Yamaha

Lomba "Agustusan" Makan Kerupuk Punya Filosofi Mendalam

  Kamis, 06 Agustus 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Ilustrasi -- Anak-anak Swedia ikut balap karung dan makan kerupuk memperingati HUT Ke-74 RI yang diadakan Perhimpunan Indonesiska Föreningen-Gothenburg di Gothenburg, Sabtu (24/8/2019). (ANTARA/HO-KBRI Stockholm)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Siapa yang tidak tahu lomba makan kerupuk? Lomba makan camilan yang digantungkan pada seutas tali ini merupakan perayaan kemerdekaan paling umum.

Teknisnya sederhana. Sebuah kerupuk putih diikat pada seutas tali yang kemudian diikatkan dengan seutas tali lain yang lebih panjang. Pemenang ditentukan berdasarkan siapa yang mampu makan kerupuk paling cepat.

Peraturannya? Tidak boleh disentuh tangan sama sekali. Peserta harus menganga untuk menangkap dan mengunyah kerupuk bergoyang.

Namun, siapa sangka permainan sederhana ini memiliki filosofi yang lebih mendalam?

Mirip seperti panjat pinang yang menekankan nilai nasionalisme dan patriotisme, lomba makan kerupuk pun begitu. Lomba makan ini “menghormati” bagaimana leluhur kita dahulu kesulitan mendapat makanan.

Sejak masa penjajahan hingga kemerdekaan, masyarakat Indonesia mayoritas miskin. Bagi mereka, makanan berupa nasi dan kerupuk sudah dianggap lebih dari cukup. Nasi dan kerupuk pun tidak lama menjadi santapan favorit para pejuang kemerdekaan di medan perang.

Untuk menghormati penderitaan tersebut, lomba makan kerupuk ini dilakukan setiap hari kemerdekaan.

Hadiah yang ditawarkan dari penyelenggara lomba berskala besar pun tidak tanggung-tanggung. Tahun lalu, photo challenge lomba makan kerupuk bisa membuat Anda mendapatkan Rp170 juta!

Selain lomba makan kerupuk khas Indonesia, Amerika Serikat pun mengadaptasi filosofi mirip.

Baik Indonesia dan Amerika Serikat menggunakan satu jenis makanan sebagai instrumen pamer patriotisme mereka.

Setiap tanggal kemerdekaan Amerika Serikat, yakni 4 Juli, diadakan “Nathan’s Hot Dog Eating Contest”. Apabila Indonesia lomba makan kerupuk, Amerika Serikat lomba makan hot dog!

Menurut legenda, pada tahun 1916, kedai Nathan’s didirikan oleh imigran Polandia, Nathan Handwerker. Mayoritas pelanggan pada masa itu adalah imigran.

Akibat status mereka sebagai imigran, mereka sering berdebat mengenai siapa yang paling cinta tanah air. Untuk membuktikannya, lomba makan hot dog pun dilakukan.

Lomba makan terpopuler dari Amerika Serikat ini diselenggarakan sejak 1972 sampai sekarang. Teknisnya lebih berat ketimbang lomba makan kerupuk: siapa yang bisa makan hot dog paling banyak dalam 10 menit?

Pemenang terakhirnya, Joey Chestnut, memegang rekor dunia dengan 73 hot dog!

Makanan sudah bisa menjadi identitas patriotisme negara, loh! Kerupuk untuk Indonesia, hot dog untuk Amerika Serikat. Bagaimana, ya, kalau lomba makan kerupuk Indonesia mengikuti sistem Amerika Serikat? (Farah Tifa Aghnia)

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar