Yamaha

Kisah Penghulu Garut yang Tertular Wabah Sampar

  Kamis, 26 Maret 2020   Redaksi AyoBandung.Com
Ruang rawat inap pasien laki-laki di rumah sakit Garut sekitar 1925. (Sumber: Tropenmuseum)

“Saya mengalami demam malaria, dibarengi sakit kepala yang berat dan batuk tak putus-putus. Jadinya sangat menderita. Sudah pernah dicoba pelbagai cara, tapi tidak berhasil hingga saya memutuskan minum Abdijsiroop, Klooster Sancta Paulo. Gembira sekali mengabarkan kepada Anda bahwa saya menjadi lebih baik setelah meminum beberapa botol sirup tersebut. Bisa disebut Abdijsiroop adalah obat efektif yang dapat saya sarankan. Silakan gunakan hak tulisan, termasuk potret saya ini.”

Kira-kira begitulah terjemahan pernyataan Raden Hadji Mohamad Soedjai, dalam iklan pada koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie (16 April 1910) dan De Preanger-Bode (24 April 1910). Raden Hadji Mohamad Soedjai saat itu menjabat sebagai naib atau wakil penghulu yang tinggal di Kampung Tragang (Tarogong), Progang, kira-kira 5 pal atau 7,5 kilometer jauhnya dari Garut.

Iklan Abdijsiroop dan pernyataan sang naib terus bertahan, paling tidak hingga tahun 1914. Ini terbukti dari tayangan dalam De Preanger-bode (18 Januari 1914) dan Bataviaasch Nieuwsblad (6 Juni 1914), dengan pernyataan yang dipersingkat. Katanya, “Saya, Raden Hadji Mohamad Soedjai naib (Wakil Pangulu), di Kampung Tragang, sekitar 5 pal dari Garut. Saya dirundung sakit tak berkesudahan, terus terasa nyeri, tanpa ada yang bisa menolong. Akhirnya, memutuskan untuk menggunakan Abdijsiroop, dan segera merasa lebih baik. Beberapa botol Abdijsiroop menyembuhkan sakit saya”.

Foto-01-JPG
Sketsa Raden Hadji Mohamad Soedjai. Sumber: De Preanger-Bode edisi 24 April 1910.

Baik dari iklan tahun 1910 maupun 1914, kita jadi tahu bahwa antara masa tersebut, Soedjai masih bekerja sebagai naib penghulu yang tinggal di Tarogong, Garut. Jabatan tersebut juga bertahan hingga 1920. Paling tidak, ini bisa dibuktikan berita dari De Preanger-Bode (2 November 1918), yang menerangkan bahwa ia sebagai naib di Tarogong menyewakan lahannya di Kampung Sindangheula, Desa Pasar, Distrik Garut, untuk studio (atelier) kepada B. J. van der Willigen.

Adapun keterangan dari tahun 1920 dapat dibaca dalam konteks perlawanan Haji Hasan Arif, dkk., dalam Peristiwa Cimareme (Garoet zaak atau Garoet drama) tahun 1919. Dalam peristiwa tersebut, karena pihak kepenghuluan (pakauman) terlibat sebagai pengadilan, yang saat itu penghulu kepala Garut dijabat Raden Mohamad Tabri, Soedjai juga ikut terlibat. Dalam pengadilan salah satu tokoh yang terlibat di Cimareme, yakni Gadjali, Soedjai, yang masih menjabat sebagai naib Tarogong, hadir menjadi wakil dari adviseur atau penasihat urusan pribumi G.A. Hazeu yang berhalangan hadir karena sakit (De Preanger-Bode, 2 Maret 1920).

Tapi ia juga mungkin mewakili penghulu kepala Garut yang berhalangan hadir. Karena dalam berita Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (4 Maret 1920) disebutkan bahwa karena penghulu kepala sakit, pengadilan ditangguhkan hingga hari Sabtu yang akan datang. Atau memang baik Hazeu maupun Tabri, sakit.

Setelah pengadilan tersebut, Soedjai dipromosikan sebagai wakil penghulu kepala Garut (De Nieuw benoemde adjunct-hoofdpanghoeloe bij den landraad) pada bulan Juli 1920. Ia diambil sumpah sebagai pejabat baru pada 16 Juli 1920 di Kaum Garut (De Preanger Bode, 17 Juli 1920). Tiga tahun kemudian, nama Raden Hadji Mohamad Soedjai muncul lagi dalam promosi jabatan wakil penghulu kepala di Bandung (De Indische Courant, 27 Juni 1923). Apakah dia orang yang sama dengan wakil penghulu kepala Garut? Bisa jadi orang yang sama atau bisa juga karena namanya sama.

Yang jelas kemudian, pada 1930-an, Soedjai diangkat sebagai penghulu kepala Garut. Peristiwa menyolok yang berkaitan dengan dirinya adalah ihwal kematiannya. Ia meninggal karena tertulari wabah sampar yang sedang menerjang wilayah Garut, dan umumnya Pulau Jawa, pada tahun 1935. Berita kematiannya secara serentak diberitakan dalam media-media berbahasa Belanda pada 31 Januari 1935, antara lain, oleh De Sumatra post, Soerabaijasch handelsblad, De Indische courant, dan Bataviaasch nieuwsblad. Sumber berita ringkas dalam keempat koran tersebut adalah AID Preanger-Bode, yang terbit di Bandung.

Namun, berita rincinya, saya dapatkan dari koran Sunda Sipatahoenan edisi 1 Februari 1935. Dalam tulisan bertajuk “Drg. Hoofdpanghoeloe Rd. MH. Soedjai Poepoes” disebutkan bahwa pada hari Rabu yang lalu penghulu kepala Garut meninggal dunia. Padahal, katanya, penghulu tersebut baru saja dianugerahi bintang perak dari pemerintah kolonial (anyar keneh pisan kenging zilveren ster) dan sebentar lagi akan mengadakan pesta untuk anugerah tersebut. Alhasil, ada lowongan baru bagi jabatan penghulu kepala di Garut.

Foto-02-jpg
Peta sebaran kematian akibat wabah sampar di Karesidenan Priangan tahun 1935. Sumber: H. J. Rosier (1937)

Kira-kira dina sapuluh poe ka tukang nu pangheulana pupus teh nya eta putrana, sarta dina heuleut lima poe ditumbu ku rencangna. Ti rencangna nema deui ka Juragan Hoofdpanghulu” (Sekitar sepuluh hari ke belakang, yang pertama meninggal adalah putranya, selang lima hari disambung oleh pembantunya. Dari pembantunya bersambung kepada tuan penghulu kepala). Demikian diterangkan kronologi penularan sampar kepada Soedjai. Kemudian, redaksi Sipatahoenan menyimpulkan, “Jadi anu maraot teh contact-personen wungkul” (jadi yang meninggal itu orang-orang yang pernah berhubungan).

Karena waktu itu vaksin sampar sudah ditemukan, redaksi memberikan saran agar dr. Otten segera melakukan penyuntikan vaksin terhadap orang-orang yang berada di sekitar Masjid Agung Garut, Leuwidamar, Regol, Ciledug, dan lain-lain (“Asa leuwih utama upama ayeuna Dr. Otten ngaheulakeun nyuntikan heula di palebah gomplokan kamp juragan Hoofdpanghulu nya eta Kaum tuluy ka Leuwidamar, Regol, Ciledug, enz”).

Peristiwa tertularnya penghulu kepala Garut hingga meninggalnya bisa dikatakan bagian dari rangkaian panjang kematian akibat wabah sampar di Garut pada tahun 1935. Karena menurut catatan H. J. Rosier dalam tulisannya “Verslag betreffende de Pestbestrijding op Java over het jaar 1935” (dalam Mededeelingen van den Dienst der Volksgezondheid in Nederlandsch-Indië, jaargang XXVI, 1937), banyak korban wabah sampar di Garut. Menurut rekapitulasi Rosier, dari jumlah penduduk Garut sebanyak 670.870 jiwa, yang meninggal karena wabah sebanyak 4.108 orang atau 6.1%.

Dari jumlah sebanyak itu dan dibandingkan dengan daerah lainnya, kematian akibat sampar di Garut pada 1935 termasuk tinggi. Sebagai perbandingan oleh Rosier disebutkan demikian: Cibatu, 11.8% dan Tarogong, 12% (Kabupaten Garut), Balapulang, 12.8% (Kabupaten Tegal); Karangpawitan, 14.5% dan Malangbong, 16.7%  (Kabupaten Garut); Moga, 17% (Kabupaten Pemalang) dan Wanaraja, 17.4% (Kabupaten Garut). Alhasil, Raden Hadji Mohamad Soedjai bersama anak dan pembantunya, termasuk di antara 4.108 orang yang meninggal akibat wabah sampar di Garut pada 1935.***

(Atep Kurnia/Peminat literasi dan budaya Sunda)

Catatan Redaksi:

Sebelumnya tulisan ini telah dipublikasikan oleh Ayobandung.com dalam artikel berjudul "Penghulu Garut Tertular Sampar 1935".

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar