Yamaha

Cerita Orang Tasik: Tukang Rujak Bebek Tempuh Jarak Puluhan Kilo Meter Menjemput Rezeki Untuk Ibadah Haji

  Kamis, 19 November 2020   Heru Rukanda
Ikin Solikin (50), warga Kampung Legok Asih, Desa Tanjungsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, salah seorang pedagang rujak bebek yang biasa berjualan di Kota Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Heru)

TAWANG, AYOTASIK.COM -- Rujak bebek merupakan salah satu makanan tradisional Jawa Barat (Jabar) yang terbuat dari campuran buah-buah seperti jambu, nanas muda, pisang muda, kedondong, bengkoang, dan umbi-umbian yang potong kecil kemudian ditumbuk dalam sebuah wadah kayu sejenis jubleg berukuran kecil dengan bumbu cabai cengek, garam, gula merah, serta terasi.

Namun, kali ini tidak akan membahas bagaimana cara membuatnya, tetapi mengulas perjuangan seorang pedagang rujak bebek di tengah keterpurukan ekonomi dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak terkecuali Indonesia.

Ikin Solikin (50), warga Kampung Legok Asih, Desa Tanjungsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, salah seorang pedagang rujak bebek yang biasa berjualan di Kota Tasikmalaya.

Disela-sela jualannya menawarkan rujak bebek kepada warga, lelaki paruh baya ini rela meluangkan waktunya untuk berbincang dengan ayotasik.com, Kamis (19/11/2020).

Kepada ayotasik.com Ikin mengatakan, dirinya berjualan rujak bebek sejak tahun 2010 lalu setelah istrinya yang bernama Maryati meninggal dunia akibat penyakit kanker payudara.

"Sejak istri meninggal saja saya mulai dagang rujak jambu di Kota Tasikmalaya," ujar Ikin sembari memotong buah-buah untuk membuat rujak bebek.

Ia menuturkan, sebelum berjualan rujak bebek dirinya awalnya tukang kredit perabotan dapur atau rumah tangga di Bali selama 13 tahun.

"Lama di Bali jadi tukang kredit. Orang Tasik kan dulu terkenal juga sebagai tukang kredit," ucap Ikin.

Kendati sambil berbincang, pria dengan 3 anak ini tetap bisa fokus dalam membuat rujak bebek. tangannya yang sudah nampak berkeriput terus menumbuk bahan rujak agar bumbunya merata.

Rujak yang sudah jadi pun kemudian diambil menggunakan sendok dari dalam tumbukan ke wadah plastik kemasan bening ukuran sekitar 10x15 centi meter dan ikat dengan gelang. Tak lupa diselipkan sendok plastik kecil untuk alat makannya.

"Ini si aa mau pedas apa sedang rasanya," tanya Ikin kepada pembelinya.

Habis Sawah Untuk Pengobatan Istri

Seusai pulang dari Bali dan kembali ke kampung halamannya di Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Ikin mengaku sempat berjualan gula merah. Istrinya yang menderita kanker payudara pun membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan dan operasi.

"Istri menjalani operasi di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Waktu itu biaya operasi sekitar Rp 140 juta. Untuk biaya operasi istri saya jual harta benda termasuk sawah di kampung," ungkapnya yang nampak sedang mengenang istrinya yang telah tiada.

Ia mengatakan, tak lama setelah operasi istrinya meninggal dunia." Mungkin itu jalan yang terbaik buat almarhumah," ucapnya.

"Ini rujaknya a Rp 10.000," ujar Ikin sambil menyodorkan rujak bebek dalam kantong keresek bening kepada pembelinya.

Setiap hari Ikin berjualan rujak bebek keliling pusat Kota Tasikmalaya menempuh jarak belasan hingga puluhan kilo meter.

"Di sini saya hidup ngontrak di Kampung Cilingga dekat Pasar Cikurubuk. Kalau pagi-pagi saya jualan di alun-alun Kota Tasik. Di sana suka ada yang beli yang habis senam atau olahraga," ujarnya.

Ia menambahkan, setelah dari alun-alun dirinya melanjutkan berjualan ke stasiun kereta api, taman kota, dan dadaha.

"Sebulan sekali saya pulang kampung ke Salawu. Alhamdulillah sudah punya istri lagi sekarang," ucapnya.

Ingin Naik Haji Sama Istri

Di usianya yang tak lagi muda tidak lantas membuat Ikin berleha-leha. Keinginannya kini hanya satu yaitu bisa menyempurnakan rukun islam yang ke 5 menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah Almukaramah.

"Alhamdulillah saya dan istri sudah mendaftar untuk ibadah haji. Tiap bulan saya nyicil Rp 830 ribu untuk biaya ongkos naik haji. Saya dan istri yang sekarang juga sudah punya nomor kursi. Saya nomor 27 dan istri nomor 528," ungkapnya.

Untuk menjaga kondisi kesehatan agar tetap sehat ia mengaku selalu melaksanakan salat 5 waktu ditambah dhuha dan tahajud."Insya Allah kalau dari jadwal keberangkatan saya dan istri berangkat tahun 2035. Mudah-mudahan selalu diberikan kesehatan dan kekuatan," pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar