Yamaha

Nasib Guru Honorer, Gaji Kecil Tanggung Jawab Besar

  Selasa, 07 Januari 2020   Irpan Wahab Muslim
audiensi guru honorer di Kabupaten Tasikmalaya dengan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (7/1/2020). (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Pahlawan tanpa tanda jasa mungkin patut disematkan kepada guru honorer. Mereka adalah pengabdi sejati yang beban kerjanya tak sepadan dengan honor. Bayangkan saja, tugas mendidik, walaupun sudah terhitung puluhan tahun, hanya dihargai honor Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.

Nasib itu seperti dialami oleh Isak Sudrajat, salah seorang guru honorer sekolah dasar di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Walaupun sudah 29 tahun berkutat di dunia guru, namun ia tidak kunjung diangkat menjadi PNS. Honornya pun hanya dipatok Rp5.000 per jam.

Dalam satu minggu, Isak mendapatkan jatah mengajar dengan durasi 12 jam. Karena itu, dalam sebulan uang yang bisa dikantongi hanya sekitar Rp250 ribu.

"Saya sudah 29 tahun mengabdi, umur saya sekarang 49 tahun. Kalau harapan untuk menjadi PNS sepertinya sudah tertutup karena umur," kata Isak saat ditemui setelah melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (7/1/2020).

Isak pun terpaksa menambal kebutuhan keluarganya dengan membuat warung kecil di rumahnya. Namun berkat itu, setidaknya kebutuhan makan dan minum keluar sehari-hari bisa ditutupi.

Dia pun menilai, beban kerja guru honorer memang tak bisa disepelekan, tidak seperti honornya yang masih jauh dari kata ideal. Bicara pekerjaan, ia mengaku, pekerjaan serupa guru PNS pun sering dilakoninya. Pada akhirnya, ketimpangan antara beban pekerjaan dan honor begitu jelas terlihat. 

"Kalau berbicara beban, ya kita justru lebih tinggi dari pada guru PNS. Seringkali kita mengerjakan itu berbagai pekerjaan, termasuk kerjaan guru pns lainnya," tambah Isak.

Hal senada dikatakan Asep gumilang (32), guru salah satu SD di Kecamatan Bojongasih. Asep menuturkan, ia masih berharap bisa diangkat menjadi PNS. Pasalnya guru yang sudah mengabdi selama delapan tahun ini hanya mendapatkan honor bulanan sebesar Rp200 ribu. Karena penghasilan itu, ia terpaksa menjadi guru sembari berjualan online.

"Harapan saya ada pengangkatan PNS. Honorer itu diprioritaskan jangan dianak tirikan. Kalaupun tidak diangkat, ada jaminan masa depan untuk kami dari pemerintah daerah," ucapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar