Yamaha

Kopi Cigalontang Tembus Pasar Belanda dan Jerman

  Kamis, 02 Juli 2020   Irpan Wahab Muslim
Area Perkebunan Kopi di Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang. (Ayotasik/ Irpan Wahab Muslim)

CIGALONTANGAYOTASIK.COM – Kecamatan Cigalontang, termasuk salah satu wilayah penghasil kopi di Kabupaten Tasikmalaya.

Dari Kecamatan yang mempunyai 16 desa itu, setidaknya beragam kopi muncul, mulai dari Kopi Soka Balendrang, Kopi Gunung Raja hingga Kopi Cigalontang.

Menemukan kopi hasil bumi Kecamatan Cigalontang tidaklah sulit. Di setiap kedai kopi yang ada di wilayah Tasikmalaya, kopi Cigalontang ini selalu ada. Bahkan, kopi hasil Kecamatan Cigalontang sudah masuk pasar regional maupun nasional.

Ayotasik.com pun mencoba menelusuri asal-muasal kopi Cigalontang hadir meramaikan beragam kopi dengan bertemu petani Kopi bernama Jenal (50) warga Desa Puspamukti. Jenal menuturkan, petani kopi di Cigalontang setidaknya tersebar di beberapa desa, diantaranya Desa Puspamukti, Desa Parentas dan Desa Cigalontang.

Awalnya, kata Jenal, sebelum menanam kopi, para petani menanam menaman cabai dan sayuran lainnya. Karena harga yang semakin merosot dan pasar yang kurang terbuka, para petani pun mencari cara agar mereka tetap produktif ditengah terus dihantui kebutuhan hidup.

“Dari situ, sekitar tahun 2012 petani mulai menanam kopi. Tapi dengan pengetahuan seadanya tentang bercocok tanam. Hasilnya juga tidak begitu menggembirakan, “ kata Jenal, Kamis (2/7/2020).

Pada tahun itu, lanjut Jenal, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk biji kopi atau berbentuk bubuk, melainkan menjual buah ceri kopi. Itu pun dengan harga yang sangat murah ditengkulak dengan harga Rp. 5.000 hingga Rp. 6.000 Perkilogram.

“Kita belum tahu, bagaimana mengolah kopi sehingga bisa dinikmati. Kita jual buah ceri kopinya saja karena pengetahuan kita terbatas," ujarnya.

Namun seiring waktu, para petani mencoba memberanikan diri merubah produksi kopi, mulai dari mengubah buah ceri kopi menjadi gabah, biji kopi di roasting atau pemanggangan dan menjadi biji kopi menjadi bubuk kopi.

Memberanikan Diri Bersaing di Dunia Kopi

Setelah berhasil merubah sistem produksi, lanjut Jenal, para petani memberanikan diri bersaing dengan kopi-kopi dari daerah lain. Awalnya, pemasaran kopi hanya sebatas bagi warga sekitar yang merantau ke luar kota dan pemanfaatan media internet. Selain itu, menjamurnya kedai kopi di Tasikmalaya sejak tahun 2015 menjadi peluang tersendiri. Para petani memberanikan diri manwarkan kopi khas Cigalontang kepada pemilik kedai.

“Awalnya kita dibantu warga yang merantau, lama-lama mereka suka. Kita juga menawarkan kopi ke kedai kopi di sekitar Tasikmalaya saja, “ ucap Jenal.

Dalam meningkatkan produksi dan memperluas pasar, lanjut Jenal, para petani yang tergabung dalam berbagai kelompok tani juga difasilitasi oleh Bank Indonesia. Berbagai event diikutsertakan baik di daerah Tasikmalaya hingga luar daerah. Dari situ, popularitas kopi Cigalontang semakin terkenal.

“Kita juga dibantu oleh BI dalam fasilitas produksi maupun pemasran. Kita ikuti event-event diberbagai daerah. Dan kita merasa terbantu, “ ucap Jenal.

Kenikmatan kopi Cigalontang bukan hanya terkenal di wilayah Tasikmalaya maupun Nasional, bahkan di tahun ini, kopi gunung raja khas Cigalontang bahkan akan diekspor ke Balanda dan Jerman. Hal itu diungkapkan Kepala Desa Puspamukti Atang Ridwan. Atang menuturkan, pemesanan dari Belanda dan Jerman itu merupakan buah dari event yang digelar di Jakarta.

“Tahun ini, kita akan ekspor ke Balanda dan Jerman. “ kata Atang.

Di Desa Puspamukti sendiri, setidaknya ada 200 hektare lahan yang ditanami kopi dan diolah oleh para petani yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Dalam waktu dekat, luas perkebunan kopi itu akan siap dipanen.

 

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar