Yamaha

16 Tahun Jadi Ibukota Kabupaten, Singaparna Tidak Banyak Berubah

  Rabu, 09 September 2020   Irpan Wahab Muslim
Komplek Perkantoran Pemkab Tasikmalaya yang dulu merupakan hamparan persawahan, dibangun pasca Ibukota Kabupaten Tasikmalaya berpindah dari Kota Tasikmalaya ke Kecamatan Singaparna tahun 2004 silam. (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Melalui PP Nomor Nomor 30 Tahun 2004, Ibukota Kabupaten Tasikmalaya yang sebelumnya berada di Kota Tasikmalaya berpindah ke Kecamatan Singaparna. Pemindahan Ibukota Kabupaten Tasikmalaya itu, berselang 4 tahun paska adanya pemekaran antara Kota/Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2000 silam.

Sejatinya, dengan perpindahan Ibukota Kabupaten ke Singaparna itu, pembangunan di kecamatan yang mempunyai luas wilayah 24.85 km persegi dengan jumlah penduduk 68.386 jiwa tersebut cepat terjadi. Namun 16 tahun berlalu, wajah Singaparna terkesan tidak ada perubahaan berarti.

Ketua PK KNPI Kecamatan Singaparna, Zamzam J Maarif mengatakan, Kecamatan Singaparna tidak banyak berubah meskipun sudah ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Tasikmalaya 16 tahun silam. Dari segi pembangunan, hanya terdapat perubahan di Desa Singasari dan Desa Sukamulya. Dimana didua desa itu terdapat komplek perkantoran Kabupaten Tasikmalaya.

“Awalnya hamparan sawah, kini berubah menjadi area perkantoran dan masjid Agung," ucap Zamzam, Rabu (9/9/2020).

Sementara untuk infrastruktur lainnya, lanjut Zamzam, hanya ada penambahan satu ruas jalan yakni dari perempatan Desa Singasari menuju jalan raya Cimerah Desa Cikunten. Sedangkan infrastrutur lainnya tidak ada perubahan sama sekali. Bukan hanya infrasturktur jalan, ruang terbuka hijau berupa alun-alun Singaparna pun kondisinya kian mengkhawatirkan.

“Paling ada satu penambahan ruas jalan, itu pun baru selesai akhir tahun lalu. Pembangunan di sektor lain tidak ada kalau dari kacamata saya, contohnya alun-alun Singaparna yang kondisinya semakin tidak terawatt," ujar Zamzam.

Kritikan lebih tajam dilontarkan Teten Sudirman, tokoh masyarakat Singaparna. Teten melihat, pemerintah tidak serius dalam mengelola dan menata ibukota Kabupaten Tasikmalaya. salah satu contohnya yakni dalam relokasi pasar dan terminal Singaparna yang sudah 7 tahun lebih tidak ada progress yang bisa dibanggakan.

Padahal, kata Teten, rencana relokasi itu sudah digaungkan pemerintah pada tahun 2013 lalu saat tampuk kepemimpinan dibawah kendali Bupati Uu Ruzhanul Ulum dan wakil Bupati Ade Sugianto.

“Jadi kesannya pemerintah tidak serius dalam merencanakan pembangunan. Jangankan bangunan pasar dan terminal, lahannya saja belum dibebaskan seluruhnya padahal 7 tahun lalu rencana itu dibuat,” ucap Teten.

Tidak hanya rencana relokasi pasar dan terminal, lanjut Teten, rencana pembangunan jalan lingkar utara dan selatan yang sempat mencuat ke permukaan, kini nasibnya entah sampai dimana. Padahal, jalan lingkar itu sangat diperlukan mengingat mobilitas warga di Kecamatan Singaparna cukup tinggi.

“Paska perpindahan kantor pemerintahan, mobilitas warga semakin tinggi. Ruas jalan tidak ada pembangunan, pun demikian dengan jalan lingkar yang saat ini belum terdengar adanya progress yang menggembirakan," pungkas Teten.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar