Yamaha

Selama Sepi Peziarah Warga Pamijahan Alih Profesi dan Merugi

  Minggu, 09 Agustus 2020   Irpan Wahab Muslim
Selama Sepi Peziarah Warga Pamijahan Alih Profesi dan Merugi

BANTARKALOG, AYOTASIK.COM - Sepinya aktivitas para peziarah ke Makam Syaikh H. Abdul Muhyi di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya membuat aktivitas perekonomian warga yang mengandalkan paziarah lumpuh total.

Warga pamijahan sendiri, mengandalkan berjualan oleh-oleh baik pakaian, makanan maupun pernak pernik dan jasa mengantarkan peziarah. Tidak adanya kunjungan peziarah, mereka harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup.

Supriatna (45) misalnya, ia yang sehari-hari berjualan pakaian dan makanan seperti dodol dan kerupuk kulit khas Garut di pintu gerbang objek wisata religi Pamijahan terpaksa harus ke sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Supriatna yang mempunyai dua anak yang masih sekolah dibangku SD dan SMP itu pun  bercocok tanam dan mencari daun singkong untuk jadi panganan makan keluarga. Untungnya, ketersediaan beras tersedia karena setiap kali panen, ia selalu menyimpan beras di rumahnya untuk persediaan.

"Waktu sepi ya hampir semua bertani, pindah profesi. Ada juga yang jadi ojeg dadakan atau buruh serabutan. Kalau yang mengandalkan peziarah seperti saya memang agak berat kalau sepi peziarah, " ucap Supriatna saat berbincang dengan Ayotasik.com di toko miliknya, Sabtu (8/8/2020).

Bukan hanya Supriatna, kondisi yang sama juga dialami oleh Mikdar (36). Mikdar selama ini membantu peziarah yang ingin masuk ke Gos Saparwadi yang masih berada di Komplek Pemakanan Syaikh H. Abdul Muhyi. Tidak adanya peziarah, membuat ia harus banting tulang menjadi buruh serabutan untuk menghidupi keluarga.

"Biasanya saya nemenin peziarah yang mau ke Gua, jasa lah istilahnya sambil penyewaan lampu senter. Udah we tidak ada peziarah sama jadi kuli," ujar Mikdar.

Terpukulnya ekonomi masyarakat di sekitar Pamijahan juga diakui Kasepuhan Pamijahan KH. Endang Azidin. Sebelum terjadinya pandemi Covid-19 atau sekitar bulan Februari, banyak masyarakat yang berjualan kolang kaling membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk dijual pada bulan Maret yang kebetulan merupakan puncak kunjungan peziarah.

Namun, kata KH. Endang, pada bulan Maret atau bertepatan dengan puncak pandemi Covid-19, pemerintah daerah memutuskan untuk menutup lokasi ziarah yang berimbas pada tidan adanya pengunjung atau peziarah.

"Biasanya sebelum puasa, itu sedang ramai-ramainya peziarah. Pedagang itu sebelumnya sudah membeli kolang kaling untuk dijual kembali, tapi pas aktivitas ziarah ditutup sementara mereka rugi. " ucap KH. Endang.

KH. Endang menambahkan, selama pandemi Covid-19, banyak warga yang beralih profesi menjadi bertani dan berkebun. Ada juga yang menjual harta benda demi menyambung hidup.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar