Yamaha

Cerita Orang Tasik: Mantan Pecandu Narkoba Hijrah Jadi Tukang Cukur

  Kamis, 05 November 2020   Heru Rukanda
Pa’ul Saepuloh (42) mantan pecandu dan bandar narkoba yang kini memantapkan diri hijrah dan menjadi tukang cukur dengan membuka felix barbershop di Jalan Bantarsari, Kota Tasikmalaya, Kamis (5/11/2020). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

BUNGURSARI, AYOTASIK.COM -- Perjalanan hidup setiap orang tentunya memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Semuanya sudah ada yang mengaturnya dengan begitu sempurna. Hal tersebut sebagai salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran dari sang pencipta alam semesta beserta isinya, yakni Allah SWT.

Dalam menjalani kehidupan di alam fana ini tidak semuanya berjalan mulus sesuai dengan rencana dan kehendak setiap orang. Lika-liku kehidupan baik senang maupun susah tentu dirasakan oleh setiap orang di dunia ini. Bahkan tidak sedikit orang yang harus mengalami hidup di dalam penjara lantaran terjerat kasus pidana.

Pria bernama lengkap Pa’ul Saepuloh (42) salah satunya yang sempat mengalami hidup di dalam penjara. Kini pria dengan rambut kuning ini bekerja sebagai profesional stylis rambut dan membuka barbershop di Kampung Lewosari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bantarsari, Kota Tasikmalaya. Siapa sangka ayah 2 anak ini dulunya adalah seorang pencandu sekaligus bandar narkoba.

Ditemui di rumah kontrakannya di Jalan Bantarsari, Kamis, (5/11/2020), Pa’ul nampak sedang melayani konsumennya untuk potong rambut. Dengan ramah dia pun menyempatkan menyapa calon konsumennya yang akan dicukur. Di sela-sela kesibukannya melayani konsumen, pria dengan tato di kedua lengannya ini memberikan waktu kepada Ayotasik.com untuk berbincang.

“Lur sorry rada lila nungguan mereskeun heula gawean. (maaf teman agak lama menunggu beresin dulu pekerjaan),” ujar Pa’ul.

Saat ditanya soal pengalaman hidupnya yang pernah terjerumus ke dalam jeratan narkoba, tanpa ragu dan dengan gamplang dia menceritakan kisah hidupnya. Pa’ul mengaku, sejak usia smp dia sudah menggunakan narkoba jenis ganja. Barang haram tersebut dia dapatkan dari teman-temannya.

“Saya pakai ganja itu sejak kecil waktu sekolah di Bandung. Suka saja sama gele (ganja). Saya memang suka sekali memakai ganja tapi sekadar untuk sendiri. Tidak ada yang tahu kalau dirinya kerap memakai narkoba. Puluhan tahun saya pakai ganja. Bahkan pernah bawa ganja 7 kilogram dari Depok ke Tasikmalaya untuk dijual lagi. Waktu itu harga sekitar Rp 1,5 juta per bantal, saya jual lagi 5 juta” ungkapnya.

Bertahan Hidup Di Bandung Jualan Bonk dan VCD Porno

Sewaktu hidup di Bandung dengan saudaranya sekitar tahun 1991, Pa’ul sempat memiliki tiga konter aksesoris di Borma dan Palaguna. Namun, usahanya tersebut bangkrut. Selama 7 bulan ia mengaku ngegembel bahkan sempat menjadi anak punk. Demi bertahan hidup ia jualan bonk (alat hisap sabu) dan vcd.

“Untuk bertahan hidup saat itu, saya kerja apa saja yang bisa dilakukan. Jualan bonk dan vcd porno. Apa saja yang penting bertahan hidup,” tuturnya sambil tertawa.

Ia menuturkan, sewaktu jualan vcd porno yang lagi viral saat itu yaitu video mesum sepasang mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta, dirinya menjadi target operasi pihak berwenang karena jualan vcd porno. “Kabur ke Bogor dan setelah aman balik lagi, gitu saja dulu itu,” ungkapnya.

Karena terus-terusan menjadi target operasi polisi, Pa’ul pun memutuskan pulang kampung ke Tasikmalaya dengan niat ingin bertobat. Namun, godaan untuk bertobat kala itu mengalahkan keinginan untuk insap meninggalkan kecanduannya pada narkoba.

Pada waktu pulang ke Tasik, saya melihat Tasikmalaya itu seperti kuncup bunga sedang berkembang. Saya kumpul bergaul dengan anak-anak punk, komunitas dancer, dan komunitas lainnya. Dari situ saya melihat adanya suatu peluang untuk berkarya.

“Awal mula saya kembali lagi ke narkoba saya itu seperti dijebak. Ada bapak-bapak meminta ganja. Saya kan banyak teman-teman yang masih main narkoba. Saya kasihlah, eh ternyata saya dijebak. Dari situlah saya kena sama polisi gara-gara membelikan ganja. Saya di penjara 2,5 tahun gara-gara ganja satu kilogram,” ucap Pa’ul.

Pa’ul mengaku sudah 2 kali masuk penjara gara-gara narkoba dan keluar masuk ruang tahanan polsek sudah tidak terhitung lantaran kasus penganiayaan. “Kalau masuk tahanan polsek mah sudah tidak terhitung kang saking seringnya,” ungkapnya.

Setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Tasikmalaya, Pa’ul kembali lagi ke Jakarta. Untuk bertahan di Ibu Kota, diakuinya dia bekerja apapun seperti menjual jasa pembuatan tatto jualan aksesoris, dan jual makanan hingga akhirnya saya memiliki studio tatto di Cengkareng. Dari bisnis tatto tersebut Pa’ul pun mulai banyak memiliki uang.”Saya belajar tatto dari teman.

Saat memiliki studio tatto uang banyak lantaran banyak yang natobtuh. Di situ  saya main lagi narkoba. Nyabu tiap hari. Saya pun buron lagi dan meninggalkan studio tatto. Bangkrutlah studo tatto saya” ucapnya sambil tertawa.

Saat buron dari kejaran polisi, pria 42 tahun ini kabur ke Pulau Seribu dengan membawa mesin tatto. Di tempat pelariannya, Pa’ul pun kembali mengumpulkan rupiah dengan menjual jasa pembuatan tatto hingga balik lagi ke Jakarta.

Pernah Kerja di Salon

Setelah menikah dengan Rosalinda (25) warga Jakarta, Pa’ul sempat bekerja di sebuah salon kecantikan di citra dua dengan bekerjasama sama dengan teman. Selama di salon dia memperhatikan temannya saat mencukur rambut. “ Saya tukeran ilmu sama teman saya yang di salon. Saya belajar cukur rambut, teman saya ajarkan tatto dan sulam alis dan bibir,” ujarnya.

Usai keluar dari salon dirinya sempat menganggur cukup lama dengan kondisi istri sedang hamil anak ke 2. Selama menganggur, dia pun kembali ke dunia hitam narkoba dan kembali menjadi target operasi polisi. “Teman-teman saya tertangkap sama polisi. Alhamdulillah saya lolos dan kabur ke Tasikmalaya dengan anak dan istri yang lagi hamil gede,” ucapnya.

Tinggal di kontrakan berukuran 5 x 4 meter, Ayah 2 anak ini terus berpikir untuk bertahan hidup dan membiayai keluarga. Berbagai jenis pekerjaan sempat dilakukannya, mulai dari membuat layang-layang hingga jualan sosis bakar. 

“Ngontrak disini tuh ngutang dulu saya bang. Kabur dari Jakarta cuma bawa mesin tatto dan bedcover,” ungkapnya disaat mengenang awal tinggal di rumah kontrakan.

Tidak mudah kembali bergaul dengan masyarakat dan tetangga. Cibiran dengan stigma mantan narapidana dari warga selalu terdengar. Kendati demikian, cibiran itu tidak dianggapnya.

Di awal pandemi Covid-19 dan penerapan PSBB, Pa’ul mulai memberanikan diri untuk membuka barbarshop yang diberi nama felix barbarshop. Tempatnya bekerja saat ini awalnya tempat jualan seblak istrinya. “Saya yakinkan diri membuka barbershop untuk mencari nafkah buat anak istri. Saya targetkan dalam waktu 3 bulan untuk menguasi teknik mencukur rambut. Saya masuk komunitas barbershop dan nonton teknik mencukur di youtube,” ungkapnya.

Dengan keahliannya dalam mencukur dan menata rambut, Pa’ul berani membandrol jasanya Rp.20.000 di atas harga barbershop lainnya di kisaran harga Rp.10.000 sampai Rp.12.000.  Kendati demikian, dia tidak mematok harus membayar seharga Rp.20.000. “Jika ada konsumen yang uangnya kurang mungkin tidak tahu, saya terima saja berapa dia membayar. Kalau pun tidak punya uang saya gratiskan,” ujarnya.

Disamping itu, Pa’ul juga memberikan edukasi tentang potongan rambut, gaya rambut, hingga karakter tengkorak konsumennya. “Saya edukasi dulu konsumen agar tidak menyesal setelah dipotong rambutnya,” ucapnya.

Keliling Kampung Setiap Jum’at Cukur Gratis

Niatnya untuk berhenti dari narkoba kali ini berjalan mulus. Kini Pa’ul sudah terbebas dari ketergantungan dan menjadi bandar narkoba. Dia telah memantapkan diri untuk tidak lagi berhubungan dengan yang namanya narkoba, baik ganja maupun sabu.

Di sela-sela kesibukannya bekerja di barbershop, Pa’ul juga keliling kampung setiap hari jumat untuk memberikan jasa cukur gratis. Kegiatan cukur gratis tersebut sudah dilakukannya sejak membuka barbershop 8 bulan lalu. “Saya ingin berbuat baik untuk menebus dosa-dosa saya di masa lalu. Kalau urusan rezeki saya serahkan semuanya kepada Allah SWT. Dengan berbuat baik pasti akan datang rezeki yang baik-baik juga. Bisa ketemu dengan orang-orang baik,” jelasnya.

Selama perjalanan hijrahnya menjadi orang yang baik, dirinya kali pertama memantapkan diri untuk bersungguh-sungguh bertobat. Hal yang dilakukannya yakni dengan mengenali diri dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Dengan berjalannya waktu, Pa’ul pun bertemu dengan orang-orang mantan narapida yang sudah memantapkan diri untuk berhenti dari narkoba. Dirinya pun kini bergabung dengan yayasan Mantan Narapidana Tasix (Manasix). 

Menurutnya, narkoba itu tidak bisa diberantas sampai kapan pun. Namun, bisa dicegah agar para generasi muda ini tidak terjerumus ke dunia narkoba. “Di Manasix kami sebatas memberikan edukasi mengenai bahaya narkoba kepada masyarakat terutama para genarasi muda supaya tidak sampai menggunakan narkoba,” pungkasnya.

Harapannya kini ingin memberdayakan anak-anak muda yang ngangur. Dirinya ingin mengajarkan cara mencukur rambut untuk bekal mereka berusaha.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar