Yamaha

Becak di Singaparna, Moda Transportasi yang Tersisihkan

  Rabu, 19 Februari 2020   Irpan Wahab Muslim
Yoyo (52) penarik becak yang mangkal di Pertigaan Pasar Kudang, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- "Sekarang mah becak kalah sama angkutan lain, ada bentor, ada gojeg. Jadi masyarakat mah milihnya angkutan yang lain," kata Yoyo (52), seorang penarik asal Cikapat, Kecamatan Singaparna, saat ditemui Ayotasik.com, Rabu (19/2/2020).

Yoyo merupakan penarik becak yang biasa mangkal dipertigaan Pasar Kudang, Kecamatan Singaparna. Dirinya sudah menjalani hidup sebagai penarik becak lebih dari 30 tahun. Yoyo mengatakan, tahun 1970-an, moda angkutan becak menjadi primadona di kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Tasikmalaya ini.

"Dulu anak sekolah dianterinnya selalu pengen sama becak. Sekarang mah milihnya ojeg atau dianterin sama orang tuanya," ujar Yoyo.

Menurut Yoyo, becak merupakan moda transportasi paling lama digunakan masyarakat di Kecamatan Singaparna. Bahkan, sepengetahuannya, becak sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

"Kalau kata orang tua dulu, sudah ada saat Belanda. Ratu Belanda paling suka naik becak menikmati pemandangan kota," ucapnya.

Penarik becak lainnya, Endik (57) menambahkan, saat ini keberadaan becak sudah sangat jarang ditemukan di wilayah Singaparna. Karena alasan tenaga semakin berkurang dan efisien, penarik becak menggantinya dengan becak motor alias bentor.

"Sekarang justru malah banyak bentor. Masyarakat juga milih bentor karena alasan lebih cepat. Kita mah sisanya aja, paling sehari ada 10 penumpang," kata Endik.

Endik menginginkan, pemerintah daerah memperhatikan keberadaan becak. Salah satunya bisa dengan melarang beroperasinya bentor. Becak, ujarnya, merupakan moda transportasi bersejarah sehingga tak bisa dikesampingkan.

"Kita mah ingin ke pemerintah teh larang aja itu bentor, karena kita jadi banyak kehilangan penumpang," harapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar