Yamaha

Penerapan Sanksi Bukan Untuk Menyengsarakan Pelanggar Prokes

  Minggu, 17 Januari 2021   Heru Rukanda
Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tasikmalaya, Yogi Subarkah, Minggu (17/1/2021). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

MANGKUBUMI, AYOTASIK.COM -- Kepala Bidang (Kabid) Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tasikmalaya Yogi Subarkah mengatakan, pemberian sanksi sosial maupun denda serta penutupan sementara tempat usaha bagi para pelanggar protokol kesehatan (prokes) tujuannya adalah untuk perubahan perilaku dan bukan untuk menyengsarakan masyarakat.

"Penerapan sanksi itu biar para pelanggar prokes sadar dan berpikir untuk tidak kembali melanggar," ujar Yogi, Minggu (17/1/2021).

Menurut Yogi, pihaknya juga banyak merima keluhan dari para pengusaha terkait pembatasan jam operasional. Mereka menyampaikan aspirasinya, seperti harus mengaji pegawai sementara jam operasional tempat usahanya dibatasi lebih ketat.

"Banyak yang datang ke kantor. Mereka curhat soal kondisi usahanya. Ya kami terima masukan mereka untuk disampaikan ke pimpinan sebagai bahan evaluasi," ucapnya.

Ia menuturkan, dalam menyikapi berbagai keluhan masyarakat pihaknya menindaklanjuti dengan proses sosialisasi. Makanya arahan dari ketua bidang operasi gugus tugas, untuk awal-awal Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak langsung ke penegakan atau tindakan, tapi dilakukan dulu sosialisasi agar masyarakat mengerti.

"Jadi ditahap  awal itu kita gencarkan sosialisasi agar masyarakat paham," tuturnya.

Yogi menyebut, dalam penegakan disiplin prokes di lapangan, pihaknya kerap dihadapkan dengan berbagai macam faktor. Bukan hanya persoalan aturan bisa dilaksanakan atau tidak, tapi banyak alasan-alasan lainnya di  masyarakat seperti perbedaan kultur dan keinginan masyarakat.

"Makanya kita harus jeli untuk memandang permasalahannya seperti apa.  Itu akan berbuah pada sanksi yang diberikan kepada pelanggar," ungkapnya.

Yogi menambahkan, banyak pelaku usaha yang marah-marah saat petugas datang ke tempat usahanya untuk mengecek prokes dan membubarkan kerumunan dan mengingatkan karena melebihi jam operasional.

"Kalau saya baca karena kondisi ekonomi yang berat sekarang. Usaha tidak seperti dulu bisa jalan. Sekarang banyak pembatasan - pembatasan yang dilakukan sehingga wajarlah ada reaksi yang macam-macam dari masyarakat," ujarnya.

Dalam menyikapi reaksi masyarakat seperti itu, pihaknya selalu mengintruksikan dan mengingatkaan agar di lapangan harus lebih sabar dan mengedepankan sikap humanis," ucapnya.

Ia menambahkan, pihaknya kini sedang meramu formula untuk bisa diterapkan dalam operasi penegakan disiplin protokol kesehatan, sehingga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat.

"Masukan dari masyarakat kami tampung sebagai bahan evaluasi ke depannya, guna mencari formulasi yang tepat untuk diterapkan di lapangan," pungkasnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar