Yamaha

Kesultanan Selaco Sudah Ada Sejak 2004, Klaim Keturunan Raja Padjadjaran

  Sabtu, 18 Januari 2020   Irpan Wahab Muslim
Warga saat berfoto di gerbang kesultanan Selaco.

PARUNGPONTENG, AYOTASIK.COM -- Jauh sebelum ramai diberitakan adannya keraton agung sejagat di purworejo dan sunda empire di Bandung, Kesultanan Selaco atau yang biasa disebut Selacau Tunggul Rahayu di Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya sudah ada sejak 2004 silam.

Pencetusnyan yakni Rohidin (41) yang mengklaim bahwa dirinya merupakan keturunan ke sembilan raja Kerajaan Padjadjaran Surawisesa yang bergelar Raden Patra Kusumah VIII.

Rohidin yang ditemui Ayotasik.com menuturkan, kesultananya itu lebih fokus pada pelestarian budaya sunda atau leluhur pada saat kerajaan Padjadjaran dipegang oleh Surawisesa.

Kegiatan kebudayaan maupun aktivitas kesultanan juga sering digelar secara terbuka dan bisa disaksikan langsung oleh siapa saja.

"Kami terbuka, melaksanakan kegiatan pun selalu terbuka dan tidak sembunyi sembunyi. Kami mendirikan kesultanan ini dari tahun 2004 lalu." papar Rohidin, Sabtu (18/1/2020).

Rohidin menegaskan, kesultanannya itu pun sudah mendapatkan legalitas resmi dari lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 2018 lalu. Yakni pengakuan warisan kultur budaya peninggalan sejarah kerajaan Padjadjaran saat dipimpin oleh Raja Surawisesa.

"Kami ajukan tahun 2004 silam, dan diakui oleh PBB itu tahun 2018. itu fakta sejarah tentang legalitas kami sebagai warisan budaya," ucapnya.

Rohidin menambahkan, kesultanan miliknya berbentuk yayasan dengan daerah teritori yang mencakup wilayah selatan priangan timur yang  meliputi Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran. Dalam yayasan itu, terdapat beberapa posisi seperti menteri atau mangkubumi dan keprajuritan.

"Legalitas dari PBB tadi itu meliputi nomor warisan dan izin pemerintahan kultur. Kedua, izin referensi tentang keprajuritan. Lisensi yang diberikan yaitu seni dan budaya," ujarnya.

Rohidin menegaskan, meskipun dirinya berbentuk kesultanan, namun membantah jika kesultanannya merupakan negara di dalam negara. Bagi Rohidin, NKRI tetap harga mati. Kesultanan hanya bentuk upayanya melestarikan kebudayaan.

"Buat kami NKRI itu harga mati dan segala-galanya. Kami ini penggiat budaya. mengajak kepada generasi muda dan masyarakat untuk tahu budayanya dan melestarikannya," papar Rohidin.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar