Yamaha

KH Ruhiat, Putra Lurah yang Jadi Ulama Tersohor

  Rabu, 29 April 2020   Irpan Wahab Muslim
KH Ruhiat. (www.nu.or.id)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Pondok Pesantren Cipasung di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya didirikan oleh Kiai Haji (KH) Ruhiat pada 1931. KH Ruhiat sendiri lahir di Tasikmalaya tepatnya di Kampung Cisaro, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, 11 November 1911.

KH Ruhiat terlahir dari keluarga pasangan Haji Abdul Ghafur dan Umayyah. Ayahnya merupakan lurah pada jaman kolonial atau sekitar tahun 1917 setelah penggabungan dua Desa yakni Cimunding dan Sukasenang.

Pada usia belia, KH Ruhiat menimba ilmu di Pesantren Cilenga di bawah asuhan KH Sobandi, kurun waktu 1922-1926. Di Pesantren Cilenga, beliau belajar bersama KH Zaenal Mustofa yang belakangan dinobatkan sebagai pahlawan nasional karena melawan penjajah semasa Jepang.

Pada tahun 1927 hingga 1928, KH Ruhiat mondok di Pesantren Cimasuk, Sukaraja, Kabupaten Garut, di bawah asuhan KH Raden Ahmad Emed. Kemudian berlanjut di Pesantren Kubang Cigalontang di bawah asuhan KH Abbas Nawawi dan Pesantren Cintawana di bawah asuhan KH Toha.

Setelah menimba ilmu ke berbagai pesantren, pada tahun 1931 KH Ruhiat mendirikan Pesantren Cipasung dengan bangunan pertamanya yakni masjid, asrama, pondok atau rumah kiai, dengan santri 40 orang. Bangunan itu didirikan di atas tanah milik ayah KH Ruhiat.

"Bangunannya itu terbuat dari bambu atau semi permanen. Asrama yang pertama dibangun itu ada sampai saat ini namanya asrama pusaka," kata salah seorang keluarga Pesantren Cipasung, Heriyadi Ahmad Satari, Rabu (29/4/2020).

Tahun pertama bermukim di daerah pesantren, KH Ruhiat beradaptasi dan mencoba bersosialisasi dengan lingkungan sekitaranya. Tidak jauh dari Cipasung, telah ada Majelis Talim di Kampung Jinten yang didirikan Ajengan Ahmad Zahid, di Cisaro Ajengan Azhuri, dan di Cikiray Ajengan Hidayat. Kedua ajengan terakhir merupakan putera dari Ahmad Zahid.

Pemilihan Cipasung sebagai nama pesantren sendiri dimaksudkan untuk membendung dakwah Jemaah Ahmadiyah dan mempersempit gerakan Wahhabiyyah yang setiap saat selalu mengundang perdebatan.

"Untuk memudahkan gerakan dakwah dan meraih simpati warga, KH Ruhiat juga menjalin relasi dengan warga yang dianggap tokoh di antaranya H Afandi, H Uzer, dan H Ucoy Qusoi," kata Hariyadi.

Di luar kisah pendirian Pesantren Cipasung, KH Ruhiat menikahi Siti Aisyah yang merupakan putri dari H Muhammad Suyuti. Suyuti merupakan Kepala Desa Cikinten. Pada tahun 1938, KH Ruhiat juga menikahi Siti Badriyyah sebagai istri kedua. Siti Badriyyah merupakan Anak H Kosasih yang merupakan petani kaya dari Cipancur.

"Dari dua istri tersebut, beliau mempunyai anak sebanyak 27 orang, salah satnya KH Ilyas yang meneruskan pesantren, KH Dudung Abdul Halim dan KH Abun Bunyamin Ruhiat," papar Hariyadi.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar