Yamaha

Pamijahan Tetap Jadi Tujuan Peziarah di Masa Pandemi Covid-19

  Jumat, 12 Maret 2021   Irpan Wahab Muslim
Objek wisata religi Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

BANTARKALONG, AYOTASIK.COM -- Objek wisata religi Pamijahan Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. Bukan hanya peziarah dari wilayah Tasikmalaya, mereka bahkan datang dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meskipun di tengah pandemi Covid-19, tidak mengurungkan niatnya untuk berziarah ke makam seorang ulama besar penyebar islam yakni Syeikh Abdul Muhyi tersebut. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat.

Disadur dari beberapa sumber, Pamijahan tidak terlepas dari sosok Syeikh Abdul Muhyi saat melakukan pengembaraan. Saat usia 27 tahun, beliau beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya, Syeikh Abdul Rouf bin Abdul Jabar untuk menunaikan ibadah haji.

Saat di Baitullah, gurunya itu mendapatkan ilham yang menyebut bahwa salah satu santrinya ada yang akan mendapatkan pangkat kewalian.

Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda, maka Syeikh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya itu pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana. Suatu saat sekitar waktu asar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Syeikh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya sebagai tanda-tanda tersebut.

Syeikh Abdur Rauf pun membawa mereka pulang ke Kuala (Saat ini Aceh) pada tahun 1677 M. Sesampainya di Kuala, Syeikh Abdul Muhyi disuruh pulang ke Gresik untuk minta restu dari kedua orang tua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di sana. Sebelum berangkat mencari gua, Syeikh Abdul Muhyi dinikahkan oleh orang tuanya dengan “Ayu Bakta” putri dari Sembah Dalem Sacaparana.

Setelah pernikahan, beliau bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Syeikh Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun terhitung dari tahun 1678 hingga 1685 M. Kabar tentang menetapnya Syeikh Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

Syeikh Abdul Muhyi berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya Syeikh Abdul Rauf dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah. Padahal petunjuk dari gurunya itu, Gua yang dicari akan ditemukan jika di suatu tempat ditanami padi hasilnya tetap sebenih, artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada.

Karena tidak menemukan gua yang dicari, Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk yang termasuk wilayah Kabupaten Garut saat ini. Di sini beliau bermukim selama 1 tahun antara tahun 1685-1686 M, untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu.

Setahun kemudian ayahandanya Sembah Lebewarta Kusumah meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, beliau melanjutkan perjalanan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi. Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun yakni 1686-1690 M.

Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, beliau tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas gunung kampung Cilumbu. Akhirnya beliau turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi.

Pada suatu hari, Syeikh Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat. Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga goa yang dicari segera ditemukan.

Sewaktu Syeikh Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicau burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya.

Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, di mana di tempat ini dahulu Syeikh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.

Goa yang sekarang di kenal dengan nama Goa Pamijahan adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Syeikh Abdul Muhyi. Gua ini terletak di antara kaki Gunung Mujarod. Sejak goa ditemukan Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim di sana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, beliau juga menempuh jalan tarekat. 

Objek wisata religi Pamijahan sampai saat ini menjadi tujuan para peziarah meskipun di tengah pandemi Covid-19. Dengan protokol kesehatan yang ketat, para peziarah tetap mamadati makam Syeikh Abdul Muhyi untuk mencari keberkahan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar