Yamaha

Korban Sunat Bansos Pemprov Jabar Diduga Diintervensi

  Senin, 22 Februari 2021   Irpan Wahab Muslim
Ilustrasi uang untuk bansos (Istimewa)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM --Penerima bantuan sosial (bansos) pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) tahun 2020 asal Kecamatan Sodonghilir diduga mendapatkan intervensi di tengah laporan dan permintaan pendampingan hukum ke LBH Ansor.

Ketua LBH Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Abdul Ropik mengatakan, perkembangan kasus sunat dana bansos yang diterima oleh lembaga pendidikan keagamaan di Kecamatan Sodonghilir, ternyata mendapatkan intervensi.

"Ya, para penerima bansos asal Sodonghilir itu menurut informasi ada yang mengintervensi. Jadi isu yang digelembungkan bahwa ada oknum yang mengaku dari LBH Ansor meminta yang ke penerima sengaja dibuat, agar penerima tidak meminta bantuan pendampingan hukum ke LBH Ansor," ungkap Asep melalui sambungan telepon, Senin (22/2/2021).

Menurut Asep, pelaporannya ke LBH Ansor diganggu supaya dicabut kembali oleh penerima bantuan. Artinya, lanjut Asep, ada indikasi para penerima bansos dari lembaga pendidikan keagamaan di Kabupaten Tasikmalaya itu 'dikunci' supaya menutup informasi dan tidak menyampaikan ke LBH Ansor.

"Jadi sudah jelas kalau penerima tidak tahu sumbernya, siapa yang mengambil atau memotong uangnya. Jadi kuncinya ditutup, orang yang diduga menutup ini masih bersangkutan dengan jaringan yang menjadi oknum yang memotong bansos ini, sama seperti yang di Sukarame," jelas Asep.

Menurut Asep, ada satu orang inisial E yang diduga menjadi pengepul yang memotong dana bansos tersebut di Kabupaten Tasikmalaya, seperti di Sukarame, Sodonghilir, Sukaraja dan lainnya. E ini adalah orang di atas oknum yang disebut Subarkah dan oknum di bawah lainnya.

"Pada intinya ketika kasus pemotongan penerima bansos di Kecamatan Sukarame dilakukan pendampingan hukum oleh LBH Ansor, akan merembet ke penerima-penerima bantuan lainnya, makanya ada terkesan pemaksaan untuk ditutup," papar Asep.

Dengan kondisi tersebut, tambah Asep, LBH Ansor tidak akan mundur dan akan terus mengawal tujuh lembaga pendidikan keagamaan yang dipotong bansosnya sampai selesai.

"Kita akan sekuat tenaga, yang sudah kerja keras sejak awal melakukan pendampingan hukum. Karena kuncinya kasus pemotongan dana hibah bansos ini berlanjut sampai tuntas adalah penanganan pemotongan yang terjadi di Kecamatan Sukarame, yang sudah masuk ke kepolisian," terang Asep

Asep mengakui, ada keinginan dari LBH Ansor agar pengawalan kasus pemotongan dana hibah bansos ini dilakukan juga di kejaksaan. Pasalnya, andai dilakukan di tengah, tidak akan sekuat yang dilakukan pendampingannya. Dia khawatir ada orang yang mendampingi penerima saat dilakukan penyelidikan di kejaksaan.

"Mudah-mudahan, nanti ke depan ada pihak penerima yang melaporkan lagi ke LBH, walaupun diam-diam akan tetapi nanti bisa disampaikan hasilnya sekaligus ke media. Ya intinya, kasus ini tidak dipeti-eskan atau menguap," papar Asep.

Asep mengatkan, hari ini LBH Ansor sudah menerima informasi bahwa penerima dana bansos asal Kecamatan Sodonghilir diperiksa dan diklarifikasi oleh pihak kejaksaan. Terindikasi dari belasan penerima di Sodonghilir ada yang mengawal sehingga tidak mau datang ke LBH Ansor.

"Bahkan ada informasi juga, orang yang diduga mengawasi belasan penerima asal Kecamatan Sodonghilir ini juga tengah mengganggu ke penerima bansos asal Sukarame agar tidak melanjutkan laporan dan pendampingan hukum ke LBH Ansor," tambah Asep.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar