Yamaha

Masyarakat Tidak Terusik Dengan Kegiatan Kesultanan Selacau

  Minggu, 19 Januari 2020   Irpan Wahab Muslim
Komplek Kesultanan Selacau. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

PARUNGPONTENG, AYOTASIK.COM -- Bagi masyarakat Kampung Cibungur, Desa Cibungur, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, keberadaan Kesultanan Selaco atau Selacau Patra Kusumah bukan hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa dengan ragam aktivitas yang digelar di komplek kesultanan di wilayah pegunungan itu.

Kepada Ayotasik.com, Misbah (46) warga sekitar menceritakan asal mula berdirinya Kesultanan Selacau yang konon pencetusnya adalah Rohidin. Sang sosok pendiri ini awalnya terlebih duhulu menghilang dari perkampungan sekitar tahun 2000-an.

"Rohidin itu awalnya penjahit, merantau ke Jakarta dan tidak pulang-pulang. Pokoknya tidak ada kabar beritanya," kata Misbah, Sabtu (18/1/2020).

Namun tahun 2003 akhir, Rohidin pulang dengan penampilan berbeda. Dia pun sering berbicara kepada tetangga bahwa dirinya merupakan titisan atau penerus Raja Padjadjaran Surawisesa. Berselang beberapa bulan, kata Misbah, Rohidin pun membuat sebuah padepokan hingga sejumlah tanah di sekitar padepokannya dibeli.

"Pas ada padepokan, dia itu sering ngobrol ke orang orang di sini bahwa dia mau bikin kesultanan. Dia juga beli beberapa kuda, sering berkeliling kampung," paparnnya.

Epik (38) warga lainnya menuturkan, perkembangan pesat Kesultanan Selacau terjadi antara tahun 2009-2013. Pada masa-masa itu, berbagai pembangunan dilakukan mulai dari membangun masjid, beberapa ruang pertemuan, hingga akhirnya membuat komplek kesultanan khusus di perbukitan.

Bahkan pada tahun 2012, Rohidin mendirikan stasiun televisi lokal dengan nama Patra Kusumah TV yang khusus menayangkan kegiatan kebudayaan kesultanannya.

AYO BACA : Kesultanan Selaco Sudah Ada Sejak 2004, Klaim Keturunan Raja Padjadjaran

"Nah pernah ditanya oleh warga juga, uangnya dari mana, Rohidin jawabnya yang penting masyarakat di sini makmur. Begitu jawabannya. Kita juga tidak tahu sumber uangnya, tapi yang jelas Rohidin itu sering bepergian lama," kata Epik

Disinggung soal respons warga terhadap kesultanan, Epik berujar bahwa masyarakat tidak merasa terganggu, meskipun di lokasi kesultanan sering diadakan acara seperti pagelaran budaya.

Menurut Epik, Rohidin juga tidak jarang membantu masyarakat, misalnya dalam pembangunan masjid, jalan lingkungan, berikut menyantuni masyarakat tidak mampu.

"Ke masyarakat juga bagus, tidak pelit. Kita tidak permasalahkan, asal tidak mengganggu kehidupan masyarakat," kata Epik.

Sementara itu, Rohidin menjelaskan, sumber keuangannya bukan hasil tipu daya atau cara yang merugikan orang lain. Kesultanan mempunyai sumbet pendanaan sendiri dari Sertifikat Phoenix melalui seorang grantor bernama M Bambang Utomo.

"Itu uangnya dari luar negeri, adanya di Bank Swiss. Hanya seorang grantor yang bisa mengambil uang itu. Kami tudak melakukan penipuan atau yang merugikan orang lain," paparnya.

Dari uang itu, kata Rohidin, pembangunan demi pembangunan untuk memperbesar kesultanannya terlaksana. Di samping itu, para petinggi di kesultanan bisa dibayar.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar