PROFIL PESANTREN: Pesantren Cipasung Berdiri Sejak 1931 oleh Ulama Cinta Ilmu

  Selasa, 16 Maret 2021   Irpan Wahab Muslim
Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM - Kabupaten Tasikmalaya bisa dibilang gudangnya pesantren. Ratusan pesantren nyaris berada di setiap pelosok desa, mulai dari pesantren salafiah, atau tradisional hingga pesantren modern. Jumlah santrinya pun beragam, mulai dari puluhan hingga ribuan orang.

Salah satu pesantren yang terbilang cukup besar dan dihuni oleh ribuan santri, yakni pesantren Cipasung Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.

Di pesantren ini, para santri tidak hanya mendapatkan pembelajaran agama melaluiĀ  kitab kuning, tetapi juga keilmuan umum dengan adanya beberapa lembaga pendidikan mulai dari madrasah Ibtidaiyah hingga universitas.

Santri yang menimba ilmu, tidak hanya datang dari wilayah sekitar pondok pesantren, tetapi juga dari kota-kota lain di Indonesia.

Pesantren Cipasung didirikan oleh K.H. Ruhiat pada tahun 1931. Saat pendiriannya, santri hanya berjumlah 40 orang. Kebanyakan, santrinya merupakan warga sekitar pondok pesantren atau disebut juga santri kalong.

Salah satu keluarga Pesantren Cipasung, Hariyadi Ahmad Satari menuturkan, dalam mengajarkan ilmu di Pesantren, K.H. Ruhiat menggunakan metode ngalogat dengan menggunakan bahasa Sunda. Itu dilakukan karena santrinya banyak warga sekitar yang sehari-hari menggunakan bahasa sunda.

Selang 4 tahun setelah pendirian dan didorong oleh rasa cinta terhadap ilmu, pada tahun 1935, K.H. Ruhiat mendirikan madrasah diniyah. Sekolah pertama itu, sebagai wadah pembinaan agama terhadap anak-anak usia muda.

Di samping mengajar para santri dan mengurus masyarakat, K.H. Ruhiat terus melakukan pengembangan lembaga pendidikan. Pada tahun 1937, didirkan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin sebagai wadah untuk berlatih pidato, dakwah, serta musyawarah. Pembentukan kursus itu, karena banyak santri yang sudah beranjak dewasa dan pengkaderan dakwah Islam.

"Jadi, kursus itu sebagai pengkaderan mubalig atau pendakwah. Lembaga untuk untuk mencetak generasi dakwah," ucap Hariyadi, Selasa (16/3/2021).

Paska-kemerdekaan RI atau pada tahun 1949, pembentukan dan pendirian lembaga pendidikan kembali dilakukan dengan membuka Sekolah Pendidikan Islam (SPI).

Di samping pendidikan agama , di SPI ini juga diberikan pengetahuan umum, lima tahun kemudian, yaitu tahun 1953 sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI).

Karena kecintaan terhadap ilmu, K.H. Ruhiat terus-menerus mendirikan lembaga pendidikan. Pada akhir tahun 1953, didirikan Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB), dan sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Sebagai kelanjutan Madrasah Ibtidaiyyah dan Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI), pada tahun 1959 didirikan Sekolah Menegah Atas Islam (SMAI).

"Beliau mendirikan perguruan tinggi Islam pada tanggal 25 September 1965 dengan Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Islam (PTI) Cipasung dibuka," ucap Heriyadi.

Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pada tahun 1970 didirikan pula Fakultas Ushuludin filial Cipasung.

Pada tanggal 28 November 1977 M /17 Dzulhijjah1397 H, K.H. Ruhiat wafat. Perjuangan dalam membina umat dan menularkan ilmu kepada masyarakat luas diteruskan putra K.H. Ilyas Ruhiat.

Pada kepemimpinan K.H. Ilyas Ruhiat, sekitar tahun 1982 didirikan Biro Pengembangan dan Pengambdian Masyarakat (BP2M) dengan Akta Notaris nomor 45 tahun 1982. Pada tahun itu pula didirikan Koperasi Pondok Pesantren Cipasung.

Pada tahun 1982 didirikan Fakultas Syariah sebagai pelengkap Fakultas Tarbiyyah yang sudah ada sebelumnya. Pada perjalanannya ditambahkan pula Fakultas dakwah serta nama Perguruan Tinggi Islam Cipasung diubah menjadi Institut Agama Islam Cipasung (IAIC).

Pada tahun 1992 didirikan Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Cipasung. Pada tahun 1997 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC). Pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cipasung atau yang sekarang bernama Universitas Cipasung.

"Pada tahun 2003 didirikan pula Taman Kanak-Kanak Cipasung yang diubah namanya pada tahun 2018 sebagai Taman Kanak Islam Siti Aisyah Cipasung, " tambah Hariyadi.

Pada tahun 2007 K.H. Ilyas wafat dan perjuangan dilanjutkan oleh K.H. Dudung Abdul Halim sebagai pimpinan Pondok Pesantren Cipasung.

Pada tahun 2011 didirikan Program Pasca-Sarjana Institut Agama Islam Cipasung dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Pada tahun itu didirikan pula Sekolah Menengah Kejuruan Islam (SMKI) Cipasung.

Pada awal tahun 2012 K.H. Dudung Abdul Halim wafat dan perjuangan dilanjutkan oleh K.H. Abun Bunyamin Ruhiat hingga saat ini. Pada tahun 2012 dibuka Program Studi Manajemen Pendidikan Islam pada Program Pasca-Sarjana Institut Agama Islam Cipasung.

"Kalau total santri yang mondok dan belajar di Cipasung sekitar 2.000 santri. Kami akan terus berupaya ikut mengembangkan keilmuan dan menjaga keilmuan islam," kata Ujar Hariyadi.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar