Yamaha Mio S

Tugu Cidolog Tasik Penanda Heroisme Warga

  Selasa, 20 Agustus 2019   Irpan Wahab
Tugu di tikungan Cidolog, Desa Salebu, Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. (Irpan Wahab/ayobandung)

SALAWU, AYOTASIK.COM -- Bagi sebagian pengendara yang melaju dari arah Tasikmalaya menuju Salawu tentu tidak akan tahu jika di tikungan Cidolog, Desa Salebu, Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya terdapat tugu bersejarah. Tugu yang saat ini kondisinya sudah tidak terawat ini sebagai pertanda kegigihan masyarakat Singaparna dan Divisi Siliwangi mengadang pasukan Belanda.

Pantauan Ayotasik.com, kondisi tugu sudah dalam keadaan tidak terawat. Tulisan yang ada sudah sangat sulit dibaca, karena kusam. Cat berwarna putih pun memudar membuat tugu bersejarah itu kian tidak enak dipandang. Dalam tugu kusam setinggi lebih kurang 2x1 meter itu terpatri lambang maung dibagian atas. Di bawahnya tertulis beberapa kalimat yang menyimpan nilai heroik. Tulisan itu berbunyi "Dijalan tikungan Cidolog, Salebu, Singaparna pada medio September 1947 Kompi Lukito (Bat. S.L Tobing) mengadakan penghadangan terhadap iringan konvoi yang membawa Jenderal Baurman Van Vreeden kepala staf umum tentara belanda bisa dikacaukan sehingga dokumen-dokumennya termasuk stempel jatuh di tangan kita". Dalam tugu itu pula ada ukiran tanda tangan Panglima Divisi Siliwangi Pertama Dr. A.H. Nasution.

Keberadaan tugu itu pun luput dari pantauan warga. Iyan (40) yang berjualan di sekitar tugu mengakui tidak tahu jika tugu yang ada di depan warung sederhananya itu menyimpan keterangan sejarah. 

"Tidak tahu, ya karena buta sejarah jadi kita seolah tidak peduli dengan tugu itu. Baru tahu dari bapak isi tulisannya juga, " kata Iyan saat ditanya Ayotasik.com terkait Tugu Cidolog itu, Selasa (20/8/2019).

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Ranting Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Salawu, Iing Suganda (89) menuturkan, tugu dibuat sebagai petanda gigihnya warga serta divisi Siliwangi mengadang pasukan Belanda dengan melakukan perusakan jalan serta barikade yang dipasang dari pohon. Saat itu, jalur Tasikmalaya - Salawu merupakan jalur maut bagi Belanda.

Upaya penghadangan oleh warga dan pasukan Siliwangi itu membuat pasukan Belanda berang. Ujungnya, kampung Tanjaknangsi, Desa Neglasawi, Kecamatan Salawu diobrak abrik pasukan Belanda. Rumah warga yang dibakar dijadikan perlintasan karena jalur utama sudah diblokade para pejuang.

Iing menuturkan, dalam satu kali penghadapangan pasukan Belanda, warga satu kampung ikut terlibat. Mereka dikomando lima pasukan Siliwangi. Mereka bersenjatakan bambu runcing dan senjata sedehana lainnya. Saat itu, persenjataan sangat terbatas.

"Waktos harita mah sakampung anu ngahadangna oge, turut ka komando tentara, " kata Iing yang ditemui di rumah kerabatnya di Desa Salawu Kecamatan Salawu, Selasa (20/8/2019).

Kisah serupa muncul dari Supriadin (90) warga Salebu Kecamatan Salawu. Supriadin yang saat itu berusia 20 tahun masih mengingat jelas ikut bergotong royong membuat blokade di jalan untuk menghadang pasukan Belanda yang melintas. Karena seringnya blokade dilakukan, Belanda pun marah dan sering menghancurkan pemukiman penduduk dengan berondongan peluru dari pesawat terbang.

"Tatangkalan anu aya dicandak ka jalan, digolerkeun we dijalan. Aya tangkal kalap, mahoni, jadi sok sesah bade lewatna Belanda oge, " kata Supriadin.

Kekompokan antara warga dan pasukan Siliwangi bukan hanya dalam penghadangan serta penyerangan pasukan Belanda saja, namun dalam mempertahankan diri, kekompokan pun terlihat. Salah satunya membuat lubang bawah tanah untuk menghindari tembakan pesawat Belanda. 

"Aya seueur ngadamel jiga sumur kitu, paling sameter atwa dua meter jerona, Pami tos kadangu ngaheang kapal, langsung warga teh nyarumput, " papar Supriadin.

Baik Iing maupun Supriadin berharap, tugu pertanda perjuangan warga saat mempertahankan kemerdekaan dirawat dengan baik. Tugu itu sebagai pengetahuan bagaimana gigihnya warga dan tentara dalam menghadapi penjajah Belanda.
 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar