Yamaha

Hasil Pandai Besi Ukar Kota Tasik Sempat Dipesan Orang Prancis

  Minggu, 17 Januari 2021   Heru Rukanda
Aa Sumarna, generasi ke 3 Pandai Besi Ukar sedang membuat pahat batu di pondoknya, Jalan Bantarsari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu (17/1/2020). (Ayotasik.com/Heru Rukanda).

BUNGURSARI, AYOTASIK.COM -- Tukang besi atau pandai besi adalah orang yang pekerjaannya membuat alat-alat atau perkakas dari besi atau baja.

Biasanya pandai besi membuat alat-alat untuk bertani seperti cangkul, arit, parang, kapak, pisau, dan lainnya. Bahkan pandai besi mampu membuat senjata tajam seperti golok dan pedang.

Di Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Bantarsari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, sekitar 200 meter dari Simpang 4 Bantar arah ke Gunung Galunggung, terdapat sebuah pondok pandai besi bernama Pandai Besi Ukar.

Lebih kurang 45 tahun, pandai besi Ukar berdiri hingga kini sampai generasi ke 3.

Aa Sumarna (44) cucu dari pak Ukar mengatakan, pandai besi ini didirikan oleh kakeknya sekira 45 tahun lalu. Sepeninggalnya pak Ukar dilanjutkan oleh Jojon yang merupakan anaknya sebagai generasi ke 2.

"Saya generasi ke 3. Pandai besi ini turun temurun," ujar Aa, Minggu (17/1/2021).

Ia menuturkan, di pandai besi tersebut dirinya membuat berbagai perkakas alat-alat pertanian, linggis, bedor, pahat batu (pancir)untuk membelah, pahat beton (luju) dan alat lainnya yang terbuat dari besi.

"Banyak yang buat dari besi per mobil atau baja yang sudah teruji bajanya," ucapnya.

Selain dari besi atau baja per mobil, bahan untuk membuat perkakas juga ada yang dari bering (laher). Untuk membuat sebuah perkakas, bahan berupa besi atau baja dibakar dipembakaran dari arang kayu. Untuk pengapiannya diberi dorongan angin dari blowor agar arang terus menyala.

"Bahan dibakar lebih kurang satu jam, kemudian dipalu untuk menyesuaikan bentuk dan ukuran," tutur Aa.

Ia mengatakan, untuk membuat satu buah perkakas dibutuhkan waktu sekitar 3 hari sampai jadi dan siap digunakan.

"Untuk ongkos pembuatan tergantung dari besar kecilnya dan panjang pendeknya ukuran. Ada yang Rp200.000, Rp300.000, sampai Rp. 400.000, tergantung bahannya juga"ungkapnya.

Aa menambahkan, dirinya juga melayani pembuatan sesuai dengan pesanan konsumen.

"Kalau konsumen ada dari Kawali Kabupaten Ciamis, Sukaraja, Karang Nunggal, dan dari daerah lain di Jawa Tengah. Bahkan di tahun 90-an pernah membuat perkakas pesanan orang Prancis," ujarnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Aa mengaku memang terdampak secara ekonomi. Kendati demikian hingga kini masih ada yang membuat perkakas untuk pertanian maupun pahat batu dan beton."Alhamdulillah masih ada yang pesan untuk dibuatkan perkakas meski jumlahnya berkurang," pungkasnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar