Yamaha

Pandemi Covid-19 Tingkatkan Risiko Remaja Perempuan Menikah Dini

  Senin, 08 Maret 2021   Republika.co.id
ilustrasi pernikahan anak. (Pixabay)

JENEWA, AYOTASIK.COM -- Badan Anak-anak PBB (Unicef) menyatakan, pandemi Covid-19 dapat meningkatkan jumlah pernikahan anak, bahkan diprediksi hingga 10 juta penambahan. Remaja perempuan pun, menurut Unicef, yang paling rentan mengalami pernikahan dini.

"Penutupan sekolah, tekanan ekonomi, gangguan layanan, kehamilan dan kematian orang tua karena pandemi membuat remaja perempuan yang paling rentan berisiko tinggi menikah di bawah umur," kata sebuah penelitian berjudul Covid-19: Ancaman Kemajuan Melawan Pernikahan Anak, dikutip laman Channel News Asia, Senin (7/3).

Jika dikonfirmasi, tren tersebut akan menunjukkan kemunduran serius dari kemajuan beberapa tahun belakangan ini melawan perkawinan anak. Dalam 10 tahun terakhir, menurut penelitian tersebut, proporsi perempuan muda secara global yang menikah dalam usia anak telah menurun sebesar 15 persen, dari hampir satu dari empat menjadi satu dari lima.

"Kemajuan itu sekarang berada di bawah ancaman", kata penelitian tersebut, yang dirilis pada Hari Perempuan Internasional.

Menurut direktur eksekutif Unicef Henrietta Fore, Covid-19 telah membuat situasi yang sudah sulit bagi jutaan anak perempuan menjadi lebih buruk. "Sekolah-sekolah yang ditutup, isolasi dari teman-teman dan jaringan pendukung, dan meningkatnya kemiskinan telah menambah bahan bakar ke dalam api yang sudah berjuang untuk dipadamkan dunia," tutur Fore.

Anak perempuan yang menikah di masa kanak-kanak, kata penelitian tersebut, lebih mungkin mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan kecil kemungkinannya untuk tetap bersekolah. Mereka menghadapi peningkatan risiko kehamilan dini dan tidak direncanakan, serta komplikasi dan kematian ibu.

Isolasi dari keluarga dan teman-teman dapat berdampak berat pada kesehatan mental mereka. Sementara itu, pembatasan perjalanan terkait pandemi dan jarak sosial telah mempersulit anak perempuan untuk mengakses perawatan kesehatan, layanan sosial, dan dukungan komunitas yang melindungi mereka dari pernikahan anak, kehamilan yang tidak diinginkan, dan kekerasan berbasis gender, serta sekaligus membuatnya lebih mungkin terjadi mereka bakal putus sekolah.

Selain itu, keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi mungkin berupaya menikahkan putri mereka untuk meringankan beban keuangan. Laporan tersebut memperkirakan bahwa 650 juta anak perempuan dan perempuan yang hidup saat ini menikah pada usia anak, sekitar setengah dari mereka berada di Bangladesh, Brasil, Ethiopia, India atau Nigeria.

Fore menyerukan negara-negara untuk membuka kembali sekolah, menerapkan reformasi hukum, memastikan akses ke layanan kesehatan dan sosial sambil memberikan langkah-langkah untuk melindungi keluarga. "Dengan melakukan itu, kami dapat secara signifikan mengurangi risiko seorang gadis dicuri masa kanak-kanaknya melalui pernikahan anak," kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar