Yamaha Mio S

Pendangkalan dan Penyempitan Sungai Pengalir Lahar Galunggung Ancam Pemukiman Warga

  Rabu, 21 Agustus 2019   Irpan Wahab
Cekdam Sungai Cibanjaran yang dangkal dan menyempit. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

SUKARATU, AYOTASIK.COM -- Warga tiga desa yakni Desa Linggajati, Sinagar, dan Tawangbanteng di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, terancam banjir lahar jika sewaktu-waktu gunung Galunggung meletus. Hal ini lantaran dua sungai untuk mengalirkan aliran lahar dalam kondisi dangkal dan menyempit.

Pendangkalan dan penyempitan aliran Sungai Cibanjaran dan Cikunir terjadi diduga akibat aktivitas pertambangan pasir di kaki gunung Galunggung yang sudah ada sejak puluhan tahun. Bahkan saat musim penghujan tiba, permukiman warga dan area persawahan sering tergenang air akibat luapan kedua sungai tersebut.

Epi Saeful (49) warga Linggajati menuturkan, setelah terjadinya letusan Galunggung pada tahun 1982, pemerintah saat itu membangun dua sungai besar untuk mengalirkan air danau kawah Galunggung serta lahar sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu Galunggung meletus kembali.

Namun saat ini, kondisi Sungai Cibanjaran dan Cikunir kondisinya dangkal. Itu terjadi akibat endapan tanah dan material sisa pencucian pasir yang ditambang. Terlebih, para pengusaha membangun pencucian pasir di pinggir aliran sungai.

"Jadi limbahnya juga mengalir ke sungai dan mendangkal selama puluhan tahun. Bayangkan saja setiap hari aktivitas penambangan terus berjalan, " papar Epi kepada ayotasik.com, Rabu (21/8/2019).

Epi menambahkan, paska letusan Galunggung dan belum ada aktivitas penambangan pasir, panjang sungai Cibanjaran dan Cikunir mencapai 15 meter dengan kedalaman lebih dari lima meter. Namun saat ini hanya tersisa sekitar lebar 4 meter dan kedalaman kurang dari dua meter.

"Seinget saya dulu panjangnya lebarnya 15 meter. Tapi sekarang bisa dilihat sendiri seperti apa. Dulu ada cekdam di sungai Cibanjaran, sekarang semakin menyempit, " papar Epi.

Hal senada dikatakan, Adang (56) warga Desa Sinagar menambahkan, aktivitas penambangan pasir dimulai sejak sekitar tahun 1990. Aktivitas penambangan pasir itu menggunakan aliran Sungai Cibanjaran dan Cikunir untuk membersihkan pasir.

"Cobi bayangkeun tos sabaraha tahun dugika ayeuna, pantes we pami janten deet teh susukanana (Coba bayangkan sudah berapa tahun sampai sekarang, pantas aja kalau jadi dangkal sungainya)" papar Adang.

Selama puluhan tahun aktivitas penambangan, pengerukan aliran sungai pernah dilakukan. Namun tidak dilakukan secara rutin. Terakhir, pengerukan dilakukan pada awal tahun 2019 lalu. Itupun hanya di beberapa titik yang mengalami penyempitan cukup parah.

"Padahal mah sadayana di hulu dugika hilir dikeruk, da anger geuning pami banjir mah masyarakat oge anu repot. Komo deui pami Galunggung bitu deui mah, tilu desa mah pasti banjir (Padahal semuanya di hulu sampai hilir dikeruk, tapi masih tetep kondisinya kalau banjir masyarakat yang repot. Apalagi kalau Galunggung meletus lagi, tiga desa pasti banjir)" pungkas Adang.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar