ke berbagai daerah seperti Bandung, Purwakarta, Sumedang. beserta daerah lain di Jawa Barat.

Keahlian warga dalam membuat kerajinan bambu didapatkan secara turun temurun. Warga yang masih menggeluti kerajinan bambu hingga sekarang, keahliannya didapat dari orang tuanya. Bisa dikatakan, Desa Cidagog sudah menjadi sentra kerajinan bambu sejak zaman kolonial.

"Tahun 1970-an itu banyak yang mengirim hasil kerajinan ke berbagai daerah. Mereka ngirim pipiti, aseupan, hihid bahkan hingga bilik," papar Dadang.

AYO BACA : Kemarau Pembawa Berkah Bagi Perajin Kerupuk

Sementara itu, Sumpena (80) warga Cimutu Desa Cigadog menuturkan, hingga kini ia masih menggeluti kerajinan bambu. Meski tidak turun langsung membuat kerajinan bambu karena sudah berumur, Sumpena menampung hasil kerajinan warga dan dijual ke berbagai daerah.

Sumpena menambahkan, sejak zaman kolonial Belanda, di kampung Cigadog sudah banyak perajin bambu. Hampir di setiap rumah terdapat aktivitas pembuatan kerajinan berbahan bambu. Hasil olahan tangan warga pun tak jauh beda dengan sekarang. Kerajinan yang banyak dihasilkan saat itu berupa pipiti, hihid, dan aseupan.

"Kapungkur mah tiap bumi ngadamelan pipiti, ebeg, dugika aseupan. Pami tiap minggu teh di kirimkeun ka pasar dugika pasar Bandung," papar Sumpena.

Aktivitas kerajinan bambu di Kampung Cigadog juga ditopang oleh potensi alam berupa bambu yang melimpah. Kebanyakan bambu jenis bambu tali tumbuh subur di setiap kebun warga. Melihat potensi itu, warga memanfaatkan bambu tali sebagai kerajinan.

"Da awina oge didieu mah seueur jang, janten kapungkurna mah kur ngamanfaatkeun seueurna awi. Kantos rada berkurang teh waktos jaman jepang sareng waktos seueurna Gorombolan," pungkas Sumpena.

AYO BACA : Perajin Tikar Mendong Tasikmalaya Terus Menyusut

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar