Yamaha Aerox

Pemahaman ODGJ Belum Menjangkau Daerah Pelosok

  Selasa, 29 Oktober 2019   Faqih Rohman
Sejumlah pasien dengan gangguan kejiwaan di Yayasan Al Fajar Berseri Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. (ANTARA News/Pradita Kurniawan Syah)

BANDUNG, AYOTASIK.COM -- Masyarakat masih menganggap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sebagai penyakit non-medis. Bahkan berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2018 tercatat sebanyak 14% rumah tangga memasung penderita gangguan jiwa.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Lembaga Survei Kedai KOPI, Kunto Adi Wibowo dalam acara 'The Role of Mental Health Communities in Digital Era' yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Selasa (29/10/2019).

Kunto mengatakan stigma tersebut dipicu oleh minimnya publikasi riset terkait gangguan jiwa, sehingga persoalan ini semakin sulit ditangani. Padahal jika sebaliknya, stigma negatif ini akan semakin pudar.

"Riset di Indonesia terkait kesehatan jiwa saat ini masih sangat kurang, padahal riset-riset semacam ini juga berguna sebagai landasan kita mengentaskan stigma akan penyakit atau gangguaan kejiwaan," katanya.

Dia menerangkan hal ini diperparah lagi dengan kepercayaan masyarakat yang masih mengaitkan gangguan jiwa dengan klenik seperti guna-guna, kutukan, gangguan roh, dan kurang iman.

Menurutnya diperlukan perhatian dari semua pihak untuk mengatasi stigma ini. Selama ini penanganannya masih sporadis dan dilakukan oleh kelompok atau komunitas tertentu sehingga tidak optimal.

"Problem kesehatan jiwa adalah salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, NGO, akademisi dan elemen masyarakat lainnya. Harus ada program yang bisa menjangkau masyarakat luas," terangnya.

Kunto menyebutkan sekarang ini, kesadaran akan penyakit gangguan jiwa sudah mulai tumbuh khususnya di masyarakat urban perkotaan. Akan tetapi belum menjangkau hingga daerah pelosok.

"Kesadarannya mulai tumbuh dan banyak dibicarakan oleh kelas menengah perkotaan kota besar. Sementara ekonomi dan pendidikan rendah belum belum punya kesadaran," ucapnya.

Dia menambahkan dampak buruk dari stigma negatif gangguan jiwa sangat berpengaruh pada penderita dan keluarganya. Sehingga membuat orang malu untuk mendapatkan bantuan profesional untuk kesehatan jiwanya.

"Masih banyak anggota keluarganya di pasung karena gangguan jiwa. Salah satunya karena akses dan biaya serta stigma tadi (aib)," pungkasnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar