Yamaha

Ini Kiprah Pemuda Tasikmalaya dalam Mengisi Pembangunan Daerah

  Kamis, 23 Juli 2020   Irpan Wahab Muslim
Kampung Kolecer di Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya tercipta berkat inisiasi pemuda setempat bernama Egi Supriadi yang disokong oleh Pemerintah Desa Cisayong. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia." Kalimat yang dilontarkan Presiden pertama Indonesia Soekarno itu melambangkan begitu kuat dan pentingnya peran pemuda.

Energi yang dimiliki pemuda, sangat dibutuhkan untuk mengisi pembangunan negeri. Maka dari itu, pemuda dituntut selalu hadir di tengah masyarakat dengan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Bahkan, sejarah mencatat, pemuda mampu membawa perubahan-perubahan. Semangat untuk selalu hadir dalam mengisi pembangunan itu harus terus berkobar di setiap dan berbagai kesempatan.

Di Kabupaten Tasikmalaya misalnya, banyak kiprah pemuda yang menghasilkan berbagai inovasi dan terobosan. Baik itu di bidang budaya, lingkungan, pendidikan, pertanian, perikanan hingga pemerintahan.

Berikut Ayotasik.com sajikan beberapa pemuda inspiratis yang berkiprah mengisi pembangunan di tengah masyarakat.

1.  Senip Apniandi
Senip Apniandi, warga Desa Sukamanah, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya ini sejak tahun 2010 lalu terjun menjadi peternak ikan koi. Tahun demi tahun profesi itu ia tekuni hingga saat ini.

Bermula dari ketidaksengajaan, pria kelahiran 22 April 1985 ini mampu meraup keuntungan Rp10 juta per bulan. Dalam usahanya, Senip melibatkan banyak orang termasuk pemuda yang ada di wilayahnya.

Tidak hanya sebagai peternak koi, Senip juga terjun menakhodai organisasi sosial yang sudah lama terbantuk yakni Ikatan Pemuda Pemudi Eureun Moyan Neglasari (Ippen), yang berkedudukan di Desa Sukamanah.

Melalui organisasi sosial ini, Senip membantu masyarakat dan jompo mengakses kesehatan di tingkat puskesmas pembantu (pustu) secara gratis.

"Intinya kehadiran saya dan Organisasi sosial yang saya pimpin, ingin bermanfaat bagi masyarakat sekitar meskipun dalam hal yang sangat sederhana," ucap Senip, Kamis (23/7/2020).

2. Angga Maulana
Bagi sebagian orang, limbah seperti pipa paralon, karet bekas, onderdil motor, dan minuman kaleng tidak bernilai ekonomis. Namun lain halnya menurut Anggara Maulana (32), warga Mageung, Desa Sirnasari, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Di tangan kreatif pria lulusan SMK YPC Cintawana tahun 2007 ini, limbah-limbah tersebut diolah menjadi karya seni miniatur motor yang bernilai ratusan ribu rupiah.

Angga memanfaatkan limbah menjadi karya seni dimulai sejak tahun 2008. Ia melihat banyak limbah tidak terpakai di sekitar rumahnya. Dari situ, ide memanfaatkan limbah menjadi sebuah karya muncul.

Awalnya, pria kelahiran 11 Maret 1987 ini hanya membuat miniatur motor yang ditempel di pintu kamarnya. Namun belakangan, Angga mencoba membuat miniatur motor mirip seperti aslinya.

Pembuatan miniatur motor itu, diawali dengan menggambar sketsa motor, kemudian membuat rangka motor dari bahan pipa paralon. Bagian mesin motor juga dibuat dari pipa paralon bekas yang disusun sehingga menyerupai mesin motor aslinya.

Pembuatan satu jenis motor membutuhkan waktu setidaknya satu minggu. Karena pengerjaan harus secara detail, termasuk bagian terkecil motor. Bukan hanya motor klasik, motor keluaran terbaru dan motor matik dibuat oleh tangan kreatifnya.

3. Heri Heryanto
Heri Heryanto, warga Kampung Raweuy, Desa Wargakerta, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya memanfaatkan limbah kayu triplek menjadi gitar akustik bernilai seni tinggi. Hal ini mulai dilakukan sejak tahun 1998 oleh pria kelahiran 2 Juli 1973 tersebut.

Kesuksesan membuat gitar dari kayu dan triplek itu akhirnya menjadikan niat Heri untuk menjadi perajin gitar semakin memuncak. Baru tahun 2014 lalu, Heri memfokuskan menekuni pembuatan dan perbaikan gitar untuk dijadikan mata pencaharian.

Dalam membuat sebuah gitar, ia tidak jarang memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, mulai dari limbah kayu, triplek dan kaca. Bahkan dalam proses pembuatan gitar, ia lebih banyak menggunakan cara manual, seperti menghaluskan dan meratakan kayu sebagai bahan bodi gitar menggunakan pecahan kaca.

"Karena keterbatasan modal, dan sayang melihat banyaknya kayu berserakan, saya coba ubah menjadi karya seni. Alhamdulilah kalau karya saya dihargai oleh masyarakat ," ujar Heri.

4. Opan Hambali
Sejumlah orang yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Ciawang yang berkedudukan di Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya di bawah pimpinan Opan Hambali mempunyai cara sendiri dalam mengenalkan kesenian Sunda buhun kepada masyarakat dan generasi muda.

Cara itu yakni dengan menggelar kegiatan Ngaguar Obrolan Budaya Sunda (Ngaronda) yang digelar setiap bulan sekali tepatnya pada minggu pertama. Ngaronda digelar untuk mengenalkan kembali kesenian-kesenian Sunda buhun atau kesenian lainnya yang pernah ada.

Dalam setiap kegiatan Ngaronda itu dibahas tema yang berbeda namun fokus pada pembahasan dan penampilan kesenian Sunda.

Hiburan tontonan ini, sebagai edukasi untuk warga karena bukan tahu hanya dari mendengar saja, melainkan tahu sampai ke dalam. Dengan harapan dari awal tontonan ini menjadi sebuah tuntunan untuk melestarikan budaya seni Sunda khususnya yang ada di wilayah Tatar Sunda.

5. Egi Supriadi
Bertujuan menghidupkan kembali permainan tradisional, Egi Supriadi membuat Kampung Kolecer di Kampung Wangun, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong. Dengan dukungan pemerintah desa setempat, Egi memberanikan diri menciptakan sesuatu yang berbeda untuk daerah tempat tinggalnya.

Bahkan, Kampung Kolecer yang digagasnya itu viral di media sosial. Tidak sedikit warga yang datang ke lokasi yang berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar