Yamaha

Dadih Leo, Preman Pensiun Yang Jadi Kepala Desa Mandalagiri Tasikmalaya

  Rabu, 13 Januari 2021   Irpan Wahab Muslim
Dadih Leo Kepala Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)
LEUWISARI, AYOTASIK.COM -- Preman pensiun, mungkin kalimat itu patut disematkan kepada Dadih Leo Kepala Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. 
 
Demi mengabdi kepada masyarakat di tanah kelahiran, Dadih Leo memilih meninggalkan dunia premanisme kelam yang ia telah geluti selama puluhan tahun. 
 
Ditemui Ayotasik.com di kantornya, Rabu (13/1/2020), Dadih menceritakan kehidupannya mulai dari menjadi preman hingga akhirnya sukses menjadi Kepala Desa. 
 
Pria kelahiran Tasikmalaya, 5 Agustus 1963 itu menceritakan perjalanannya di dunia premanisme dimulai dari perantauan di wilayah Banten pada 1985. Bukan hanya di wilayah Banten, ia juga terjun ke dunia hitam di wilayah Bogor, Tanjung Priok Jakarta, Bekasi, dan Bandung. 
 
Di beberapa wilayah itu, kata Dadih, ia menguasai beberapa toko dan lahan parkir. Pundi-pundi uang tiap hari mengalir deras ke kantongnya dan dikirim ke keluarganya yang berada di Tasikmalaya.
 
"Di dunia premanisme itu saya lakoni dari tahun 1985 sampai 1998. Bukan hanya di satu kota saja tapi di beberapa kota," ucap Dadih.
 
Selama perantauan dan masuk di dunia premanisma, Dadih, sering kali terlibat bentrok dengan preman dari wilayah lain. Perkelahian dan pertikaian kerap terjadi setiap hari hingga akhirnya membawa ia masuk ke penjara.
 
"Berkelahi mah udah tiap hari. Masuk penjara udah bosan saking seringnya. Dulu kan demi perut saya diam di dunia preman," tambah Dadih.
 
Tak main-main, dari pemasukan hasil upeti beberapa toko dan lahan parkir, Dadih bahkan menjerumuskan diri ke dunia Narkoba. Berbagai jenis narkoba pernah dicicipi hingga akhirnya tertangkap polisi dan kembali menghuni hotel prodeo.
 
"Saya masuk penjara itu karena dua hal, kalau tidak berkelahi ya narkoba." ujar Dadih.
 
Setelah merasakan kerinduan ke kampung halaman dan bosan hidup di perantauan, pada 1998, pria dua anak ini memutuskan untuk pulang kampung dan mulai aktif di salah satu organisasi masyarakat. Selain melakukan beberapa kegiatan sosial, ia mencoba menyelami karakter warga yang ada di wilayahnya yakni Desa Mandalagiri.
 
"Saya pulang tahun 1998, dan mulai aktif di masyarakat. Berbaur dengan masyarakat dan menyelami bagaimana karakter masyarakat," papar Dadih.
 
Mengenal kondisi Dan karakter masyarakat itu, memunculkan niatnya untuk ikut terlibat dalam pembangunan desa. Ia berpikir, tidak ada jalan lain untuk membantu kondisi warga yang serbakesulitan yakni dengan menjadi pemimpin.
 
"Saya ingin bantu, tapi tidak punya. Makanya saya niatkan maju di Pilkades tahun 2018. Dan alhamdulilah saya menang karena kepercayaan masyarakat," ucap Dadih.
 
Terpilih Jadi Kades, Dadih Lakukan Reformasi Birokrasi Desa
 
Setelah terpilih dan ditetapkan sebagai Kades, Dadih Leo pun mulai bekerja. Gebrakan pertamanya yakni melakukan reformasi birokrasi dan pembenahan Pelayanan. Ia mengikis habis praktik pungli yang terjadi puluhan tahun di pelayanan desa baik dalam pengurusan KTP, Kartu Keluarga (KK), maupun administrasi kependudukan lainnya.
 
"Pertama saya kikis habis pungli. Haram tanda tangan saya dipakai untuk meminta uang kepada warga. Saya tekankan itu kepada aparatur desa," ujar Dadih.
 
Selain reformasi birokrasi dan perbaikan pelayanan dasar masyarakat, lanjut Dadih, ia melakukan perombakan di tubuh aparatur desa. Ia mengkombinasikan antara tenaga generasi muda dan tua. 
 
Dalam posisi stategis seperti BUMdes, ia tempatkan generasi muda dengan harapan bisa berinovasi dan menciptakan hal baru yang berujung pada peningkatan ekonomi masyarakat.
 
"Saya juga tekankan disiplin kepada aparatur desa. Kami bekerja serius tapi satai jadi tidak kaku," ucap Dadih.
 
Di masa kepemimpinannya sekarang, Dadih ingin menorehkan kebaikan di tengah maayarakat. Paling tidak, kata dia, dengan kebijakan yang ia buat akan menjadi ladang pahala untuk bekalnya nanti di akhirat.
 
"Hidup saya dulu hitam, saya sadar akan mati makanya sekarang mencoba memberikan kebaikan meskipun melalui sebuah kebijakan," pungkas Dadih.
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar