Yamaha

Dibalik Stigma Negatif Janda yang Mengusik Nurani

  Rabu, 04 Desember 2019   Irpan Wahab Muslim
ilustrasi. (Pixabay)

PADAKEMBANG, AYOTASIK.COM -- Menjalani kehidupan seorang janda akibat perceraian memang sangat berat. Anggapan miring dab stigma negarif sering disematkan kepada janda, terutama mereka yang masih berusia muda.

Padahal dibalik pandangan buruk yang belum tentu kebenarannya tersebut, seorang janda menjalani hari-hari berat terlebih bagi mereka yang sudah mempunyai anak.

Hal ini seperti yang dialami Qinar (30) warga Kecamatan Padakembang Kabupaten Tasikmalaya. Qinar yang memiliki anak perempuan berusia 6 tahun itu mengisahkan, kehidupanya terasa sangat berat saat memutuskan bercerai dengan suaminya tiga tahun lalu.

"Kalau penyebab cerai itu mungkin ada kesalahan dari kedua belah pihak, tapi kita putuskan itu yang terbaik," kata Qinar.

Kehidupan Qinar yang dulu sebagai ibu rumah tangga harus berubah 180 derajat. Kini, mau tak mau ia harus banting tulang dengan berjualan demi menyambung hidup dan biaya sekolah anaknya. Barang yang ia dagangkan mulai dari kerudung, pakaian, hingga camilan.

Namun disaat ia mendapatkan keuntungan lebih dari hasil usahanya, tidak sedikit masyarakat melontarkan anggapan-anggapan yang merendahkan. Mulai dari dianggap sebagai simpanan, pengganggu rumah tangga orang, dan sebutan cewek matre.

"Adalah orang yang seenaknya ngomong begitu, padahal saya juga kan usaha. Jadi mereka seenaknya saja menuduh. Siapa sih yang ingin jadi janda, saya rasa tidak ada," tuturnya.

Hal yang sama dikatakan Tiar (28), warga Kecamatan Singaparna.

Setelah diceraikan suaminya tahun lalu, berbagai anggapan buruk selalu disematkan. Terlebih ia belum memiliki anak dari hasil pernikahannya. Bukan hanya itu, Tiar pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang yang tidak dikenalnya di media sosial.

“Ada yang ngajak kenalan, terus dia nanya status ya aku jawab janda. Dari situ pikirannya langsung jorok, ngajak main, ngajak ke rumahnya. Itu kan sangat merendahkan juga," katanya.

Anggota Komisi Perempuan Indonesia (KPI) Kabupaten Tasikmalaya, Raissa, menuturkan apa yang dialami para janda tersebut.

Ia menjelaskan keputusan menjadi janda di usia muda terutama akibat perceraian harus siap dengan fase berikutnya. Sudah menjadi rahasia umum, jika sebagian masyarakat memiliki pandangan miring terhadap mereka. Bahkan, kata Raissa, tak sedikit masyarakat yang cenderung melecehkan mereka secara seksual.

Ia berharap masyarakat menghentikan kebiasaan dan perilaku buruk tersebut. Bagaimanapun keputusan menjadi janda bukanlah perkara mudah, apalagi menjalaninya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar