Yamaha

Aliran Air Bawah Tanah Diduga Picu Pergerakan Tanah di Cigorowong

  Jumat, 26 Februari 2021   Heru Rukanda
Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meninjau lokasi pergerakan tanah di Kampung Cigorowong, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jumat (27/2/2021). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

TAMANSARI, AYOTASIK.COM -- Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meninjau lokasi pergerakan tanah di Kampung Cigorowong, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jumat (27/2/2021).

Kasi kedaruratan dan logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya Erik Yowanda mengatakan, berdasarkan pemantauan awal secara visual  bersama dengan tim dari badan geologi, terdapat aliran air permukaan yang tidak dipelihara dengan baik, sehingga menjadi salah satu faktor penyebab pergerakan tanah.

"Pemantauan awal memang jenis tanahnya harus diteliti juga, karena ada aliran air di bawah tanah yang bergerak.
Jadi di bawah itu ada sumber-sumber air yang mungkin menjadi salah satu sumber penyebab pergerakan tanah,"ujar Erik, Jumat (27/2/2021).

Di samping itu, faktor lain yang diduga menjadi penyebab pergerakan tanah adalah kurangnya pemeliharaan lingkungan, seperti tidak ada penanaman pohon untuk meminimalisir potensi bahaya di sekitar lokasi.

"Berdasarkan informasi dari badan geologi, memang ada 2 jenis gerakan tanah yaitu gerakan tanah yang cepat dan lambat. Nah yang di Cigorowong ini masuk ke gerakan tanah yang lambat," ucapnya.

Erik menuturkan, kajian tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk melihat seberapa besar potensi bahaya yang ada di lingkungan, sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah perlu dilakukan pemindahan rumah-rumah warga secara instan yang berpotensi terdampak pergerakan tanah.

"Yang lebih penting lagi adalah sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk mengubah pola pikir, agar di mana pun tinggal apalagi di daerah rawan bencana, supaya dapat menjaga lingkungan tetap lestari dan alam pun menjaga manusia dari bencana yang berpotensi terjadi," tuturnya.

Lebih lanjut Erik menjelaskan, areal pergerakan tanah yang ditinjau dan dilakukan kajian geologi sekira satu kilo meter yang meliputi 2 RT.

"pergerakan tanah hampir setiap minggu terjadi di Kampung Cigorowong. Tadi saja pergerakan tanah sudah bertambah lagi penurunan permukaan tanahnya. Awalnya kan 2 meter kini menjadi 2, 5 meter," ungkapnya.

Ia menambahkan, dampak dari pergerakan tanah tersebut setidaknya ada bebeapa rumah yang mengalami kerusakan. Pada awal kejadian rumah-rumah warga yang terdampak hanya mengalami rusak ringan. Namun, karena membahayakan sehingga rumah yang terdampak dirubuhkan dan penghuninya pindah. 

"Untuk hasil kajian badan geologi belum tahu kapan keluarnya. Nanti saya kabari kalau sudah keluar hasilnya," pungkas Erik.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar