Yamaha

Siswa MI di Tasik Terpaksa Belajar di Gubuk Bambu

  Rabu, 04 Desember 2019   Irpan Wahab Muslim
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mis Cileunjang di Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

BOJONGGAMBIR, AYOTASIK.COM -- Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mis Cileunjang di Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, harus rela belajar di gubuk sederhana berdinding bilik bambu. Sekolah ini sama sekali tak memiliki bangunan kelas seperti layaknya sekolah kekinian yang berdinding.

Disamping itu, ruangan kelas hanya seluas 10x4 meter. Tak ayal, kondisi itu menyebabkan 76 siswa harus belajar bergantian dengan di ruangan yang di bagi menjadi tiga bagian tersebut. Pun setelah masuk ruangan, kegiatan belajar mengajar hanya beralaskan tanah. Kondisi itu tentu membuat siswa tak nyaman.

Kepala MI tersebut, Deden Saeful Bahri mengatakan, proses pembelajaran dibagi dua sesi. Siswa kelas I, II, dan III belajar pukul 07.00-10.00 WIB. Sedangkan siswa kelas IV, V dan VI belajar pukul 10.00-13.00 WIB.

“Kami terpaksa menjalankan proses belajar mengajar di gubuk ini, karena tidak memiliki ruangan lagi. Ini juga gubuk hasil pembangunan swadaya masyarakat sekitar, tiga tahun silam,” ujar Deden, Rabu (4/12/2019).

Deden mengungkapkan bahwa sebagian besar material ruangan kelas terdiri dari bambu dan kayu. Pada bagian samping dan belakang ruangan ditutupi oleh bilik bambu. Sementara bagian atapnya terbuat dari asbes.

Walaupun bentuk gedung terlihat persis seperti bangunan umumnya, tak nampak satupun kaca di sekolah ini, melainkan hanya lubang yang dibuat sengaja agar kegiatan belajar mengajar seolah tak terasa pengap karena sempitnya bangunan.

Deden pun sangat berharap, pemerintah daerah dapat membuatkan ruang kelas baru. Dia tak menyangkal kala hujan turun dengan kondisi sekolahnya seperti ini, maka ruangan akan banjir sekaligus becek.

“Kami tentunya sangat mengharapkan ruang belajar yang layak, karena kasihan anak-anak. Kami bukan tidak mau membangun, tapi kemampuan anggaran terbatas,” ucapnya

Deden mengungkapkan bahwa MI ini dapat dibangun hasil swadaya masyarakat. Warga melihat anak-anak di kampungnya ini hanya dapat bersekolah dengan jarak terdekat kurang lebih lima kilometer. Itu pun mesti ditempuh dengan berjalan kaki.

Kala hujan, maka anak-anak tersebut semakin jarang bersekolah. Bukan karena tak mau, tetapi jarak yang jauh dengan turunnya hujan yang tak menentu, membuat para anak segan mesti keluar jauh dari kampungnya. 

Bukan perkara mudah mesti berjalan kaki berkilo-kilo dengan kondisi seragam sekolah yang mesti dijaga untuk bersih tiap hari. Akhirnya, sekolah yang dibangun ini dipandang warga cukup untuk membekali para anaknya menimbang ilmu, kendati sekolah masih perlu dibantu banyak.

“Alhamdulillah dengan adanya MI, para orang tua dan anak-anak sangat terbantu untuk bisa menimba ilmu dengan jarak yang terjangkau. Mereka tidak harus jauh-jauh berjalan kaki menuju tempat belajar,” ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar