Yamaha

Dari Limbah, Warga Tasik Ciptakan Gitar Bernilai Seni Tinggi

  Sabtu, 27 Juni 2020   Irpan Wahab Muslim
Ditangan Heri Heryanto yang akrab disapa Meeng, limbah kayu, kaca, dan triplek bisa disulap menjadi gitar akustik bernilai seni tinggi. Hal ini mulai dilakukan pria kelahiran 2 Juli 1973 itu sejak tahun 1988. (Ayotasik.comk/Irpan Wahab Muslim)

SUKARAME, AYOTASIK.COM -- Ditangan Heri Heryanto yang akrab disapa Meeng, limbah kayu, kaca, dan triplek bisa disulap menjadi gitar akustik bernilai seni tinggi. Hal ini mulai dilakukan pria kelahiran 2 Juli 1973 itu sejak tahun 1988.

Ditemui Ayotasik.com di bengkel gitar yang diberi nama Tilazo Pantoza, warga Kampung Raweuy RT/RW 16/04, Desa Wargakerta, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya itu menceritakan kisahnya dalam membuat sebuah gitar. Kala itu, Heri yang menyukai musik mulai berkeinginan mempunyai sebuah gitar. Namun karena masalah uang, keinginan membuat gitar sendiri pun muncul.

"Akhirnya saya belajar kemana-mana, termasuk ke Bandung karena ada kakak saya ngasih tahu kalau dekat rumahnya ada yang suka bikin gitar. Saya ke sana, tapi saya tidak dikasih ilmu cara buatnya," kata Heri, Sabtu (27/6/2020).

Karena tidak mendapatkan ilmu pembuatan itu, kata Heri, ia pernah berhenti untuk belajar dan memilih profesi lain sebagai jalan hidup. Ia pernah menjadi montir sepeda motor dan kru rumah produksi di Jakarta.

Namun kecintaannya pada dunia musik, Heri pun kembali menekuni pembuatan gitar secara otodidak. Mulanya, ia belajar memperbaiki gitar teman atau tetangga yang rusak. Pada tahun 2000, ayah empat anak itu pun memanfaatkan limbah kayu dan triplek bekas pintu untuk dijadikan sebuah gitar.

"Alhamdulilah gitarnya jadi, dari situ saya ada inspirasi memberi nama bengkel saya Tilazo Pantoza atau kata sundanya tilas panto," ucap Heri sambil tertawa lepas.

Kesuksesan membuat gitar dari pintu bekas itu akhirnya menjadikan niat Heri untuk menjadi perajin gitar semakin memuncak. Baru tahun 2014 lalu, Heri memfokuskan menekuni pembuatan dan perbaikan gitar untuk dijadikan mata pencaharian.

Heri menambahkan, dalam membuat sebuah gitar, ia tidak jarang memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, mulai dari limbah kayu, triplek, dan kaca. Bahkan dalam proses pembuatan gitar, ia lebih banyak menggunakan cara manual, seperti menghaluskan dan meratakan kayu sebagai bahan bodi gitar menggunakan pecahan kaca.

"90 persen manual, pake kaca kalau untuk meratakan kayu. Kayu Mahoni sebagai bahannya kadang beli kadang ada yang ngasih," ucap Heri.

Berbicara soal produksi, lanjut Heri, ia tidak membuat gitar setiap hari. Namun dikerjakan setelah adanya pesanan. Pengerjaan sendiri tergantung pada permintaan pemesan. Mulai dari gitar berbahan kayu semua atau campuran triplek dan kayu.

Harganya pun beragam sesuai dengan bahan, jenis dan model. Heri membandrol gitar hasil tangannya itu mulai dari Rp600 ribu hingga Rp5 juta per unit. Sosial media pun dijadikan alat atau media promosi gitar hasil ciptakannya tersebut.

"Ada dari Lampung, Bogor hingga Bali. Mereka tahu rata-rata dari Facebook dan sosial media lainnnya," ujar Heri.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar