Yamaha

Misteri Nyai Sinden Neng Syarifah dan Kecelakaan Jalur Gentong Tasikmalaya

  Kamis, 17 Desember 2020   Heru Rukanda
Jalan Raya Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

KADIPATEN, AYOTASIK.COM -- Jalan Raya Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, dikenal sebagai jalur tengkorak atau rawan kecelakaan.  Sebagai pertanda bahwa jalur Gentong merupakan jalur rawan kecelakaan, di pinggir jalan pun di pasang rambu-rambu berlambang tengkorak. Bahkan polisi membuat sebuah tugu dengan sepeda motor ringsek di atasnya.

Kondisi jalan yang berkelok dan menanjak atau menurun serta berada di antara tebing dan jurang, membuat jalur ini memang dianggap sebagai jalur tengkorak.

Kali terakhir kecelakaan terjadi pada Rabu (15/12/2020). Bus pariwisata yang membawa rombongan dari Bandung terperosok ke jurang, tepatnya di Kampung Langkob, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. Beruntung seluruh penumpangnya selamat.

Bagi sebagian masyarakat Gentong, kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Gentong tidak semata-mata lantaran persoalan teknis kendaraan, tapi kerap dikaitkan dengan sebuah cerita misteri Nyai Sinden bernama Neng Syarifah yang berkembang di masyarakat Gentong.

Salah seorang warga, Ema (42) mengatakan, cerita misteri tentang Nyai Sinden Neng Syarifah sudah ada sekitar tahun 1940-an.

Menurut Ema, Nyai Sindeng Neng Syarifah merupakan sinden panggung yang merupakan warga asal Gentong. Konon katanya, Nyai Sinden Neng Syarifah memiliki paras yang cantik dengan rambut bersanggul dan memakai kebaya merah berselendang merah.

"Kata orang tua dulu, Neng Syarifah itu seorang sinden dalam sebuah grup ronggeng di Kadipaten dan banyak penggemar. Pakaiannya serba merah," ujar Ema, Rabu (16/12/2020).

Jadi Tumbal Pembangunan Jembatan

Ema menuturkan, dari cerita yang berkembang di masyarakat, Nyai Sinden berkebaya merah itu dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan yang dikenal dengan Jembatan Sarongge, di Kampung Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya pada zaman penjajahan Belanda.

Lantaran kematiannya yang tidak wajar itu, arwah Nyai Sinden Neng Syarifah konon kerap menampakan diri kepada pengendara yang melintasi Jalan Gentong. Bahkan tak jarang meminta tumpangan kepada pengendara dan minta diturunkan di sekitar jembatan atau tempat yang sunyi.

"Kata para sopir yang pernah melihat dan ditumpangi Nyai Sinden, kendaraan menjadi terasa berat ketika menaiki tanjakan," ucap Ema.

Sementara itu, warga lainnya, Aip (38) mengatakan, memang kisah Nyai Sinden Neng Syarifah tersebut cukup difamiliar di kalangan warga Gentong.

"Dari cerita orang tua, Nyai Sinden Neng Syarifah bersama grup ronggengnya dikubur hidup-hidup dijadikan tumbal," ujar Aip, Kamis (17/12/2020).

Ia menyebut kalau Nyai Sinden dulu kerap menampakan diri dengan pakaian serba merah ke pengendara dan meminta tumpangan. Kalau tidak diajak pasti hal buruk menimpa kendaraan dan terjadi kecelakaan.

"Jadi kalau sopir yang sudah tahu tentang kisah Nyai Sinden biasanya akan melemparkan rokok atau uang receh pada saat melintasi jembatan di Gentong Bawah," ucapnya.

Aip menuturkan, kalau sekarang jarang terdengar Nyai Sinden menampakan diri ke pengendara yang melintasi Jalur Gentong. "Kendati demikian, kalau pengendara yang tidak sopan di jalan ketawa-ketawa suka terjadi kecelakaan," ungkapnya.

Aip mengaku, dirinya masih ada ikatan saudara dengan sosok lain yang menjelma sebagai harimau dan menikahi Nyai Sinden Neng Syarifah secara gaib.

"Dulu sebelum ayah meninggal, dia pernah cerita ke saya bahwa uwa-nya yang termasuk orang paling berpengaruh dan memiliki ilmu kanuragan menikahi Nyai Sinden secara gaib. Sejak itu Nyai Sinden jarang muncul lagi," tuturnya.

Aip menambahkan, terlepas dari kisah yang beredar di masyarakat soal Nyai Sinden di Jalan Raya Gentong, dia mengimbau agar warga yang berkendara dan melintasi Jalur Gentong untuk tetap waspada dan hati-hati, karena jalan tersebut memiliki turunan dan tanjakan yang sangat curam dengan jurang dan tebing di pinggirnya.

"Intinya dalam berkendara harus fokus dan meningkatkan kewaspadaan saat melintasi Jalan Gentong ini," pungkasnya.

Kecelakaan: Faktor Alam dan Human Error?

Sementara itu, Kapolsek Kadipaten Polresta Tasikmalaya AKP Erustiana mengatakan, kejadian kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Gentong yang sarat tikungan dan tanjakan maupun turunan rata-rata disebabkan karena faktor alam dan human error.

"Jalur Gentong selain rawan kecelakaan juga rawan longsor. Kondisi alam seperti hujan juga biasa menyebabkan kecelakaan karena jalan menjadi licin," ujar Erustiana, Kamis (17/12/2020).

Di samping itu, faktor lain yang menyebabkan kecelakaan biasanya sopir baru melintasi jalur Gentong sehingga belum mengetahui medan jalannya.

Terkait dengan kejadian kecelakaan kerap dihubungkan dengan kemunculan sosok Nyai Sinden, Erustiana mengatakan bahwa cerita soal Nyai Sinden Neng Syarifah itu merupakan cerita dulu.

"Selama hampir  4 tahun saya bertugas di Gentong, tidak pernah dengar cerita itu dari orang orang yang terlibat laka lantas di Gentong. Saya imbau agar pengendara yang melintasi Jalan Gentong untuk lebih hati-hati," ucapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar