Yamaha

Masjid Agung Manonjaya, Bukti Perjalanan Sejarah Tasikmalaya

  Rabu, 29 April 2020   Irpan Wahab Muslim
Masjid Agung Manonjaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

MANONJAYA, AYOTASIK.COM -- Jika Anda ingin melihat sisa peninggalan sejarah pemerintahan Tasikmalaya yang dulu masih bernama Sukapura, Anda bisa datang ke Masjid Agung Manonjaya. Di sini, Anda akan melihat betapa hebatnya masyarakat pada masa itu karena telah membuat masjid yang indah dan megah.

Masjid Agung Manonjaya sendiri dibangun tahun 1832 oleh Raden Tumenggung Daruningrat atau Wiradadaha VIII.

Jika diperhatikan dengan seksama, bangunan Masjid Agung Manonjaya tampak berbeda dan unik dibandingkan dengan bangunan masjid lainnnya. Bangunan masjid berasitektur neoklasik dengan perpaduan Sunda, Jawa, dan Eropa. Jika masjid pada umumnya menggunakan atap berupa kubah, Masjid Agung Manonjaya menggunakan atap tumpang tiga.

Adaptasi neoklasik Eropa sendiri tampak dari kondisi serambi masjid yang memiliki banyak tiang penyangga. Sementara gaya Eropa dilihat dari menara masjid di sisi kanan, kiri, dan dua di tengah. Menara kanan dan kiri masjid berbentuk segi delapan. Ada enam buah jendela di setiap menara.

AYO BACA : KH Ruhiat, Putra Lurah yang Jadi Ulama Tersohor

Ruang utama, sedikitnya terdapat 10 tiang penyangga. Tiang tersebut terdiri atas empat tiang soko guru berbentuk segi delapan, empat tiang penyangga atap di antara tiang soko guru, ditambah dua tiang yang berdiri di depan mihrab.

Bukan hanya asrsitektur, Masjid Agung Manonjaya memiliki keunikan dari ruang salatnya. Ruang salat laki-laki dan perempuan terpisah. Khusus untuk perempuan (Pawastren), ruang salat ini berada di sebelah selatan tempat salat utama dengan panjang 11,4 meter dan lebar 3,8 meter.

"Menurut saya ini bernilai sejarah. Harus dijaga dan dilindungi dengan baik, jangan sampai rusak," kata Ilham (35) salah satu warga Manonjaya, Rabu (29/4/2020)

Keindahan Masjid Agung Manonjaya semakin lengkap dengan keberadaan alun-alun yang berada persis di bagian depan. Saat Ramadan, masjid ini sering digunakan ngabuburit warga.

AYO BACA : Hanya Sedikit Tukang Cukur Asgar Bertahan di Kota

"Kalau tidak lagi Pandemi Covid-19, biasanya ramai disini. Alun-alun jadi tempat ngabuburit warga disini, " ucap Ilham.

Karena umurnya yang sudah ratusan tahun, Masjid Agung Menonjaya tidak lepas dari beberapa kali direnovasi. Namun, bentuk dan keaslinan bangunan tetap dilestarikan karena sudah termasuk cagar budaya.

Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1952 pada bagian atap masjid dan pelebaran masjid. Awalnya, masjid hanya memiliki lebar hanya 16 x 16 meter, lalu dilakukan pelebaran menjadi 16 x 18 meter.

"Renovasi ringan juga pernah dilakukan tahun 1972 dan 1992," kata Sodikin (70) salah satu warga Manonjaya.

Renovasi besar pada Masjid Agung Manonjaya dilakukan pada 2011. Hal ini karena bangunan masjid rusak akibat gempa yang melanda Tasikmalaya pada 2009.

"Karena ketersediaan anggaran, perbaikan waktu itu memakan waktu hampir dua tahun," ucap Sodikin.

AYO BACA : Hidup Serba Online, Ini 7 Manfaat Digital Marketing Bagi Bisnis

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar