Yamaha

Syeikh Abdul Muhyi, Sejarah dan Penyebaran Islam di Tasikmalaya

  Kamis, 05 Maret 2020   Irpan Wahab Muslim
Tempat ziarah Syeikh Abdul Muhyi. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM – Di Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, terdapat makam ulama yang konon sebagai penyebar agama Islam di Tasikmalaya. Makam tersebut banyak diziarahi masyarakat dari berbagai daerah, bahkan dari Provinsi Jawa Tengah hingga saat ini. Makan ini tempat peristirahatan Syeikh Abdul Muhyi.

Dari berbagai literasi disebutkan bahwa sejarah penyebaran Islam oleh Syeikh Abdul Muhyi di Tasikmalaya bermula saat usianya itu sekitar 27 tahun. Beliau beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya Syeikh Abdul Rouf bin Abdul Jabar menunaikan ibadah haji. Saat di Baitullah, gurunya mendapatkan ilham yang menyebut bahwa salah satu santrinya ada yang akan mendapatkan pangkat kewalian.

Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda, maka Syeikh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya itu pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim. Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Syeikh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya sebagai tanda-tanda tersebut.

Setelah kejadian itu, Syeikh Abdur Rauf membawa mereka pulang ke Kuala (Aceh) tahun 1677 M. Sesampainya di Kuala, Syeikh Abdul Muhyi disuruh pulang ke Gresik untuk minta restu dari kedua orang tua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di sana. Sebelum berangkat mencari gua, Syeikh Abdul Muhyi dinikahkan oleh orang tuanya dengan Ayu Bakta, putri dari Sembah Dalem Sacaparana.

Tak lama setelah pernikahan, beliau bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darmo Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Syeikh Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun terhitung dari tahun 1678 hingga 1685 M. Kabar tentang menetapnya Syeikh Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

Perjalanan Mencari Goa Pamijahan

Salah satu tokoh pemuda di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Imam Mudofar menuturkan, Syeikh Abdul Muhyi berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya Syeikh Abdul Rauf dengan mencoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah. Padahal petunjuk dari gurunya itu, gua yang dicari akan ditemukan jika di suatu tempat ditanami padi hasilnya tetap sebenih, artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada.

“Karena tidak menemukan gua yang dicari, Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua,” kata Imam kepada Ayotasik.com, Kamis (5/3/2020).

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah beliau di daerah Pamengpeuk yang termasuk wilayah Kabupaten Garut saat ini. Di sini beliau bermukim selama 1 tahun antara tahun 1685-1686 M, untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu.

Setahun kemudian ayahandanya, Sembah Lebewarta Kusumah meninggal dan dimakamkan di Kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, beliau melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi. Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun yakni 1686-1690 M.

Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, beliau tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas gunung Kampung Cilumbu. Akhirnya beliau turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi.

Pada suatu hari, Syeikh Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah.

Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat. Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga goa yang dicari segera ditemukan.

"Dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama. Di sanalah beliau yakin bahwa di dalam gunung itu adanya goa,“ papar Imam.

Sewaktu Syeikh Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicaun burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya. Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, di mana di tempat ini dahulu Syeikh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.

Goa yang sekarang di kenal dengan nama Goa Pamijahan adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Syeikh Abdul Muhyi. Gua ini terletak di antara kaki Gunung Mujarod. Sejak gua ditemukan, Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim disana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, beliau juga menempuh jalan tharekat.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar