Yamaha

Menelusuri Jejak Jalur Kereta Api Tasikmalaya–Singaparna

  Sabtu, 07 Maret 2020   Irpan Wahab Muslim
Bangunan SMP 1 Singaparna dan Polsek Singaparna yang dulu merupakan Halte kereta api Tasikmalaya-Singaparna. (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM – Tasikmalaya merupakan salah satu daerah di Selatan Jawa Barat yang dilintasi oleh jalur kereta api. Pembangunan jalur kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda ini bukan tanpa alasan, namun untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan yang berada di wilayah padalaman untuk dingkut ke pelabuhan di Jakarta.

Sebelumnya, pembangunan jalur kereta api di Tasikmalaya sudah direncanakan, yang digagas oleh pihak swasta yang mengajukan kepada pemerintah Hindia Belanda saat itu. Meski pengajuan berkali-kali mendapatkan penolakan, namun pada tahun 1890, usulan tersbeut dikabulkan pemerintah, yakni jalur Tasikmalaya–Singaparna yang melewati aliran sungai Ciwulan dekat Mangunreja.

Pembangunan jalur kereta api Tasikmalaya–Singaparna bukan hanya persoalan ekonomi, namun kepada pengembangan wilayah Priangan bagian tenggara. Di daerah Tasikmalaya banyak tumbuh perkebunan termasuk di Tasikmalaya. Setidaknya ada 7 perkebunan saat itu di Singaparna pada tahun 1900 diantarnya Wangunarja, Sukaraji I, Sukajadi II, Sukajadi III, Sukajadi IV. Sukajadi V, dan Jayawati.

“Jenis pohonya itu ada kopi, ada kina dan teh. Kopi itu ditanah diperkebunan Wangunarja, teh di Sukajadi dan Kina sukajadi dan Jayawati,“ kata Pemerhati sejarah, Muhammad Ridwan, Sabtu (7/3/2020).

Pembangunan jalur kereta Tasikmalaya–Singaparna dimulai tahun 1910 dengan panjang jalur 17, 8 km. Jalur itu membentang melewati wilayah perkotaan, sedangkan lainnya melewati pegunungan. Awalnya, pembangunan jalur akan sampai di Mangunreja dan Cubeuti melalui padalaman Sukaraja. Namun karena penduduk sedikit berbukit, dan keharusan membangun jembatan yang melintasi sungai Ciwulan, rencana itu pun batal.

“Haltenya itu di Cibanjaran dan di Singaparna yang saat ini dipakai bangunan Polsek Singaparna dan SMP 1 Singapanar. Ada setidaknya 12 pemberhetikan ddengan jarak 1200 meter tiap pemberhentikan,“ ucap Ridwan.

Menekan anggaran pembangunan kala itu, kata Ridwan, pemerintah Hindia Belanda menggunakan bahan bekas dari pembangunan jalur Batavia–Karawang. Bahan itu berupa Besi untuk bangunan atas dan jembatan.

“Bisa digunakan untuk akses umum itu sekitar tahun 1911, “ kata Ridwan.

Adanya Jalur kereta dari Tasikmalaya menuju Singaparna itu diaminkan oleh Sadikin (90) Warga Desa/Kecamatan Singaparna. Sadikin yang saat itu berusia 10 tahun sering bermain di area halte kereta. Bahkan tidak jarang dia diajak oleh ayahnya Samaun ke wilayah Tasikmalaya untuk berbelanja kebutuhan pokok.

Kapungkur sering diajak ku pun bapa ka Tasik, sok meser acuk atanapi meser kabutuhan beas kopi sareng sanesna, ka ditu jalurna teh ka Cilampung pami ayeuna mah,“ tutur Sadikin.

Bukti lain adanya jalur Kereta api Tasikmalaya–Singaparna yakni adanya papan nama di beberapa titik kampung Pasar Baru Desa Singaparna yang menyebutkan jika tanah tersebut milik PT KAI.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar