Yamaha

9 Pesantren di Tasikmalaya Paling Populer

  Rabu, 21 April 2021   Irpan Wahab Muslim
Pesantren Cipasung. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

SINGAPARNA, AYOTASIK.COM -- Tasikmalaya bisa dikatakan sebagai kota seribu pesantren atau kota santri. Hal ini dilihat dari banyaknya berdiri pondok pesantren mulai dari salafi hingga pondok pesantren modern. Pondok pesantren ini bahkan bisa dikatakan ada di setiap Kecamatan. Dari sekian banyak pesantren, berikut 9 pesantren di Tasikmalaya yang cukup populer dan terkenal hingga ke berbagai wilayah.

Pesantren Cipasung

Salah satu pesantren yang terbilang cukup besar dan dihuni ribuan santri yakni pesantren Cipasung Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Di pesantren ini, para santri bukan hanya mendapatkan pembelajaran agama melalui  kitab kuning, tetapi juga keilmuan umum dengan adanya beberapa lembaga pendidikan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Universitas.

Santri yang menimba ilmu, bukan hanya datang dari wilayah sekitar pondok pesantren, tetapi juga dari kota-kota lain di Indonesia. Pesantren Cipasung didirikan KH Ruhiat pada tahun 1931. Saat pendiriannya, santri hanya berjumlah 40 orang. Kebanyakan, santrinya merupakan warga sekitar pondok pesantren atau disebut juga santri kalong.

Pesantren Sukahideung

Pondok Pesantren Perguruan KH Z. Musthafa Sukahideng didirikan pada masa penjajahan Belanda tahun 1341 H bertepatan dengan tahun 1922 M oleh KH M. Zainal Muhsin. Sepulangnya dari menuntut ilmu, pada tahun 1922 KH M. Zainal Muhsin mendirikan Pesantren di Kampung Bageur yang bernama Pesantren Sukahideng.

Tanah yang ditempati pesantren merupakan wakaf untuk dijadikan masjid dan sarana berdakwah. Selain aktif menjadi pengasuh pesantren di tempatnya, ia juga rajin memberi pengajian ke kampung-kampung sekitar, seperti Desa Sukarapih maupun di luar desa. KH Zainal Muhsin Wafat pada tahun 1938.

Karena putra pertama beliau, yaitu KH A. Wahab Muhsin masih berusia 17 tahun, maka kepengurusan Pesantren dipimpin oleh salah seorang menantu KH Zenal Muhsin, yaitu KH Yahya Bahtiar Afandi sampai dengan tahun 1945. Dan dari tahun 1945 sampai dengan tahun 2000 pesantren dipimpin oleh KH A. Wahab Muhsin. Mulai dari tahun 1989 KH M.A. Wahab Muhsin sakit, maka kepemimpinannya dilimpahkan kepada adik beliau yang keenam KH Moh. Syihabuddin Muhsin.

Pada bulan Januari 2007 KH Moh. Syihabuddin Muhsin wafat, maka kepemimpinan Pondok Pesantren Sukahideng  diteruskan oleh putra sulung KH Wahab Mushsin, yaitu Prof. Dr. KH T. Fuad Wahab sampai sekarang. Di pesantren ini, ada dua pendidikan, yakni formal dan non-formal. Untuk pendidikan formal di antaranya Madrasah Ibtidaiyah, MTs, SMK, dan Diniyah Takmiliah. Sedangkan untuk pendidikan non-formalnya, yakni Madrasah Diniyah, Tahfidzil Qur’an dan Tahassus Pendalaman Kitab Kuning. Saat ini, sedikitnya 2.000-an santri dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat dan luar Jawa tengah menimba ilmu di pesantren ini.

Pesantren Sukamanah

Pesantren Sukamanah di Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal di Kabupaten Tasikmalaya. Pesantren Sukamanah didikan oleh K.H. Zainal Musthafa pada tahun 1927. KH Zainal Musthafa lahir Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan Singaparna tahun 1899 dari pasangan Nawapi dan Ratmah yang merupakan petani dengan ketaatan beribadah yang cukup tinggi dan kecintaan terhadap agama.

Saat ini, kampung tempat kelahirannya tersebut masuk ke wilayah Kecamatan Sukarame setelah adanya pemekaran. Nama kecil KH Zainal Musthafa, yakni Hudaeni. Namun, setelah menunaikan ibadah haji pada 1927, nama Hudaeni berganti menjadi Zainal Musthafa. Sejak remaja, dia kenyang dengan pendidikan keagamaan.

Setelah menamatkan di sekolah rakyat (SR), dia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Gunung Pari di bawah asuhan kakak sepupunya, KH Zainal Muhsin. Pada tahun 1927, KH Zainal Musthafa mendirikan Pondok Persantren di Kampung Cikembang dengan nama Pondok Pesantren Sukamanah di atas tanah wakaf untuk rumah dan masjid dari seorang janda dermawan bernama Hj Siti Juariah.

Dengan berbekal Ijazah Sekolah Rakyat dan ilmu-ilmu yang diraihnya dari beberapa pesantren selama 17 tahun, beliau memimpin pesantren ini selama kurang lebih 17 tahun. Dalam kurun waktu itu KH Zainal Musthafa mampu mencetak ratusan santri menjadi ‘alim yang sanggup dan cakap memberikan pelajaran agama di tempat/kampung halamannya masing-masing.

Pesantren Cintawana

Pesantren Cintawana yang berada di Desa Cikunten, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya disebut-sebut sebagai salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya yang didirikan oleh KH Muhammad Toha pada 12 April 1917.

Jauh sebelum mendirikan pesantren Cintawana, KH Muhammad Toha mendirikan Pesantren Cipansor di Desa Buniasih, Kecamatan Ciawi pada tahun 1812. Namun karena intervensi Belanda kala itu, pesantren terpaksa dipindah domisili ke Singaparna, Dengan berbagai halangan dan rintangan pada masa kolonial, KH Muhammad Toha mampu mendirikan dan mengembangkan Pesantren Cintawana.

Hingga pada tahun 1945, KH Muhammad Toha wafat dan kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh putra sulungnya yakni KH Ali. Pada masa kepemimpinan KH Ali atau periode 1948 hingga 1958, Pesantren Cintawana menetapkan sistem pengajaran yang berbeda dengan pesantren lainnya dengan kegiatan majelis taklim.

Hal ini lantaran, santri maupun pengasuh pesantren ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan tergabung dalam barisan Sabilillah dan Hizbullah. Pada periode itu pula, Pesantren Cintawana sempat dijadikan markas perjuangan TNI. KH Ishak Farid wafat pada 1987 di usia 63 tahun. Perjuangan mengembangkan Pesantren Cintawana diteruskan oleh adik kandungnya KH Onang Zaenal Muttaqin, dibantu oleh keluarga di antaranya KH Adang Sofyan, KH Aep Saepulloh, KH A Rosidin, dan KH Asep Sujai.

Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah

Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah yang berlokasi di Kp. Condong Rt.01 Rw.04 Kel. Setianegara Kec. Cibeureum Kota Tasikmalaya merupakan salah satu pondok pesantren tertua yang ada di Tasikmalaya. Pesanten itu, didirikan sekitar tahun 1864 oleh KH Nawawi yang berasal dari kampung Sukaruas Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya.

Awal mula pendirian pesantren ini, memberlakukan sistem pendidikan klasikal yang mengkhususkan diri pada pengajian kitab-kitab klasik ulama-ulama terdahulu. Pesantren ini berdiri diatas area 4 hektar tanah dengan fasilitas asrama putra, asrama putri, gedung sekolah, masjid, musala, fasilitas lab, fasilitas olahraga, lahan perkebunan, lahan perikanan, MCK dll.

Pada awalnya pesantren ini hanya mengajarkan kitab kuning, hingga sudah banyak alumninya yang menjadi pejuang penyebar agama di berbagai daerah yang datang dari pelosok nusantara dan luar negeri. Sejak tahun 1985 pondok pesantren ini sudah mulai memadukan kurikulum pondok pesantren dengan kurikulum gontor, dan sejak tahun 2001 sudah memadukan dengan kurikulum pendidikan Nasional,yaitu  SMP Terpadu. Mulai 2003-2004 dibuka SMA Terpadu dengan program lanjutan dari SMA Terpadu dan Program Intensif (SMP dari luar).

Sama seperti halnya SMP Terpadu, SMA Terpadu juga paduan dari kurikulum Pendidikan Nasional, Kurikulum Pondok Pesantren dan kurikulum Gontor. Pada Tahun 2017 didirikan Sekolah Tinggi Imu Adab dan Budaya Islam (STIABI) Riyadlul Ulum dengan dua prodi , Bahasa Dan Sastra Arab dan Sejarah Peradaban Islam.

Pesantren Al Furqon

Pesantren Al Furqon yang berada di Jalan Raya Barat No 21A Desa Cikunten, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya bisa menjadi pilihan untuk menimba ilmu agama dan umum.

Bukan hanya pondok pesantren, ada juga sekolah tingkat MTs dan Madrasah Aliyah. Kurikulum Pesantren Al Furqon sendiri menyesuaikan dengan kebutuhan persyarikatan dan umat, mengimbangi perubahan sosial sekaligus memberikan solusi terhadap kelangkaan kader mubalig, kader persyarikatan, terutama kader ulama tarjih.

Dasar kurikulum yang dikembangkan, yakni menyatukan antara ilmu Qur’ani dengan pengembangan bahasa Arab dan bahasan Inggris dengan pengetahuan kontemporer ilmu alam, sosial budaya, matematika, informatika, literature, dan produktif melalui Dirasah Annusush Arabiyah yang dikembangkan. Lama pendidikan di pesantren ini, yakni 6 tahun. 3 tahun pertama setingkat Mts (Madrasah Tsanawiyah dan 3 Tahun berikutnya setingkat MA.

Pesantren Darussalam

Pendirian Pondok Pesantren Darussalam yang berada di Desa Tanjungpura, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya bersamaan dengan proses pendirian Pendidikan Formal Menengah SMP Terpadu Darussalam. Berdirinya pondok Pesantren Darussalaman itu, bermula dari sebuah kandang ayam yang berkapasitas 3000-3500 ekor pada 23 maret 2007.

Dengan izin Allah dan dukungan kuat dari masyarakat serta cita – cita tinggi dari Pendiri Pondok Pesantren dalam waktu yang relatif sangat singkat kira-kira empat bulan masyarakat berjibaku membangun dengan tanpa upah. Kandang ayam tersebut menjelma menjadi sebuah Pesantren dan lembaga Pendidikan Formal Menengah SMP Terpadu Darussalam seperti harapan masyarakat.

Kata Darussalam bagi nama Pesantren diambil dari sebuah harapan besar Pendiri Pondok kelak Pesantren tersebut menjadi pesantren kebanggaan seperti Pondok Modern Darussalam Gontor Jawa Timur yang menjadi almamaternya. Kedua, makna dari Darussalam berarti Kampung Damai diharapkan Pesantren Darussalam mempunyai peran besar dalam kehidupan masyarakat di Indonesia yang membawa kedamaian. Ketiga, dengan tidak merendahkan nama Darussalam diambil dari kata yang mudah dicerna oleh masyarakat. Sesuai dengan asal mulanya tempat dari kandang ayam, Darul Ayam menjadi Darussalam serta Kampung Damai.

Pesantren Al Amin

Berdirinya pesantren Al Amin di Kelurahan Tanjung Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya tidak terlepas dari peran H. Zarkasyie seorang pengusaha Bordir Tjiwulan pada tahun 1985 lalu. Uniknya lagi, segala fasilitas penunjang santri murni dibangun berasal dari usaha bordir yang dimilikinya.

Tahun 1985 Pesantren Al-Amin berada dalam naungan Yayasan Pendidikan Islam Tjiwulan (YPI Tjiwulan). Pada tahun 2000, YPI Tjiwulan berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Amin, dengan pertimbangan jumlah santri dan unit usaha yang terus bertambah. Meski terhitung baru, sebenarnya YPI Tjiwulan sudah jauh berdiri dengan adanya Lembaga Pendidikan Bordir (LPB) Tjiwulan pada 1978.

Setelah wafatnya H Zarkasyie, YPI Al-Amin dilanjutkan putranya, KH Wawan Setiawan. Di tangannya, YPI Al-Amin melakukan berbagai inovasi. Santri tidak hanya diajarkan pendidikan secara formal, tetapi juga pendidikan secara keterampilan.

KH Wawan yang alumni Mesir dapat membuka jalur ekspor bordir Tjiwulan sampai ke Timur Tengah. Kemajuan ini yang juga sedikit banyak berpengaruh membuat Pesantren Al-Amin mampu melakukan inovasi di atas. Meskipun lahir dari rahim bisnis, Pesantren Al-Amin tetap mendahulukan nilai-nilai kepesantrenan. Santri Al-Amin yang berjumlah 794 orang tetap mendapatkan pengajian kitab-kitab kuning. Pada paginya, mereka mendapatkan asupan pendidikan formal, siang sampai malamnya mendapat ilmu-ilmu kepesantrenan.

Pesantren Nurul Wafa

Salah satu pondok pesantren yang terus berkembang dan berperan aktif dalam pengembangan ilmu agama dan ilmu lainnya di Kabupaten Tasikmalaya yakni Pesantren Nurul Wafa Gununghideung yang terletak di jalan KH Moch. Idris Desa Sukarame, Kecamatan Sukarame. Pondok Pesantren Nurul Wafa Gununghideung didirikan tahun 1977 oleh KH Mochamad Idris dan KH Asep Mochamad Saefulloh.

Awal pendirian, pesantren ini hanya mempunyai 12 ruangan atau yang biasa disebut kobong, masjid kecil, dan madrasah. Pondok Pesantren Nurul Wafa merupakan pesantren kecil yang dikelilingi oleh gunung. Namun, dengan didasari oleh kesungguhan, pada tahun 1995 mulailah dibuka akses jalan masuk ke Pondok Pesantren, yaitu dengan dibangunnya jalan yang saat ini pun dijadikan jalur utama memasuki area Pondok Pesantren Nurul Wafa.  

Dalam mengembangkan pesantren, Pondok Pesantren Nurul Wafa mengalami pasang-surut. Bahkan, pernah hanya tersisa satu santri. Namun, hal itu tidak menjadi alasan KH Mochamad Idris dan KH Asep Mochamad Saefulloh untuk berhenti mengembangkan syiar keilmuan agama islam.  

Sikap dan perhatian sesepuh pesantren terhadap santrinya sangatlah besar. Beliau curahkan seluruh perhatiannya terhadap keberhasilan pendidikan santri di pesantren. Hal ini beliau buktikan dengan berbagai cara mulai dari mengajari ilmu-ilmu agama yang memang telah beliau lakukan semenjak pulun tahun silam, hingga membangun seluruh fasilitas yang berada di Pondok Pesantren Nurul Wafa yang mencakup asrama putra, asrama putri, wc, taman, masjid, danfasilitas-fasilitas lainnya.  

Seiring dengan perkembangan keilmuan baik agama maupun umum, pada tahun 2005 mulailah didirikan lembaga formal dengan nama SMA Nurul Wafa. Kemudian pada tahun 2008 lembaga formal lainnya turut didirikan dengan nama SMK Nurul Wafa. Pada saat itu, jumlah santri mulai bertambah bahkan berlipat-lipat.  

Tahun demi tahun perkembangan Pesantren Nurul Wafa terhitung cepat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya kepercayaan masyarakat untuk memasukkan putra/putrinya sebagai peserta didik di Pondok Pesantren Nurul Wafa sehingga padata hun 2011, Syekhuna beserta putra-putranya menggagaskan pendirian lembaga formal baru dengan nama SMP Gunung hideung. Ketiga lembaga, yakni SMA Nurul Wafa, SMK Nurul Wafa, dan SMP Gunung hideung merupakan lembaga yang berada di bawah satu naungan dan satu kepemilikanya itu Yayasan Pondok Pesantren Nurul Wafa.

Ketiga lembaga ini dapat berjalan secara sinergis dengan Pondok Pesantren karena seluruh pembinaan, pengawasan, dan pembangunan dijalankan secara langsung keluarga Almarhum KH Asep Mochamad Saefulloh tanpa campur tangan pihak luar sehingga pesantren benar-benar murni dapat menjalankan tujuan utamaya itu membangun insan berkepribadian luhur, berilmu, dan beramal.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar