Yamaha Aerox

Sapu Ijuk Gajang Barang Sudah Ada Sejak 1940-an

  Sabtu, 30 November 2019   Irpan Wahab Muslim
Salah seorang warga sedang membuat sapu ijuk di Kampung Gajah Barang dan Bojongsari, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

LEUWISARI, AYOTASIK.COM -- Kerajinan sapu ijuk di Kampung Gajah Barang dan Bojongsari, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1940-an dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Sepengetahuan masyarakat setempat, sapu ijuk diperkenalkan oleh Aki Jasip, kakek dari salah seorang tokoh masyarakat setempat E. Wilasna.

"Seingat saya sapu ijuk ini dikenalkan oleh Aki Jasip dari Cilampung, ya mungkin sejak tahun 1930-an atau bahkan lebih. Setelah itu, diajarkan ke sejumlah warga dan terus menyebar hingga saat ini," kata salah seorang perajin sapu ijuk, Idik (48), yang ditemui di rumahnya, Sabtu (30/11/2019).

Sapu ijuk gajah barang sempat mengalami masa kejayaan saat ramainya setra kerajinan Rajapolah. Namun setelah adanya fly over yang langsung menuju Ciamis, kejayaan pasar sapu ijuk mulai redup. Padahal, dulu ramainya penjualan sapu ijuk tidak mengenal musim, baik hari libur biasa apalagi libur lebaran dan tahun baru. 

"Kalau sekarang mah ramainya teh bulan puasa menjelang lebaran, kalau sehari-hari mah sepi. Karena pasar terbanyak penjualan ya ke Rajapolah, selebihnya ke pasar-pasar biasa baik pasar Singaparna maupun Cikurubuk," katanya.

Saat ini, pengrajin sapu ijuk yang ada di Gajah Barang dan Bojongsari merupakan generasi kedua dan ketiga yang meneruskan usaha kerajinan sapu ijuk. Permasalahan yang dihadapi para perajin yakni sulitnya bahan baku pegangan sapu berupa rotan.

"Itu aja yang sulit, kalau ijuk masih banyak dan tidak sulit didapatkan. Tapi kalau rotan lumayan cukup sulit. Harganya pun untuk satu batang itu bisa mencapai Rp1500." ucapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar