Yamaha

733 Hektare Lahan Pertanian Tasik Terancam Kekeringan

  Kamis, 10 September 2020   Irpan Wahab Muslim
ilustrasi kemarau. (Ayobandung.com/Irfan al-Faritsi)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Satuan Pelayanan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) wilayah V Kabupaten Tasikmalaya mencatat keadaan bencana alam kekeringan musim tanam padi 2020 di Kabupaten Tasikmalaya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya Rika Rukanah menjelaskan, pada periode 16-31 Agustus 2020, dari total luas lahan pertanian 3.461 hektare dengan rata-rata usia tanam 21-91 hari, area kewaspadaan kekeringan di Kabupaten Tasikmalaya seluas 733 hektare. Sementara lahan baru ditangani seluas 312 hektare.

Secara detail, Kecamatan Parungponteng mempunyai luas lahan pertanian 48 hektare. Dengan luas areal waspada kekeringan mencapai 23 hektar. Kecamatan Culamega seluas 1.166 hektare dengan luas area waspada kekeringan 75 hektare, Sodonghilir 716 hektare dengan luas area waspada 26 hektare.

Kecamatan Tanjungjaya 100 hektare dengan area waspada 35 hektare, Jatiwaras 135 hektare dengan area waspada 20 hektare, Gunungtanjung 97 hektare dengan luas area waspada 47 hektare, Mangunreja 350 hektare dengan luas area waspada 18 hektare, dan Rajapolah 210 hektare dengan luas area waspada 147 hektare.

Kecamatan Jamanis 346 hektare dengan luas area waspada 247 hektare, Ciawi 63 hektare dengan luas area waspada 55 hektare, Kadipaten 80 hektare dengan luas area waspada 15 hektare, dan Cibalong 150 hektare dengan luas area waspada 25 hektare.

Menurut Rika, untuk proses penanganan luasan lahan persawahan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah atau dinas dibantu penyuluh pertanian dan kelompok tani di lapangan, dengan mengatur saluran irigasi atau gilir giring.

"Jadi ada penjadwalannya, area persawahan dan blok mana yang dilakukan penanganan. Kelompok tani juga ada mitra irigasinya," terang Rika, Kamis (10/9/2020).

Area pertanian yang sudah mengalami dampak kekeringan, jelas Rika, memang debit airnya kurang atau lahan tada hujan. Jadi petani ketika musim penghujan baru menanam tanaman padi, untuk mengisi kekosongan lahan.

"Jadi jangan sampai lahan kosong, petani kalau ada air pasti ditanami padi, sehingga ketika tidak ada hujan menjadi salah satu kendala dilapangan. Kalau yang bukan lahan tada hujan, ada irigasi masih bisa dan pengairannya masih cukup," terang Rika.

Adapun bentuk kepedulian atau program terhadap petani puso atau gagal panen, ungkap Rika, pemerintah daerah atau dinas sudah menyampaikan kepada petani, ada program asuransi usaha tani padi (AUTP), untuk menanggulangi risiko gagal panen akibat kekeringan atau terkena banjir serta serangan hama.

"Rata-rata petani tidak mau masuk program tersebut, sehingga baru terasa seperti sekarang ketika kemarau. Simpel sebenarnya, petani cuma bayar premi per hektar Rp36 ribu, seharusnya Rp180 ribu, karena ada subsidi dari pemerintah menjadi murah," jelas Rika.

Rika menjelaskan bahwa ketika petani masuk program asuransi tersebut, ketika lahan pertaniannya terkena dampak kekeringan, dapat asuransi Rp6 juta per hektarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar