Yamaha

Cerita Perajin di Tasik saat Pandemi: Pesanan Hilang, Barang Numpuk!

  Rabu, 23 September 2020   Irpan Wahab Muslim
Para perajin anyaman bambu di Tasikmalaya tengah bekerja. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara, termasuk Indonesia, membuat roda perekonomian tengah terpuruk. Pagebluk ini sangat kentara membuat dunia usaha melesu. Tak sedikit yang gulung tikar atau setidaknya kehilangan pemasukan di banding hari-hari sebelum wabah datang.

Lesunya dunia usaha ini salah satunya seperti dialami oleh sejumlah perajin bordir dan anyaman bambu di Tasikmalaya.

Eden Wahyudin (33), seorang perajin baju muslim, misalnya, yang terpaksa mematikan mesin-mesin bordir lantaran tidak adanya operator yang menjalankan. Warga Kawalu, Kota Tasikmalaya, ini mengaku, seluruh karyawannya terpaksa dirumahkan karena pesanan bordir nyaris hilang.

“Waktu awal awal pandemik, saat bulan ramadan itu, saya merumahkan karyawan karena sepinya pemesan. Barang saya sempat menumpuk di gudang,“ ucap Eden, Rabu (23/9/2020).

Namun, sejak dua bulan terakhir, kata Eden, pesanan baju muslim seperti baju koko dan mukena, mulai bermunculan lagi. Pesanan datang dari berbagai daerahnya tapi dalam jumlah terbatas. Kondisi itu pun menjadi optimismenya akan kebangkitan dunia usaha.

“Tapi sekarang justru malah PSBB di Jakarta dan sekitarnya, hasil produksi terpaksa disimpan dulu karena pemesan di Jakarta tidak bersedia dikirim,“ ucap Eden.

Sementara itu, perajin anyaman bambu, Oman, menuturkan, pandemi Covid-19 membuat dia harus memutar otak agar usaha rintisannya selama puluhan tahun ini tetap bertahan. Caranya, dia terus memproduksi anyaman bambu meski jumlahnya terbatas. Menurutnya, dia tak tega bila menghentikan pekerjaan, terlebih para karyawannya sudah dianggap sebagai keluarga.

“Sebelum lebaran itu kita kehilangan omset 15% hingga 20%. Karena pesanan banyak yang dibatalkan karena kebingungan untuk menjual,” ucap Oman.

Memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), kata Oman, pesanan mulai ada meskipun tak sebanyak dulu. Paling banyak, pesanan dari konsumen di daerah lain berkisar antara 300 hingga 500 buah per buah dengan berbagai jenis anyaman.

“Alhamdulilah sekarang mulai ada pesanan, meskipun tidak terlalu banyak. Masih terbatas jumlahnya juga 500 buah paling sebulan, “ kata Oman.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar