Yamaha

Mengenal Priangan, Wilayah Subur di Antara Gunung Berapi

  Kamis, 25 Juni 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Gunung Galunggung. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

AYOTASIK.COM -- Wilayah Priangan sudah ada sejak dulu. Kini, wilayah Priangan dikenal di daerah timur antara lain Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Sumedang.

Wilayah Keresidenan Priangan pada abad ke-19 luasnya kurang lebih seperenam Pulau Jawa. Di sebelah utara berbatasan dengan Keresidenan Batavia dan Cirebon, di sebelah timur berbatasan dengan Cirebon dan Banyumas, di sebelah selatan dan sebelah barat daya berbatasan dengan Samudra Hindia, dan di sebelah barat berbatasan dengan Banten.

Dikutip dari buku "Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942" karya Sejarawan Unpad Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S, disebutkan jika wilayah Priangan sangat subur. Karena merupakan daerah vulkanis yang dibentuk oleh gunung-gunung berapi dengan ketinggian antara 1.800 hingga 3.000 m di atas permukaan laut, seperti Gunung Gede, Gunung Galunggung, Gunung Papandayan, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Guntur, dan Gunung Cikuray.

"Sungai-sungai besar seperti Citarum, Cisokan, Cimanuk, dan Citanduy ikut mewarnai lingkungan Keresidenan Priangan. Sungai Cimanuk merupakan kali yang cukup penting, bahkan sudah dikenal perannya sejak zaman Kerajaan Sunda karena di muara sungai ini ada pelabuhan dagang yang cukup ramai sekaligus merupakan pembatas kerajaan," tulis Nina dalam bukunya pada halaman 30.

Kali atau sungai saat itu memiliki peranan penting terutama digunakan untuk alat transportasi. Masyarakat pada zaman itu, menggunakan sungai sebagai transportasi pengangkutan kopi dan garam adalah Citanduy dan Citarum.

"Di aliran Citarum terdapat gudang-gudang kopi milik VOC seperti Cikao dan Karangsambung."

Wilayah Priangan dihuni sebagian besar oleh suku Sunda yang sering disebut urang gunung, wong Gunung, atau tiyang gunung oleh orang yang tinggal di pesisir.

Menurut statistik, penduduk Priangan pada tahun 1815 berjumlah 194.048 jiwa dan pada tahun 1930 berjumlah 4.639.469 jiwa.

Dalam jumlah terakhir ini termasuk orang Eropa sebanyak 27.231 jiwa. (Bandingkan dengan jumlah orang Eropa tahun 1847 yang hanya 340 jiwa).

"Jadi, dalam kurun waktu satu abad lebih jumlah penduduk di Priangan meningkat 24 kali lipat, dan jumlah pertumbuhan orang Eropa 80 kali lipat dalam waktu 83 tahun," tulis Nina.

Tanah yang subur di Priangan ternyata bukan hanya menguntungkan penduduk pribumi yang mendiaminya. Bangsa Belanda yang datang ke Priangan sejak abad ke-17 dan meningkat terus terutama pada abad ke-19, mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Sumber dana dan sumber daya yang ada dieksploitasi habis-habisan.

Mata pencaharian utama penduduk Priangan pada mulanya berladang atau ngahuma; baru kemudian bersawah. Sejak zaman Kerajaan Sunda, orang Sunda dikenal bermata pencaharian sebagai peladang.

Ciri yang menonjol pada masyarakat peladang adalah kebiasaan selalu berpindah tempat untuk mencari lahan yang subur. Kebiasaan berladang ini turut berpengaruh terhadap bangunan tempat tinggal. Mereka tidak memerlukan bangunan permanen yang kokoh, cukup yang sederhana saja.

"Kemungkinan besar itulah salah satu sebab mengapa di Priangan tidak banyak peninggalan berupa candi atau keraton seperti di Jawa Tengah," tulis Nina.

Hingga pertengahan abad ke-19, berladang masih merupakan pola yang umum di pedalaman Jawa Barat. Usaha bersawah sebenarnya juga sudah digalakkan pada waktu Mataram melebarkan kekuasaannya ke Priangan.

Di beberapa daerah koloni dibuat pesawahan. Seorang pejabat VOC bernama Juliaen da Silva melaporkan bahwa ketika ia pada tanggal 5 Juni 1641 bersama enam orang Jawa melakukan perjalanan dari Banten menyusuri Kali Krawang, ia melihat penduduk di beberapa kampung di pinggir kali yang menimbun padi dalam jumlah banyak.

Pesawahan baru dibuka secara luas di berbagai daerah seperti Ciawi (Bogor), Bandung, Garut, Cianjur, dan Sumedang.

Kehidupan perekonomian di Priangan pada abad ke-17 ini tidak bisa dilepaskan dari perkebunan kopi. Minuman "air hitam" (maksudnya kopi) mula-mula dikenal oleh orang Belanda yang bernama Pieter van den Broecke pada tahun 1616 di Mocha, sebuah pelabuhan di Arab Saudi.

Tidak lama kemudian minuman ini menjadi populer di Negeri Belanda. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, tanaman kopi dapat ditemukan di jalan menuju ke Ancol, Batavia. Pada tahun 1696, Joan van Hoorn menerima kiriman biji kopi dari mertuanya yang berada di Malabar, India. Biji kopi ini kemudian ditanam di kebun-kebun sekitar Batavia.

Wali Kota Amsterdam, Nicolaes Witsen, yang masih kerabat Joan van Hoorn, kemudian memperkenalkan hasil kopi Jawa ini di negerinya. Berkat promosi wali kota inilah, Heren XVII pada tahun 1706 mendorong VOC untuk mengatur penanaman kopi di Jawa.

Para kepala pribumi diperintahkan untuk menanam kopi di daerah masing-masing. Aria Wira Tanu dari Cianjur tercatat sebagai kepala pribumi pertama yang menyetorkan kopi ke Batavia. Pada tahun 1718, Gubernur Jenderal Zwaardecroon berhasil mengirimkan 100.000 pon kopi ke Negeri Belanda.

Pada tahun 1786, produksi kopi mencapai 80.000 pikul (10.000.000 pon) per tahun. Produksi terus meningkat hingga 200.000 pikul per tahun. Kopi menjadi komoditas primadona untuk perekonomian Belanda hingga timbul ungkapan: tanaman kopi bagaikan gabus (penutup botol) yang mengapungkan pemerintahan kolonial di atas air. Setengah dari kopi yang dihasilkan berasal dari lereng-lereng Gunung Gede di Cianjur, selebihnya dari sekitar Bandung.

Para bupati Priangan yang menjadi pemasok kopi memperoleh uang dalam jumlah sangat besar sehingga dapat hidup bagaikan raja-raja. Tentu saja, betapa pun sedikit, rakyat menerima bagiannya juga.

Kejayaan berakhir pada 1 Januari 1917, ketika kopi Jawa tidak mampu lagi bersaing dengan produk dari negara lain sehingga penanaman kopi dihentikan.

Pada abad ke-19, penduduk di daerah pegunungan selain bekerja di perkebunan kopi, ada juga yang bekerja di onderneming (perkebunan) kina, teh, karet, kelapa, coklat, lada, dan serat nenas. Perkebunan kina yang terletak di ketinggian antara 1.000 - 1.800 m mulai dibangun pada awal abad ke-19.

Jumlah perkebunan di Priangan meningkat sejak diberlakukannya Undang-undang Agraria tahun 1870 yang membuka pintu bagi modal swasta. Pada akhir abad ke-19 perkebunan teh semakin marak. Pada tahun 1902 di Jawa Barat tercatat ada 81 buah perkebunan teh di samping 60 perkebunan kina.

Perkebunan teh terbaik ada di Pangalengan dan di sekitar Gunung Patuha, sedangkan perkebunan kina milik pemerintah yang cukup besar ada di Cinyiruan, Kabupaten Bandung. Di samping itu, ada perkebunan karet yang cukup berarti di Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Pada tahun 1913 di Priangan tercatat hampir 600 persil sewa dan lebih dari 500 dieksploitasi. Di antaranya ada tujuh perkebunan tebu yang menghasilkan bahan gula untuk diolah di luar Priangan karena di Priangan tidak ada pabrik gula tebu.

Karena adanya perkebunan ini, jaringan jalan "kontrak" (onderneming) untuk prasarana angkutan hasil kebun pun dibangun. Pembangunan jalan perkebunan, jalan raga, dan jalan kereta api yang menghubungkan beberapa kota di Priangan pada akhir abad ke-19 membuka isolasi daerah pedalaman Priangan, sekaligus juga menunjang perkembangan kota. Rel kereta api Batavia-Buitenzorg-Cianjur-Bandung dibangun tahun 1884.

 Kemudian pembangunan diteruskan menuju Cilacap melalui Cibatu (Garut), Tasikmalaya, dan Banjar (Ciamis). Pada tahun 1918 -1921 dibuat pula jalur kereta api menuju daerah-daerah perkebunan, yaitu Bandung-Rancaekek-Tanjungsari (Kabupaten Sumedang), Bandung-Ciwidey, dan Bandung-Majalaya-Pangalengan.

Di samping para pegawai Binnenlandsch-Bestuur, orang-orang Belanda yang menjadi administrator atau pemilik perkebunan (Preanger Planters), inilah yang secara langsung atau tidak langsung ikut memperkenalkan budaya Barat. (Bersambung)

Catatan redaksi:
Artikel ini sudah ditayangkan Ayobandung.com dengan judul "Priangan dalam Lintasan Sejarah".

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar