Yamaha Aerox

Perjuangan KH Zaenal Mustofa dan Santri Tasik Lawan Penjajah

  Selasa, 22 Oktober 2019   Irpan Wahab Muslim
Komplek pemakaman KH Zaenal Mustofa. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Sejak dulu, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional dan perlawanan. Pemahaman agama yang didapatkan memperkuat kecintaan santri terhadap tanah kelahirannya. Maka tidak heran, perlawanan santri terutama pada masa penjajahan Belanda dan Jepang muncul di beberapa tempat, termasuk di Tasikmalaya.

Sejarah mencatat, di Tasikmalaya perlawanan santri terjadi saat penjajahan Jepang. Dengan memegang teguh prinsip bahwa penjajahan adalah kemungkaran, dan kemungkaran harus dilawan.

Sosok penggerak itu adalah KH Zaenal Mustofa. Dia melakukan perlawanan terhadap Jepang. Puncaknya yakni saat menolak melakukan perintah Saikerai atau penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan membukukan badan ke arah Matahari. Beliau menilai, itu merupakan bertentangan dengan Tauhid.

Perlawanan dengan sikap perang pun direncanakan. Namun rencana itu tercium Jepang pada tanggal 25 Januari 1944. Jepang pun mengirim pasukan untuk berdialog, namun upaya itu ditolak mentah-mentah. Akhirnya pada bulan Februari pasukan Jepang menyerang Pesantren Sukamanah.

Dengan persenjataan lengkap, Jepang memberondong KH Zaenal Mustofa dan santrinya. Berbekal Senjata pedang bambu dan bambu runcing, KH Zaenal Mustofa dan santri melayani pertempuran dengan heroik. Meskipun akhirnya 89 Santri gugur sebagai syuhada dan KH Zaenal Mustofa ditangkap dan dibawa ke Bandung.

Pada tanggal 25 Oktober 1944, KH Zaenal Mustofa dieksekusi di Jakarta.

Keberanian KH Zaenal Mustofa dan Santrinya Jadi Teladan

AYO BACA : Ribuan Santri Tasik Hadiri Peringatan HSN

Sikap keberanian KH Zaenal Mustofa dan santrinya itu pula yang kini diteladani oleh sejumlah santri di Tasikmalaya. Abdulloh (34) santri Pesantren Abdul Jabar Kecamatan Singaparna mengatakan, sikap berani terhadap kemungkaran yang ditunjukan oleh KH Zaenal Mustofa merupakan teladan bagi generasi muda.

“Terlebih saat ini, berbagai macam paham yang masuk mencoba merongrong persatuan, di sini kita sebagai santri harus siap menghadapi tentunya dengan mendalami pemahaman ajaran agama yang utuh," kata Abdulloh, Selasa (22/10/2019).

Abdulloh menilai, saat ini memerangi kemungkaran bukan dengan angkat senjata dan kekerasan, tetapi lebih kepada merusak tatanan dan pola pikir generasi muda. Untuk itu, sangat diperlukan mendalami ilmu agama secara baik dan benar merujuk pada alur guru yang jelas.

“Banyak sekarang yang belajar dari google misalnya, jadi pemahamannya keliru. Nah di sini peran santri harus hadir meluruskan tetapi tentunya pemahaman ilmu agamanya harus benar,“ tambahnya.

Hal senada dikatakan Zakaria (30), santri pondok Pesantren Cipasung. Zakaria menilai, peran ulama dan santri, salah satunya pada sosok KH Zaena Mustofa, sangat besar dalam kemerdekaan negara.

Jasa itu harus diteruskan oleh santri saat ini sebagai generasi penerus bangsa. Salah satunya dengan terus menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan lain.

“Kalau kita mempunyai ilmu yang mumpuni, kita akan bisa berbuat banyak untuk bangsa dan negara. Jika dulu para ulama termasuk Pak Kyai Zaenal Mustofa melawan dengan angkat senjata, kini dengan kontribusi pemikiran yang membangun," ucapnya.

AYO BACA : Pemprov Jabar Akan Gulirkan Lagi Perda Pesantren

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar