Yamaha

Geliat Usaha Kopi di Pangandaran, Harapan Bersaing dengan Daerah Lain

  Rabu, 29 Juli 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Kabupaten Pangandaran memiliki potensi kopi yang cukup besar, dengan perkebunan kopi yang tersebar di beberapa kecamatan, menghasilkan ratusan ton kopi per tahun. (Dokumentasi pribadi/Tarli Sutarli)

PANGANDARAN, AYOTASIK.COM -- Sejak tahun 2018, perkebunan dan usaha kopi di Kabupaten Pangandaran mulai terlihat geliatnya. Tarli Sutarli (42), petani sekaligus pedagang kopi asal Pangandaran ini menjelaskan Pangandaran memiliki sumber daya kopi yang melimpah dan tersebar di beberapa kecamatan.

“Estimasi perkebunan kopi di Kabupaten Pangandaran itu sekitar 350 hektare, tersebar di Kecamatan Cigugur, Langkaplancar, Sidamulih, dan Parigi. Paling banyak di Kecamatan Langkaplancar dan Sidamulih,” ujar Tarli.

Selain terdapat perkebunan yang luas, hasil perkebunan kopi di Pangandaran juga cukup menjanjikan, “Estimasi penghasilannya per tahun 250 ton dengan komposisi varietasnya 95% Robusta, 5% arabika dan liberika,” tambah Tarli

Tarli yang merupakan sekretaris Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Kabupaten Pangandaran ini mengatakan, ada kurang lebih 500 petani kopi di Kabupaten Pangandaran. Selain menjadi petani, masyarakat Pangandaran yang bergantung hidupnya dengan kopi ada pedagang dan pelaku usaha kopi.

Pedagang kopi yaitu orang yang memasok biji kopi (greenbean), kopi bubuk, atau kopi instan kemasan dengan merk masing-masing. Salah satunya adalah Tarli yang juga memiliki merk kopi bernama Kopi Cap Bueuk. Pelaku usaha kopi adalah orang yang mengembangkan usaha dari produk kopi, misalnya memiliki kedai kopi.

Selain Kopi Cap Bueuk milik Tarli, sudah ada 11 merk kopi lokal lain yang berasal dari Kabupaten Pangandaran, di antaranya Kopi Srikandi, Kopi Pangandaran, Kopi Purbahayu, Kopi Manyeu, Kopi Beleunder, Kopi Padopokan , Kopi Wa Eli, kopi Romantish, Kopi Rokid, Kopi Jurutelu, dan Kopi Gunung Parang.

Produksi kopi di Pangandaran juga telah memasok ke beberapa daerah lain di Indonesia. Tarli berkata, biasanya kopi dengan kualitas tinggi (fine coffee) biasa dikirimkan ke kedai-kedai kopi di Pangandaran, Tasikmalaya, Bandung, sampai Sukabumi. Namun untuk kopi dengan kualitas standar (kopi asalan), biasa dikirimkan ke Kecamatan Banjarsari atau Tasikmalaya.

Dengan melesatnya perkembangan kopi di Pangandaran ketika gaya hidup kopi di masyarakat juga sedang tinggi-tingginya, Tarli berharap kopi yang diproduksi oleh masyarakat Pangandaran tidak kalah saing dengan kopi dari daerah lain di Indonesia.

“Harapan saya ke depannya semoga kopi di Pangandaran lebih bagus dan berkualitas, serta usaha kopinya juga naik level,” pungkas Tarli. (Fariza Rizky Ananda)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar