Yamaha Aerox

Derita Stroke, Kakak Beradik di Tasik Tetap Berkarya

  Kamis, 26 September 2019   Irpan Wahab Muslim
Meskipun menderita stroke, Wawan (59) dan Triyana (39), mampu membuat alat musik yakni gitar. Kakak beradik ini sudah menjadi perajin gitar kurang lebih selama sembilan tahun. (Irpan Wahab Muslim/Ayotasik.com)

PADAKEMBANG, AYOTASIK.COM -- Meskipun menderita stroke, Wawan (59) dan Triyana (39), mampu membuat alat musik yakni gitar. Kakak beradik ini sudah menjadi perajin gitar kurang lebih selama sembilan tahun.

Ditemui dirumahnya di Cikaleker, Desa Rancapaku, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Wawan mengatakan, setelah terserang stroke 2007 silam, ia terpaksa berhenti bekerja sebagai pemain musik. Selama hampir tiga tahun atau hingga tahun 2010, Wawan terus berupaya untuk melawan penyakit stroke dengan melakukan pengobatan medis. Hasilnya, tangannya yang semula sulit digerakan menjadi normal.

"Saya berobat sampai tahun 2010, alhamdulilah tangan sudah mulai digerakan. Tapi dari situ bingung untuk bekerja dan cari nafkah," papar Wawan kepada ayotasik.com, Kamis (26/9/2019).

Terdorong alasan memenuhi kebutuhan keluarga, berikut mempunyai waktu terlampau luas, Wawan kemudian mengajak kepada adiknya Triyana yang sama-sama menderita stroke untuk membuka jasa service gitar. Banyak warga dan penggemar alat musik petik itu yang memanfaatkan jasa perbaikan mereka.

"Awalnya membuka jasa perbaikan gitar, banyak yang minta service gitar seperti gagangna, ada juga yang ganti body-na," kata Wawan.

Melihat potensi itu, Wawan dan Triyana akhirnya memutuskan membuat gitar. Bermodal bahan-bahan seadanya di sekitar lingkungan bermukim, mereka membuat satu gitar. Bahan gitar yang dipakai di antaranya triplek untuk badan gitar dan kayu pohon pete untuk pegangan gitar.

Keahlian membuat gitar, kata Wawan, didapat secara alami dari pengalamannya sebagai pemain musik. Tidak disangka, hasil karya Wawan dan Triyana mendapatkan apresiasi dari penggemar gitar.

"Awalnya kami buat satu untuk contoh, tapi pas ada yang liat akhirnya dibeli. Dari situ alhamdulilah ada pesanan," kata Wawan.

Karena keterbatasan modal, Wawan dan Triyana membuat gitar secara manual, artinya dalam membentuk body dan pegangan kita dilakukan tanpa mesin. Itu membuat pengerjaan menjadi cukup lama. Untuk menyelesaikan satu gitar pesanan, dibutuhkan waktu setidaknya tiga minggu pengerjaan.

"Karena modalnya tidak ada, jadi pake manual. Dirautan kayu untuk pegangan, jadi lama pengerjaannya," ungkap Wawan.

Wawan mengaku hanya membuat gitar kala pesanan datang. Bila tidak, ia tidak memproduksi gitar. Untuk satu buah gitar, ia ditetapkan ongkos membeli bahan kepada pemesan. Pemesan hanya memberikan uang jasa pembuatan.

"Jadi bahan dari pemesan, untuk aksesorisnya. Kita bahan triplek sama kayu saja. Satu gitar ada yang ngasih Rp400-600 ribu ngasihnya," ungkap Wawan.

Hasil tangan kreatif Wawan dan Triyana ini bahkan sudah diakui oleh penggemar gitar dari Tasikmalaya, Bandung bahkan hingga Bali. Ini dibuktikan dengan adanya pesanan dari ketiga kota tersebut. Pemasarannya sendiri mulai dari mulut ke mulut tanpa menggunakan media sosial.

"Kualitas berani diadu sama pabrikan, pesanan paling jauh itu dari Bali. Katanya dapat info dari temannya yang pernah mesen dari sini, " pungkas Wawan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar